Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 21


__ADS_3

"Standby, Xu!" seru Remi.


"Ongkeh."


"Dalam 3, 2, 1, on air!" Remi mengangkat jempolnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu hadir menyapa pendengar Kisah Tengah Malam dari studio lantai dua 12,08FM Radio Rebel Bandung. Apa kabar semuanya? Maafkan saya karena Kisah Tengah Malam vakum selama beberapa saat, yang disebabkan adanya gangguan teknis di studio. Satu lagu dari BCL dengan Cinta Pertama permintaan dari Liana Azha akan menjadi awal Kisah Tengah Malam kali ini. Selamat mendengarkan dan pastikan untuk tidak ke mana-mana."


Aku mematikan mic dan mulai memilih narasumber. Setelah terhubung, aku memintanya untuk menunggu di ujung sambungan.


"Teteh, kapan giliran Adul ngomong?" tanyanya setelah sekian lama diam.


"Abis ini. Nanti juga tanya jawab sama narasumber kamu yang handle ya, Dul? Inget, jangan sompral!" jawabku menatapnya tajam.


"Iya Teh, Adul ngerti," balasnya. Gia dan Remi hanya tersenyum lebar melihat tingkah Adul malam ini.


"Ssshhtt, sshhht," panggil Gia. Aku menoleh dan mengangkat alis.


[Yayang Win mana, Xu?] tulisnya di tablet dan mengarahkannya padaku.


Aku mengangkat kedua bahu tanda tidak tau.


[Idih, cupu! Pacar sendiri masa ngga tau ke mana]


Remi menahan tawa membaca tulisan di tablet Gia.


"Ah elah," keluhku lirih. Ini pasti karena Teh Hani yang melihat aku dan Bang Win keluar dari stasiun radio dengan bergandengan tangan malam kemarin sehingga membuat rumor muncul di kalangan penyiar.


"Dul, nanti siap-siap nanya ya? Inget, jangan melebar ke mana-mana." Aku mengingatkannya sebelum lagu berakhir.


"Iya siap Nyonya Win, cerewet banget sih," balasnya.


Aku menepuk dahiku pelan dan mendengar jika Gia dan Remi tertawa terbahak-bahak.


"Halo gaes, Adul mengambil alih setelah satu lagu yang bikin berbunga-bunga dari BCL dengan Cinta Pertama. Di ujung telepon udah ada pendengar yang mau berbagi kisah dengan kita semua ya gaes ya? Ngga perlu lama-lama, hei penelpon, perkenalkan dirimu!"


Dengan lancar Adul mengambil alih siaran setelah sebelumnya pindah ke kursiku. Aku sendiri pindah duduk di sebelahnya untuk mengontrol jalannya siaran dan mengambil alih jika terjadi sesuatu yang tidak dapat Adul tangani.


"Malem Kang Adul, malem Teh Inoxu. Saya Momon dari sudut kamar."


"Hei Momon! Ngapain di sudut kamar? Jangan bilang kalau kamu adalah demit yang doyan mojok-mojok ya?!" balas Adul.


Aku nyengir mendengar perkataannya.


"Bukan atuh Kang Adul, saya mojok karena lagi nyender di tembok. Kenyang, abis makan."

__ADS_1


"Sok atuh Kang Momon, mau cerita apa?"


"Cerita pengalaman pas ronda malem jumat kemaren, Kang Adul. Jadi gini, saya kan kebagian jatah ronda di lingkungan saya. Pas kebetulan bersamaan dengan jadwal ronda kedua sahabat baik saya."


"Wah, bukan ronda atuh jadinya. Main kartu!" potong Adul.


"Hahaha, iya. Tapi kita keliling dulu kok, Kang. Harusnya yang ronda itu berlima, cuma yang satu, lagi sakit dan yang satu lagi ada keperluan. Ya jadinya bertiga aja.


Kita keliling sambil ngambilin uang logam dari gelas bekas air mineral dari rumah-rumah warga."


"Oh, iuran ronda ya?" tanya Adul.


"Iya. Kita keliling sampai akhirnya tiba di bagian belakang kampung yang memang terkenal serem. Pas lewat di sana kedengeran kaya ada suara gorden ditutup kasar. Srek! Gitu bunyinya Kang."


"Terus gimana?" Suara Adul terdengar penasaran.


"Kita bertiga nyari asal suara itu dan sampai di depan rumah yang udah lama kosong. Keliatan banget emang Kang, kalau gorden bergerak sendiri. Buka tutup gitu deh dan kita bertiga masih selow aja sampai akhirnya itu gorden berhenti bergerak."


Pintu studio terbuka perlahan dan Bang Win masuk dengan memegang sebuah piring di tangannya. Ia meletakan piring yang ternyata berisi siomay dan menunduk ke arah telingaku.


"Sambil dimakan," bisiknya lirih setelah menggeser sedikit headphone yang menutupi telinga kananku. Setelahnya, ia kembali berjalan ke luar studio.


Gubrak gubrak gubrak!


Spontan aku mengarahkan pandangan ke arah Remi yang melonjak-lonjak kegirangan bersama Gia. Keduanya menahan tawa dengan menaruh telapak tangan mereka di mulut masing-masing.


Aku tersenyum simpul menanggapi tulisan Gia seraya kembali menoleh ke arah Adul dan terkejut melihat dia sedang mengunyah sesuatu. Benar dugaanku. Karena terlalu asyik mendengar cerita narasumber, tanpa sadar ia berkali-kali mencomot siomay di piring sampai hampir setengahnya.


