Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 40


__ADS_3

"Gia, vendor udah ngirim list pemenang kuis belum?" tanya Bang Win menghampiri Gia yang sedang duduk bersama aku dan yang lainnya ketika hari menjelang sore.


"Bentar Bang, Gia cek dulu," jawabnya berlalu ke dalam kamar. Tidak berapa lama, ia kembali dengan membawa laptop.


"Udah nih Bang. Udah diterima."


"Siaran off air aja sekarang ya? Takutnya malem ujan, malah berisik. Mendung banget soalnya," saran Bang Win.


"Oke Bang, Gia cari dulu Adul." Gia berjalan ke arah luar untuk mencari Adul. Sehabis makan siang, semua memiliki kegiatan masing-masing.


"Cape?" tanya Bang Win duduk di sebelahku.


"Ngga, biasa aja," jawabku pendek.


"Saya keluar dulu sama Utep ya? Mau nyari bahan buat bakar-bakar nanti malem."


Aku mengangguk mengiyakan.


"Kalau Adul udah dateng, langsung siaran off air aja, biar nanti malem bisa ikut bakar-bakar."


"Iya," jawabku lagi. Bang Win berdiri setelah sebelumnya mengacak rambutku pelan.


"Hani, Opi, titip Oxu ya?" ucapnya singkat lalu berjalan ke arah luar.


"Hetdeh, sekarang mah nitip-nitip euy," seru Teh Opi tertawa yang kemudian diikuti Teh Hani.


"Ah si Adul mah diajak siaran jawabnya entar-entar mulu!" seru Gia yang baru saja datang. "Siaran sendiri aja, Xu. Aku bangunin dulu Remi."


Aku mengangguk dan berdiri mengikuti Gia ke arah kamar lalu menuju ke kamar satu lagi yang dipenuhi barang-barang bawaan kami.


Dalam beberapa menit, aku sudah bersiap di depan dua buah laptop dengan mic dan juga headphone.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat bertemu lagi dengan Inoxu dan tim dalam Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung. Siaran kali ini bisa dibilang spesial karena disiarkan langsung dari sebuah vila di kawasan puncak. Satu lagu permintaan Putri Ariani Antari dari Peterpan dengan Semua Tentang Kita akan menjadi pembuka kisah malam ini. Selamat mendengarkan!"


Aku mematikan mic dan menyandar di tembok sembari menunggu lagu selesai diputar.


"Itulah Peterpan dengan Semua Tentang Kita! Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar yang baru saja bergabung. Selamat menikmati siaran kami selama kurang lebih satu setengah jam ke depan. Kisah kali ini dikirim oleh Bunga di Pasir Koja.


Halo Teh Inoxu dan Kang Adul, saya Bunga. Daerah tempat tinggal saya sedang gempar karena peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi. Jadi, di dekat rumah saya ada sebuah mushola yang cukup besar. Mushola ini digunakan warga sekitar untuk melakukan kegiatan keagamaan selain sholat. Pengajian ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak rutin diadakan setiap minggu dengan hari berbeda.


Kegemparan bermula dari satu bulan yang lalu. Menjelang tengah malam, kami mendapat pengumuman dari mushola yang mengabarkan tentang meninggalnya seorang warga. Banyak warga yang heran karena suara di pengeras suara mushola terdengar asing. Lebih mengagetkan lagi ketika warga datang ke rumah yang diberitakan ternyata orang yang dikabarkan meninggal nyata-nyatanya masih hidup.

__ADS_1


Awalnya kami semua mengira itu perbuatan orang iseng. Namun, beberapa hari setelah peristiwa itu, orang yang diberitakan sebelumnya benar-benar meninggal. Para warga masih berprasangka baik dengan mengira itu hanyalah kebetulan saja. Namun, minggu berikutnya terjadi lagi. Tepat menjelang tengah malam, terdengar kembali pengumuman duka cita walaupun orang yang dikabarkan masih hidup dan sehat wal'afiat.


Kejadian beberapa hari kemudian memupuskan semua prasangka baik warga karena orang yang diberitakan sebelumnya, juga meninggal. Sampai hari ini, sudah lima orang yang meninggal dengan cara yang sama. Pengumuman terakhir terjadi dua hari yang lalu dan kembali mengabarkan kematian seseorang. Secepat kilat, para pengurus mushola pergi ke sana untuk menangkap basah orang yang sudah melakukan pengumuman. Namun saat sampai, semua kembali terkejut karena mushola dalam keadaan kosong. Bahkan mic tempat menyiarkan berita masih berada di tempatnya dan tidak ada tanda-tanda sudah digunakan.


Wih, serem juga ya Bunga? Jadi itu kaya pertanda kalau ada warga yang meninggal," aku berkomentar sejenak.


"Sampai hari ini belum ada yang warga yang tutup usia, Teh Inoxu. Entah jika besok atau lusa. Untuk pembuktian, nanti saya akan mengirimkan satu cerita lagi ke Kisah Tengah Malam. Jika saya tidak mengirimkan apapun, berarti pengumuman itu benar adanya. Karena yang terakhir diberitakan meninggal adalah saya. Doakan Bunga ya Teh Inoxu dan Kang Adul. Semoga saya baik-baik saja."


Aku bergidik dan seketika membelalakkan mata membaca paragraf penutup dari Bunga.


"Teh Bunga bercanda aja nih. Kita tinggu ya kiriman kisah selanjutnya. Nah pendengar semua, sudab satu setengah jam saya menemani dalam Kisah Tengah Malam. Satu lagu permintaan Azyzatul Maghfy dari Wali Band dengan Baik-Baik Sayang akan menjadi ujung perjumpaan kita kali ini. Jangan kemana-mana dulu karena setelah lagu diputar akan ada pengumuman kuis minggu lalu. Saya, Inoxu pamit, sampai jumpa lagi. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan memberikan headphone pada Remi karena ia akan merekam nama-nama pemenang kuis.


"Serem ya tadi ceritanya?" ucap Gia saat aku duduk di sebelahnya.


"Iya, mudah-mudahan si Bunga ngirim cerita lagi ya? Tanda kalau dia baik-baik aja," jawabku yang diangguki Gia.


Dalam lima belas menit, Remi telah selesai membacakan nama-nama pemenang. Setelah membereskan semua peralatan, kami meninggalkan kamar dan bermaksud bergabung dengan yang lain di ruang santai tepat saat Bang Win baru saja datang. Dengan segera, aku menghampirinya.


"Beres siaran?" tanyanya mengacak rambutku lembut.


"Saya bawain ini," ucap Bang Win mengangkat sebuah plastik ditangannya dan memberikannya padaku.


Aku tersenyum senang melihat aneka kue basah dalam dus yang dibawakan Bang Win. "Makasih, " ucapku menatapnya yang hanya dibalas dengan anggukan. Tidak lama, ia berjalan menuju kamar dan aku menghampiri yang lain dengan sekotak kue basah di tangan.


Saat sedang santai mengobrol, terdengar teriakan Adul di luar. Dengan cepat, kami berlarian untuk melihat. Adul digotong beberapa ibu-ibu pemetik daun teh dalam keadaan meronta-ronta.


"Si ujang ini tadi lagi foto-foto di kebun teh, terus ikut emak metik daun teh. Tapi lama-lama malah main sama gerombolannya si Tatang," jelas salah satu dari mereka.


"Tatang siapa?" tanya Kang Utep.


"Itu anak pak RT, yang suka mabok."


Aku seketika menatap Bang Win dan teringat kelima pemuda yang kami jumpai.


"Emak pamit dulu ya? Ini dijaga temennya. Kayanya dicekokin kecubung sama si Tatang."


"Iya mak, nuhun ya?" sahut Kang Utep. Adul sendiri sudah duduk di atas rumput.


"Adul! Kamu mah sembarangan pisan! Dibilang jangan main jauh-jauh," sentak Kang Utep.

__ADS_1


"Hiyaaaa! Ada badut ancol!" teriak Adul melihat Kang Utep.


Semua yang hadir tertawa. