Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 31


__ADS_3

Aku tertawa kecil saat sedang berjalan pelan di trotoar untuk menuju ke stasiun radio karena tiba-tiba teringat kejadian kemarin siang sesaat setelah aku membentak sosok gadis berkemben yang merangkul Bang Win dari belakang.


Bang Win menatapku tanpa berkedip sekalipun. Sepertinya ia terkejut karena tingkah lakuku yang barbar serta bahasa yang kasar. Untungnya, di saat yang tepat, Kang Utep masuk ke studio dan menjelaskan semuanya yang garis besarnya adalah, aku bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata.


"Hei!" seruku saat melihat sosok anak sekolah berdiri di bawah pohon. Aku tau siapa dia karena sweater biru langit yang dikenakannya.


Anak itu hanya menatapku datar dan membuatku memutuskan untuk melangkahkan kaki ke arahnya. "Masih belum pulang?" tanyaku tepat di depannya.


Anak itu menggeleng sembari menunduk.


"Betah amat kamu di sini."


Anak itu mengangguk.


"Ya udahlah kalau kamu diem aja, saya mau masuk dulu," lanjutku berbalik. Tepat saat akan melangkah, anak itu memanggil.


"Teh?"


"Naon?" jawabku kembali berbalik. Entah kenapa aku merasa ada yang ingin dia sampaikan. Setelah melihat jam tanganku dan menyadari jika waktu siaran masih lama, aku mengajaknya duduk di sebuah bangku panjang di tempat parkir dekat dengan pos satpam.


"Kenapa panggil-panggil?" tanyaku yang hanya direspon anak itu dengan menunduk.


"Eh, ngomong-ngomong, kamu kenapa belum 'pulang'? Katanya waktu itu mau pulang," tanyaku lagi.


"Ngga bisa pulang, Teh. Ngga tau kenapa," jawabnya lirih.


Aku celingukan untuk melihat jika ada orang di sekitar kami sebelum melanjutkan bertanya. Aku tidak mau disangka kehilangan kewarasan karena bicara sendiri. "Terus kamu ngapain diem di bawah pohon terus?"


"Ngga tau, Teh. Saya pengen pulang tapi lagi-lagi saya tiba di bawah pohon itu."


"Ada yang mau kamu sampein ke saya?" tanyaku pelan. Entahlah, apa yang salah denganku sehingga berani melontarkan pertanyaan tersebut.


Anak itu menggeleng pelan.


"Ya terus kamu mau ngapain tadi manggil-manggil?" Aku mulai kesal.


"Oxu? Lagi ngapain?" tanya Bang Win tiba-tiba.

__ADS_1


Aku memandangnya diam lalu berjalan menghampiri. "Lagi ngobrol sama anak yang di bawah pohon."


"Yang kecelakaan itu?" tanya Bang Win. Aku mengangguk.


"Kayanya ada yang janggal deh, Bang. Anak itu bilangnya mau pulang, tapi ngga tau kenapa sampai hari ini masih di sini, berdiri di bawah pohon." Aku menengok ke arah anak itu duduk dan dan tidak menemukannya. Rupanya, anak itu sudah kembali berdiri di bawah pohon.


"Tunggu sebentar," ucap Bang Win ke arah jalan raya. Aku hanya mengangkat bahu lalu masuk ke dalam bangunan.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Inoxu hadir kembali menyapa para pendengar semua dari studio lantai dua Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Malam ini, Kisah Tengah Malam akan tampil dengan format baru. Jadi, jika biasanya narasumber akan menelepon ke studio untuk berbagi kisah, mulai sekarang, saya sendiri atau Adul yang akan membacakan kisah-kisah di sekitar kita. Nyata atau ngga, saya kembalikan lagi ke pendengar semua. Satu lagu dari


Romi dan Eren dengan Pelengkap Hidupku permintaan dari Eva Silmi akan menjadi pembuka Kisah Tengah Malam kali ini. Jadi jangan ke mana-mana dan selamat mendengarkan."