"Pas kita bertiga mau pergi dari depan rumah itu, kita semua kena timpuk batu kerikil. Ngga sakit sih tapi bikin kaget. Pas kaget, ada satu temen yang kesel dan akhirnya jalan ke arah pohon nangka yang tumbuh di depan rumah itu."


Aku kembali fokus ke cerita narasumber.


"Ngapain tuh Kang, temennya?" tanya Adul masih dengan mencomot jatah siomayku.


"Ken*cingin pohon itu, Kang! Kata dia, rasakan kekuatan air suciku," jawab narasumber.


Adul tertawa terbahak-bahak sampai aku harus memukul tangannya. "Terus gimana Kang, temennya? Sehat?"


"Alhamdulillah sehat. Kita balik ke pos ronda dan santai-santai, ngopi sambil ngeroko. Pas mau ngeroko, giliran saya yang bingung karena korek yang tadinya saya taruh udah ngga ada. Nanya dong saya, ke temen dua ini, dan mereka juga sama sekali ngga tau.


Udara yang dingin dan rasa pengen banget ngeroko bikin saya kesel dan ngucap kata-kata ngga sopan. Saya bilang, kemana sih ini korek, masa iya diambil sama setan! Dan ngga lama ada yang ngelempar saya. Pas nunduk buat liat, ternyata korek saya."


Pintu studio kembali terbuka, menampilkan sosok Bang Win yang masuk. Ia berjalan ke arahku, dan meletakkan kopi panas dalam gelas karton lalu berjalan keluar setelah sebelumnya mengambil piring siomay yang sudah kosong oleh Adul.


Gubrak gubrak gubrak!

__ADS_1


Tanpa melihat, aku tau jika Gia dan Remi kembali melonjak-lonjak kegirangan.


"Terus gimana Kang Momon?" Pertanyaan Adul membuatku kembali fokus mendengarkan cerita.


"Ternyata korek saya itu dilempar dari atas oleh sosok yang lagi duduk persis di atas pohon dekat pos ronda. Liat itu ya kami bertiga kabur."


"Emang liat apa Kang? Kok kabur?"


"Liat po*cong, Kang Adul," jawab Kang Momon.


"Koreknya dilempar sama itu po*cong?"


"Iya," jawab Kang Momon lagi.


"Kok bisa? Kan po*cong mah dibungkus kain kafan. Gimana ngelemparnya? Kan tangannya juga kena bungkus," celetuk Adul.


Plak! Aku menepuk tangannya keras dan membolakan mata.


"Maaf, Teh," lirih Adul sembari nyengir.


"Ya ngga tau Kang. Saya ngga nanya gimana caranya itu po*cong ngelempar. Yang saya tau cuma kabur, kabur, kabur. Udah gitu aja."


"Mirip Teh Inoxu aja Kang Momon ini. Doyan kabur paling cepet kalo ada apa-apa di studio," ucap Adul.


Aku nyengir, sembari menatapnya sinis.


"Ada lagi ceritanya Kang Momon?" tanya Adul setelah Remi memberikan tanda jika durasi hampir habis.


"Udah segitu aja Kang Adul. Makasi banyak udah dibolehin cerita di radio Rebel. Pokonya mah radio Rebel jaya jaya jaya," jawab Kang Momon sebelum mematikan sambungan.


"Iya terima kasih banyak Kang Momon atas ceritanya. Serem ya, setan jaman sekarang bisa main fisik. Tapi Adul ngga habis pikir ya gaes ya? Kan po*cong mah diiket gitu kan? Masa bisa lempar korek? Penasaran jadinya pengen liat."


Aku mengangkat wajahku karena kaget dan dengan spontan menepuk Adul keras. "Closing," ucapku menggerakan bibir tanpa suara.


"Ya paling gitu aja ya gaes ya. Terima kasih udah mendengarkan sampai akhir. Lagu Suara yang dibawakan oleh Hijau Daun permintaan Bu Alva menjadi pertanda jika pertemuan kita kali ini sudah usai. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan tombol mic yang terletak di depan Adul dan melepas headphone. Setelahnya, aku duduk santai sembari menyesap kopi yang Bang Win bawa.


"Nikmat euy, minum kopi dari kekasih hati," celetuk Gia. Aku hanya mengulum senyum dan kembali menyesap kopi.


Adul berdiri menghampiri meja Gia di mana ia menaruh tasnya di situ dan berkemas untuk segera pulang. Entah karena suasana hatiku yang berbunga-bunga, aku tidak memperhatikan ketika raut wajah Adul, Gia dan Remi menjadi sepucat kapas.


"Xu, lari!" sentak Remi berlari ke arah luar studio dengan diikuti Gia.


Bruak! Adul yang kaget pun, ikut berlari keluar hingga menabrak meja. Aku menaruh kopi dan melihat sekeliling studio untuk memastikan tidak ada hal yang aneh. Ketika penglihatanku sampai di pojok ruangan, napasku seketika tercekat dan aku kehilangan kemampuan menggerakan anggota badan. Permen setinggi orang dewasa lengkap dengan kain putihnya menatapku lekat.

__ADS_1


"Bang Win!" teriakku keras dan berusaha berjalan ke arah pintu. Kaki yang bergerak lambat seolah diberati sesuatu yang tidak kelihatan membuat ketakutan serta kepanikan semakin menjadi. Hingga akhirnya, ada sepasang tangan yang memeluk dan mendekapku erat.


"Ges aing bejaan tong ngaganggu! Nyingkah! (sudah saya bilang jangan mengganggu! menyingkir!)," ucap Bang Win dengan nada menekan. Aku yang ketakutan masih berada dalam dekapan pria itu sampai beberapa saat kemudian. Usapan pada kepala, membuat rasa tenang perlahan menghampiri.


__ADS_2