
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam pendengar semua di mana pun berada. Inoxu dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung hadir kembali di malam yang dingin tanpa hujan ini."
Untuk siaran kali ini aku bersikap sedikit formal dikarenakan adanya kunjungan dari pemilik radio tempatku bekerja. Jaga image lah ya!
"Selama satu setengah jam ke depan, kami akan menyuguhkan kisah-kisah hidup dari narasumber pendengar setia radio Rebel. Sebagai pembuka, satu tembang lawas dari Hetty Koes Endang dengan Berdiri Bulu Romaku, permintaan dari pendengar Rafina untuk menemani kita semua malam hari ini. Selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan memilih beberapa pesan masuk yang telah diseleksi oleh Gia. Setelah tersambung dengan narasumber, aku memintanya untuk menunggu sejenak.
"Berdiri, Mak, Bulu Romaku. Wo, yoo! Semua tepuk tangan! Hey-ah! Ee-ah!" seruku lantang. Sesaat aku lupa jika ada orang nomor satu di radio ini yang ikut dalam siaran, karena terbawa suasana lagu yang menyenangkan. Tatapan mata Gia dan Remi-lah yang menyadarkanku.
"Itulah Hetty Koes Endang dengan Berdiri Bulu Romaku. Lagu ini berjaya pada jamannya dan kayanya masih oke didengarkan di jaman sekarang. Yak! Seperti yang sudah kita semua tunggu, di ujung sambungan sudah ada narasumber kita yang akan berbagi cerita. Halo? Dari siapa dan di mana?"
"Halo Teh Inoxu, ini dengan Suci di Cicaheum."
"Silakan Teh Suci," ucapku mempersilakan.
"Saya baru aja pindah ngontrak ke rumah baru. Saya ibu dari satu orang putra berusia enam tahun."
"Rumahnya horor nih pasti," selaku.
"Bener banget Teh. Kami pindah ke rumah baru waktu anak saya berumur empat tahun. Malam pertama di rumah, anak saya ngga bisa tidur dan nangis terus sambil nunjuk ke atas lemari. Katanya ada yang ngeliatin. Karena takut, dia minta pindah tidur di ruang tv, ngga mau di kamar. Ya udah, saya dan suami ikutin daripada semalaman ngga tidur. Eh di ruang tv anak saya nangis lagi. Kali ini dia ngeliat ke arah pintu tengah yang menuju ke dapur. Katanya ada kakak-kakak yang lagi duduk di atas lubang angin jendela. Kakak-kakak itu dari tadi ngeliatin dia terus sambil melambaikan tangan."
"Dadah-dadah gitu?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya Teh. Saya sebetulnya takut setengah ma*ti, tapi saya kan harus nenangin anak. Jadi saya bilang ke anak saya supaya bilang ke kakak-kakak itu kalau kami semua penghuni baru di rumah ini dan jangan diganggu. Ngga lama, anak saya mulai tenang dan bisa tidur walaupun sepanjang tidur harus dipeluk."
"Anak Teteh, indigo gitu, Teh?" tanyaku lagi.
"Mungkin ya Teh. Saya kurang paham. Sebelum pindah ke sini juga, anak saya sering main dan bicara sendiri. Katanya ada temen sebaya di kamar yang kami tempati. Ngga mau kalau diajak tidur siang tuh, alesannya di ajak main sama abang. Pernah nih Teh, saya iseng nanya ke keponakan yang bisa ngeliat hal-hal kaya gitu. Dan kata keponakan saya, emang ada anak kecil botak seumuran anak saya yang suka ngajak main."
"Terus Teh Suci jadinya tetep tinggal di rumah serem itu atau pindah?"
"Tetep di sini kok Teh. Selama semingguan-lah anak saya masih suka nangis jejeritan kalau malam. Tapi lama-kelamaan mah ngga. Malah sekarang udah selow banget. Kami udah dua tahun di sini. Dan alhamdulillah masih baik-baik aja."
"Alhamdulillah, ikut lega dengernya. Ada lagi Teh Suci?"
"Paling gitu aja Teh. Makasi ya Teh? Udah dikasih kesempatan berbagi cerita."
"Itulah Teh Suci di Cicaheum dengan ceritanya. Ya ngga bisa dipungkiri ya, banyak manusia yang memiliki kemampuan, di atas kemampuan manusia normal. Salah satunya anak Teh Suci tadi. Kemungkinan besar sih, anak Teh Suci seorang anak indigo karena bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh manusia lain. Mungkin ya?
Satu lagu dari Panbers atau Pandjaitan Bersaudara dengan Gereja Tua akan menutup perjumpaan kita kali ini. Saya Inoxu dan seluruh tim mohon pamit. Sampai jumpa di kisah-kisah lainnya dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Tetap sehat dan tetap semangat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan mendengar jika alunan lagu sudah diputar sebelum melepas headphone.
"Keren ini! Rating siaran ini lumayan tinggi untuk sekelas program siaran tengah malam," ucap pemilik radio. "Kalian butuh properti apalagi, nanti bilang ya? Barangkali sesekali mau ngundang bintang tamu, bisa diatur untuk penambahan properti."
Aku, Gia dan Remi tersenyum lebar. Kami berbincang selama beberapa saat kemudian sampai pemilik radio meninggalkan studio.
__ADS_1
"Apa kita minta pindah studio aja ya?" usul Gia.
"Ya terserah aja sih, tapi aku udah enakeun di sini. Di studio lain nanti malah kenalan ulang sama penghuninya, bisa berabe ah," jawabku.
"Iya, aku juga betah di sini. Walaupun serem tapi ya lama-lama biasa," timpal Remi.
"Iya deh, di sini aja. Lagian tukang kabur duluan udah lumayan berani sekarang," kekeh Gia. "Iya kan Xu?"
Aku tidak fokus mendengar ucapan Gia karena terpaku pada satu titik di pojok ruangan yang temaram. Di antara alat-alat siaran, ada sepasang mata yang menatapku tanpa berkedip.
"Xu? Xu? Denger ngga?" tanya Gia.
Aku masih terdiam menatap sepasang mata itu.
"Inoxu?!" panggil Remi agak keras.
"Diem! Aku lagi liat-liatan sama mata di pojok tuh."
Sontak, keduanya ikut menatap ke arah pandangan mataku dan masing-masing terkesiap.
"Xu, usir Xu," bisik Gia. Ia dan Remi kembali menatapku.
"Kita aman Gia, kalau Xu ngga lari. Palingan, ada yang bakal kena sentak lagi," tambah Remi. Keduanya kembali menoleh ke arah sepasang mata itu berada ketika aku dengan tiba-tiba berdiri dan berlari keluar studio setelah sebelumnya menyambar tasku.
__ADS_1
"An*jir si Xu! Kirain udah berani!" maki Gia sebelum ia dan Remi ikut berlari mengikutiku.