
"Xu, sini deh," panggil Gia ketika aku baru saja datang. Dia sedang duduk di sofa bersama dengan Adul.
"Naon?" tanyaku membuka headphone dan menggantungnya di leher.
"Kok malah nanya kenapa? Ceritain atuh, lamaran kemaren gimana? Kamu mah kalo ngga ditanya teh diem aja," gerutu Gia.
"Iya ih ceritain, Teh. Pasti Bang Win waktu lamaran pake batik ya? Biasanya kalau lamaran kan gitu. Ih pengen liat deh om-om itu pake batik," sambung Adul.
"Jadi, saya ini om-om?" Sebuah suara yang berasal dari belakang Gia dan Adul membuat keduanya tersentak dan seketika menengok. Wajah Adul sudah pucat sepenuhnya.
"Hahaha! Sukurin," ucapku santai sembari duduk di sofa dan menatap ke arah Bang Win.
"Ih Teteh mah meni ngga bilang-bilang kalau ada Bang Win," gerutu Adul lirih.
"Kapan nikahnya, Xu?" tanya Gia kembali menengok ke arahku.
"Ada deh!" seruku nyengir. Gia spontan memanyunkan bibir.
Bang Win duduk di sebelahku dan menyerahkan sekaleng kopi. "Buat di studio," ucapnya pendek. Aku hanya mengangguk karena menahan debaran jantungku yang tidak beraturan. Momen hari di mana ia melamarku bersama dengan neneknya merupakan momen yang paling menegangkan, membahagiakan, dan juga memalukan. Bagian memalukan akan kusimpan untukku sendiri.
"Weis, udah pada ngumpul di sini," sapaan Kang Utep menyadarkanku dari lamunan.
"π½π πππππ ...."
Aku sontak menoleh ke arah Gia. "Ngomong apa?" tanyaku.
"Ngga ngomong apa-apa. Orang aku mah dari tadi diem aja," jawab Gia menatapku heran.
"Oh salah denger," gumamku. Bang Win menatapku lekat lalu memasangkan headphone ke telingaku sebelum mengusap kepalaku lembut.
***
__ADS_1
"Malam itu, saya diajak pacar saya untuk jalan-jalan Teh, Kang. Karena belum terlalu larut, kedua orang tua saya mengijinkan, dengan catatan, jam sembilan harus sudah di rumah dan diiyakan oleh pacar saya. Kami sekedar berjalan-jalan lalu berhenti sebentar di alun-alun Ujung Berung untuk jajan.
Sekitar jam delapan kurang, pacar saya ngajak untuk ke atas bukit. Di sana bisa ngeliat kota Bandung di waktu malam yang keliatan cantik banget karena bertaburan lampu. Jalan yang kami lalui cukup sepi karena selain sudah malam, lokasi bukit itu dikelilingi kebun dan juga tebing."
"Ih berani banget, ngga takut be*gal?" tanya Adul.
"Alhamdulillahnya ngga ada be*gal. Kami sampai di atas bukit dan makan jajanan yang sebelumnya dibeli di alun-alun sambil menikmati kelap kelip lampu di kejauhan. Mobil pacar saya, diparkir di depan sebuah rumah kosong diantara kebun jagung.
Saat jajanan yang kami bawa sudah habis, jam udah menunjukkan hampir pukul sembilan. Sesuai janji, pacar saya mengajak untuk pulang. Namun, ketika kami sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk pergi, terdengar suara benturan cukup keras dari bagian belakang mobil. Takut ada sesuatu, pacar saya kembali turun untuk memeriksa. Ngga lama kemudian, dia kembali ke mobil dengan wajah yang menurut saya cukup aneh. Dia tidak mengatakan apapun saat saya bertanya ada apa. Tatapan matanya yang tajam kaya membius saya sampai saya ngga sadar kalau udah ngelakuin hal yang terlarang. Saat sadar saya kaget dan menangis lirih. Pacar saya ngga terlihat di mana pun sedangkan malam semakin larut.
Di tengah kebingungan saya, tiba-tiba pacar saya kembali masuk dengan memegang kepalanya. Menurut pengakuannya, baru saja ia tersadar dari pingsan. Entah memang benar atau itu cuma alasan aja, karena jelas-jelas ia ngelakuin perbuatan terlarang itu pada saya. Kami pulang ke rumah dalam diam. Saya yang cukup kecewa padanya ngga punya sedikit keinginan pun untuk mengobrol hingga sampai di rumah. Seperti yang udah saya duga, orang tua saya menegur kami berdua dan berharap agar kedepannya hal seperti ini ngga terjadi lagi."
"Terus gimana, Teh Ika?" tanyaku penasaran.