Aku mematikan mic dan melepas headphone saat Gia dan Remi menghampiri meja kerjaku.


"Serius, Xu? Kamu bisa liat setan sekarang? Ngga takut?" tanya Gia. Sebelum siaran, aku menceritakan pada keduanya tentang apa yang terjadi. Sayangnya, karena sudah waktunya siaran, pembicaraan kami terputus dan sekarang mereka mendatangiku untuk mengetahui kelanjutannya.


"Serius, tadi di bawah aku ketemu anak yang waktu itu meninggal ketabrak. Sempet duduk bareng, tapi ngga lama."


"E*dan! Si Xu ibego sekarang!" seru Remi.


"Terus sekarang jadinya ngga takut lagi?" tanya Gia.


"Ngga sih, kemarin abis rapat beberapa kali ketemu, tapi anehnya itu, ngga ada rasa takut sama sekali," jawabku.


"Wooh!" Gia bertepuk tangan. "Aman kalau gitu, Rem. Si Xu udah jadi pawang," ucapnya terkekeh. Keduanya lalu kembali ke meja masing-masing sedangkan aku bersiap kembali untuk siaran.


"Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru bergabung. Itulah lagu Pelengkap Hidupku yang direquest oleh Eva Silmi. Sekarang saya akan membacakan satu kisah yang sudah masuk ke tim Kisah Tengah Malam" Aku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.


"Halo Teh Inoxu, nama saya Ava. Saya sekolah di sebuah SMA tidak jauh dari tempat Teh inoxu kerja. Saya tinggal bersama dengan ibu kandung dan kakak perempuan saya. Kakak saya ini berbeda ayah dengan saya. Ketika menikah, ibu sudah memiliki satu anak, dan setelah menikah dengan ayah saya, lahirlah saya.


Ibu saya seorang wanita karir. Beliau pergi di saat subuh dan kembali di waktu malam. Jadi sehari-hari, saya banyak menghabiskan waktu hanya dengan kakak saya. Kakak saya adalah sosok yang saya kagumi. Saya sayang padanya dan berharap jika suatu saat nanti bisa membalas kebaikan-kebaikan yang sudah ia lakukan.


Karena kami hanya berdua saja di rumah, ia menggantikan posisi ibu kami untuk mengurus rumah serta mengurus saya. Membuatkan makan, membantu mengerjakan tugas, sampai mengantar saya ke sekolah. Saya pribadi lebih merasa dekat ke kakak saya dibandingkan ke ibu kami.


Sampai tibalah pagi itu. Pagi di mana saya mendengar untuk pertama kalinya jika selama ini kakak saya keberatan dalam mengurus saya. Ia hampir berteriak di depan wajah ibu kami dan tidak tau jika saya mencuri dengar. Apa yang saya dengar sangat menghancurkan hati saya. Ternyata selama ini kakak saya membenci saya dan mempertanyakan kenapa ibu membedakan kami. Saat itulah, saya sadar, apa yang kakak saya lakukan selama ini bukan karena dia menyayangi saya namun karena ia diperintah oleh ibu kami.

__ADS_1


Dengan wajah menahan marah, ia tetap mengantar saya ke sekolah. Berkali-kali mobil yang kami kendarai hampir menabrak kendaraan lain karena ia menyetir ugal-ugalan sampai ke tujuan. Saya biasanya turun di depan Stasiun Radio Rebel, lalu menyeberang dan berjalan sedikit untuk sampai di sekolah saya.


Namun, di pagi itu, semua berbeda. Kakak saya ikut turun dan berkata jika ia akan menemani saya menyeberang. Karena masih terlalu pagi, saya menolak dan berkata jika lalu lintas belumlah terlalu ramai. Akhirnya ia pun bermaksud kembali ke mobil dan berkata jika ia akan kembali ke rumah untuk bersiap-siap pergi kuliah.


Saya melihatnya berjalan menuju mobil, dan sudah berjalan untuk menyeberang ketika sebuah dorongan kuat terasa di punggung saya dan membuat saya terlempar ke depan. Naasnya, saat itu lewat sebuah bis karyawan yang melaju cukup kencang karena kondisi jalan yang masih sepi. Tak ayal, tubuh saya tertabrak, masuk ke dalam kolong bis dan terlindas."


Aku menutup wajahku selama beberapa saat karena berusaha menahan tangis. Tidak ada yang tau selain aku dan Bang Win jika kisah ini adalah kisah anak yang selalu berdiri di bawah pohon.


Sebelum siaran tadi, beberapa saat sebelum yang Gia dan Remi datang, Bang Win kembali tanpa kutau ia pergi ke mana. Sesuatu yang dikatakannya membuatku terkejut hingga kehilangan mood untuk bicara.


Bang Win yang mendengar ceritaku tentang anak yang selalu berdiri di bawah pohon ternyata pergi ke arah pohon itu dan menemukan jika ada sebuah cctv terpasang di sebuah tiang tepat di samping pohon tersebut. Pemilik cctv itu adalah sebuah toko kain yang letaknya bersebelahan dengan stasiun radio ini. Tidak mudah, karena menurut pemilik toko, cctv itu sudah lama tidak rawat. Itulah kenapa, saat polisi bertanya tentang rekaman cctv di hari terjadinya kecelakaan, mereka mengurungkan niat setelah mendengar penjelasan dari pemilik toko karena mengira jika cctv tersebut sudah tidak berfungsi lagi.


Dalam waktu singkat, Bang Win sudah bisa melihat hasil rekaman dan memutuskan untuk pergi ke kantor polisi karena terlihat jelas dalam rekaman jika apa yang dialami anak itu bukan kecelakaan. Anak itu didorong kasar oleh orang yang mengantarnya sekolah yang tidak lain adalah kakaknya.


"Wih, sedih plus serem ya pendengar semua, kisah dari Ava." Setelah beberapa saat terdiam, aku melanjutkan siaran.


"Saya jadi bingung mau ngomong apa. Ya sudahlah! Selesainya kisah Ava dan satu lagu dari Britney Spears dengan Criminal, permintaan dari Asa Zumara akan menjadi penutup kisah malam ini. Inoxu dan tim mohon pamit, sampai jumpa lagi di kisah-kisah lainnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic, melepas headphone dan membereskan barangku dengan cepat. Lewat whatsapp, Bang Win bilang jika ia sudah kembali dari kantor polisi setelah mengantarkan hasil rekaman cctv.


"Duluan ya, Xu!" pamit Gia dan Remi ketika kami tiba di lantai bawah. Aku mengangguk dan melambaikan tangan.


"Gimana, Bang?!" tanyaku.


"Kakaknya pelakunya. Keliatan di cctv kalau dia sengaja nyelakain anak itu. Polisi lagi mendalami kasus ini sebelum memanggil kakak anak itu."


"Parah banget itu kakak," ucapku lirih.


Bang Win hanya menatapku dengan sorot mata lembut. "Roti bakar? Kayanya mood kamu lagi ngga bagus," ajak Bang Win menyodorkan tangannya untuk kugenggam.


Aku mengangguk dan berjalan pelan bersamanya keluar dari bangunan. Tidak lama berjalan, aku melihat anak yang berteduh di bawah pohon melambaikan tangan padaku sebelum akhirnya menghilang.


"Liat apa, Oxu?" tanya Bang Win.


"Anaknya ilang, Bang! Udah 'pulang' kali ya?"


"Mungkin," jawab Bang Win. Ia kembali menatapku dalam dan sekilas aku bisa melihat ekspresi khawatir. "Jangan terlalu sering berinteraksi dengan 'mereka'. Saya takut kamu kenapa-kenapa. Seenggaknya sebelum saya bisa benar-benar menjaga kamu."

__ADS_1


"Iya," ucapku mengangguk dan mulai menarik tangannya kembali untuk berjalan setelah pria itu mengacak rambutku pelan.


__ADS_2