Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 24


__ADS_3

"Xu!" panggil Remi dari sebuah bangku di samping gerobak siomay. "Hayu jajan."


Aku menghampirinya dan ikut duduk di kursi setelah memesan satu porsi. "Bayar sekarang aja yuk? Nanti kena tagih dua kali," ajakku.


"Kamu mah aneh, Xu! Lebih takut ditagih dua kali daripada kenyataan kalau salah satu mamang yang ketemu kita waktu itu jadi-jadian," bisik Remi.


"Ish, bukan aneh! Kalo yang gitu-gitu kan emang di mana-mana ada. Nah kalo duit mah susah dicari."


Remi nyengir mendengar jawabanku. "Gimana sama Bang Win?" tanyanya.


"Ngga gimana-gimana. Ya seperti biasa aja." Aku berdiri ke arah warung yang bersebelahan dengan gerobak siomay untuk membeli minum dan kerupuk.


"Ah payah! Kan kata Gia, jakador petrus."


"Ga perlu di jakador-jakador juga Bang Win mepet aku terus kok," balasku nyengir.


"E*dan, si kulkas dua pintu bisa kaya gitu!"


Obrolan kami terputus oleh dua piring siomay yang sudah siap. Karena jam siaran masih agak lama, aku dan Remi makan dengan santai.


***


"Inoxu, Kisah Tengah Malam. Ini ada paket lagi nih," sapa Teh Hani ke arahku dengan menahan tawa. "Ada yang mau pamer kayanya, Xu. Sekarang udah ngga dingin lagi kaya kulkas, soalnya rajin bener ngasi paket."


"Tapi nama pengirimnya bukan Bang Win nih," balasku dengan masih memperhatikan paket.


"Eh? Kirain dari Bang Win. Teteh tadi ngga liat-liat."


"Dari pendengar kali ya? Ya udah deh, nanti aja dibukanya di rumah." Aku hampir memasukkan paket tersebut ke dalam tas saat terdengar suara dari balik punggungku.


"Buka di sini aja." Bang Win sudah berdiri dengan gayanya yang biasa, kedua tangan di dalam saku celana. Tudung hoodie hitam yang dipasang di kepalanya semakin menambah aura misterius.


"Iya-iya. Teh Hani, pinjem gunting," sahutku. Dalam beberapa menit, bungkus paket sudah terbuka dan hanya menyisakan kotak kayu.


"Wih, boneka!" seru Remi. Sebuah boneka berbentuk gadis kecil dengan rambut warna hitam dan baju kimono warna merah terlihat.


"Siapa yang ngirim?" tanya Bang Win.


Aku mengambil kertas pembungkus dan membaca. "Kunthi. Kaya pernah denger, tapi di mana ya?"


Selama beberapa saat keheningan terjadi hingga Remi menyenggolku keras. "Xu! Kunthi 'kan yang waktu itu ngobrol sama kamu dan Adul pas siaran. Yang katanya abis siaran temennya mau dateng ke studio."


Dengan segera aku meletakkan boneka yang kupegang ke meja resepsionis.


"Itu boneka Okiku dari Jepang," jelas Bang Win. "Dan bisa dibilang boneka spritual. Walaupun boneka yang asli sekarang ada di kuil. Tapi beberapa produsen pembuat boneka memproduksi boneka yang serupa untuk dijual."

__ADS_1


"Serem ih," celetukku.


"Namanya juga boneka spiritual. Kalau di Indonesia semacam boneka jalangkung lah," tambah Bang Win.


Pet!


Tiba-tiba lampu mati dan membuat keadaan stasiun radio gelap. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari luar. Sepertinya hanya di tempat ini saja yang mengalami pemadaman listrik.


"Win, mati listrik ya? Genset ngga berfungsi?" tanya Kang Utep yang turun dari lantai dua. Kang Utep sedang membawakan siaran berita tengah malam tepat sebelum Kisah Tengah Malam.


"Liat ke belakang yuk?" ajak Bang Win. Ia berjalan dan diikuti Kang Utep ke bagian belakang bangunan, menuju ke arah tower pemancar


"Duh, padahal setengah jam lagi kita siaran nih," keluh Remi.


"Teh Hani, bukannya kalau listrik mati genset otomatis nyala?" tanyaku penasaran.


"Iya harusnya gitu. Ketika pemadaman listrik, biasanya ada Dead Air selama beberapa menit sampai genset aktif. Dead Air itu hilangnya program siaran. Tapi ngga tau nih, bisa-bisanya genset juga ngga nyala," kata Teh Hani.


Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Wajar saja. Dari awal aku bekerja di sini, baru kali ini mengalami yang namanya pemadaman listrik.


"Genset konslet. Kayanya ngga akan bisa lanjut siaran malam ini," umum Kang Utep menghampiri kami yang sudah duduk di sofa. Di belakangnya terlihat Bang Win sedang fokus dengan ponsel di tangan.


"Terus gimana, Kang?" tanya Remi.


"Jadi ngga bisa siaran?" tanya Remi lagi.


"Jelas ngga bisa. Butuh minimal tiga jam buat ngecek dan memperbaiki yang konslet. Kalian pulang aja ngga apa-apa," ucap Kang Utep.


"Ya udah deh aku pulang. Xu, pulang juga ngga?" tanya Remi padaku.


"Iya mau. Mau ngabarin Gia sama Adul dulu kalau ngga jadi siaran," jawabku.


"Ya udah aku duluan atuh ya? Mumpung masih sore, ngga serem-serem amat bawa motornya. Teh Hani mau bareng ngga?" tawarnya yang kemudian diangguki Teh Hani. Keduanya berpamitan beberapa saat kemudian. Kang Utep sendiri kembali ke lantai atas untuk mengambil barang pribadinya yang tertinggal di studio.


Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan menyandarkan punggung ketika Bang Win duduk di sebelahku. "Mau dianterin pulang sekarang atau mau nemenin saya di sini?"


"Nemenin aja deh, males pulang ke rumah jam segini."


"Ya udah kalau gitu. Sebentar ya," ucap Bang Win bangkit dan berjalan ke arah belakang. Saat ia kembali, ia membawa dua gelas kopi di tangannya.


"Sempet-sempetnya ngopi loh lagi kaya gini."


"Ya kan tinggal nunggu teknisi dateng. Kalau mereka udah dateng, bisa ditinggal. Ada Utep ini kok," balasnya.


Aku mengangguk angguk dan melihat berkeliling. Penerangan dari luar membuatku bisa melihat dalam kegelapan walaupun samar.

__ADS_1


"Bang Win?" panggilku.


"Kenapa?"


"Paket boneka tadi yang aku taro di meja sana mana ya? Kok ngga ada?" tanyaku heran. Tiba-tiba saja aku merinding.


"Di bawa sama Remi atau Hani mungkin. Kamu kenapa sih duduknya ngga mau diem gitu?"


"Pengen ke toilet," ucapku nyengir.


"Ya udah saya anterin."


"Ngga usah ah. Sendiri juga berani. Nitip tas ya?" kataku berdiri.


"Yakin ngga mau dianterin? Berani?" tanya Bang Win.


"Yakin! Aman sekarang mah. Udah kenal baik sama penghuni di sini." Rasa grogi membuat mulutku asal berbicara.


Dengan penerangan yang berasal dari ponsel, aku berjalan menuju toilet untuk menuntaskan panggilan alam. Setelahnya, aku mencuci tangan dan menaruh ponselku di pinggir wastafel. Saat akan kembali ke depan, aku menginjak sesuatu dan membungkuk untuk memperhatikan benda di dekat kakiku.


'Boneka Okiku ini kok bisa ada di sini?' batinku seraya memungut boneka itu. Saat menegakkan tubuh, tepat di cermin toilet aku melihat sosok yang berpakaian sama persis seperti boneka yang kupegang, berdiri tegak di belakangku.


"Bang Win!" jeritku spontan sebelum berlari ke luar toilet.


Aku melihat Bang Win menghampiriku dan spontan mencengkram lengannya kuat. "Ada sosok mirip boneka Jepang itu di toilet!"


Tanpa berkata apa-apa, Bang Win masuk untuk memeriksa. Aku sendiri masih berdiri di luar toilet dengan kaki yang gemetaran.


"Oxu!" panggil seseorang dari arah tangga. Mataku seketika membola serta lututku semakin lemas karena melihat Bang Win dan Kang Utep di anak tangga terakhir. Keduanya menghampiriku cepat dan membawaku ke sofa.


"Kenapa? Saya lagi di atas sama Utep waktu denger kamu ngejerit," ucap Bang Win.


Aku menelan saliva kasar dan dengan terbata-bata menceritakan semuanya. Seketika, Kang Utep bangkit dan memeriksa toilet.


"Ngga ada siapa-siapa, cuma ada boneka ini," tunjuknya padaku yang melihat ke arah boneka itu dengan tatapan ngeri.


"Simpen aja, Tep. Boneka itu kayanya bermasalah," kata Bang Win.


Kang Utep mengangguk dan menaruh boneka itu di laci meja resepsionis lalu menguncinya. "Besok pagi kita beresin deh, Win. Yang kaya gitu harusnya diba*kar aja."


Aku masih berusaha menenangkan diri saat Bang Win mengambil tanganku dan menggenggamnya erat.


"Jangan takut lagi, saya di sini," ucapnya lirih yang seketika memberikan rasa nyaman karena mendengarnya. "Kalau udah tenang, saya anterin pulang ya?"


Aku hanya mengangguk dan menikmati getaran hangat dari telapak tanganku yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh.

__ADS_1


__ADS_2