"Setelah kejadian itu, pacar saya sering mengajak bertemu dan juga berkunjung ke rumah. Namun, saya yang terlanjur kecewa, menolaknya. Hingga di suatu pagi, saya ngerasa ngga enak badan. Awalnya yang saya kira hanya masuk angin biasa berubah menjadi hal yang mengejutkan waktu saya dinyatakan hamil oleh dokter yang memeriksa. Kedua orang tua saya murka dan menuntut pertanggung jawaban pada pacar saya."
"Pacar Teteh mau?" Adul kembali bertanya.
Singkat kata kami menikah dan tinggal di rumah orang tua saya sampai waktunya melahirkan. Ada satu kejadian yang membuat saya sangat terkejut, takut, malu dan juga tidak percaya. Saat melahirkan, pihak dokter serta bidan memekik ketakutan. Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bener aja! Saat ngeliat bayi kami, saya luar biasa kaget melihat jika sekujur tubuhnya dipenuhi bulu kasar. Dokter anak yang menanganinya bilang, kalau anak saya mengalami yang namanya Werewolf Syndrome yang membuat penderitanya memiliki kelainan pertumbuhan bulu di tubuh. Tapi entah kenapa, saya tau ada sesuatu yang salah tapi tidak berhubungan dengan penyakit tersebut.
Sampai saat ini saya masih berusaha merawat bayi kami walaupun rasanya berat dan kadang membuat saya ingin pergi sejauh-jauhnya dari sini. Namun tiap kali menatapnya, hati saya selalu jatuh iba. Mohon doanya ya Teh Inoxu dan Kang Adul. Agar saya kuat ngejalanin semua."
"Aamiin," ucapku dan Adul serempak.
"Ada lagi yang mau diceritain, Teh Ika? tanya Adul.
"Segitu aja palingan ya, Kang. Terima kasih udah mau dengerin cerita saya."
"Sama-sama Teh Ika, semangat ya?" balas Adul.
Aku melihat di monitor jika Teh Ika sudah mematikan sambungan sebelum kembali berbicara. "Itulah dia kisah Teh Ika dari Cicaheum. Kadang setiap kejadian terjadi tanpa alasan yang jelas. Kadang sebagian datang sebagai bentuk ujian, kadang juga datang sebagai balasan atas apa yang sudah kita lakukan dulu dan mau ngga mau tetep harus dijalani. Kisah Teh Ika menambah deretan cerita yang bisa dijadikan pengalaman, atau sekedar pewarna hidup untuk pendengar semua. Satu lagu dari Celine Dion dengan My Heart Will Go On akan menjadi ujung lerjumpaan kita kali ini. Inoxu, Adul dan seluruh tim mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
__ADS_1
Aku mematikan mic, melepas headphone lalu meraih botol yang air mineral yang disodorkan Bang Win. Dari awal, ia memang berada di studio untuk menemaniku siaran.
"Capek ya?" tanyanya lembut seraya kembali mengacak rambutku.
"Mayan. Capenya bukan karena siaran, tapi karena terus-terusan ngerapiin rambut yang Bang Win berantakin," balasku sinis.
Bang Win hanya tertawa mendengar ucapanku saat tiba-tiba pintu studio terbuka dan menampilkan sosok Kang Utep.
"Win, besok jadi rapat sama vendor?" tanyanya menghampiri Bang Win.
"π½π πππππ ...."
Aku menengokkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu terkejut saat melihat Adul yang tersentak ke depan dan menunduk. Dalam hitungan detik ia bangkit dan berjalan cepat ke arah Kang Utep lalu merangkul pria itu erat.
"πΊππππππ πππππ! πππππ ππππππ! πππ’πππ ...." ucapnya memeluk erat Kang Utep.
"Astagfirullahaladzim! Mane deui Ya Allah!" Kang Utep berusaha melepaskan rangkulan Adul.
"Siapa?" tanya Bang Win pelan.
"Biasa, demit ben*cong di jembatan sana. Seneng banget ngikuti Utep."
Aku, Gia dan Remi saling mendekat ketika Adul terlihat merayu-rayu Kang Utep dengan meliuk-liukkan badannya. Tidak ada rasa takut sama sekali, hanya rasa geli yang membuat ingin tertawa.
"Adul! Parah si Adul," teriak Kang Utep lagi saat Adul mencium pipinya.
Tangan Kang Utep dengan segera menyentuh kepala Adul seraya merapalkan sesuatu. Ajaib, Adul tersadar seketika dalam posisi sedang merangkul dan mencium pipi Kang Utep.
"Kang Utep! Kang Utep ngapain Adul? Adul udah ngga murni lagi," jeritnya histeris.
Aku yang melihatnya tidak bisa menahan tawa lebih lama dan seketika tertawa kencang diikuti oleh Gia dan Remi.
__ADS_1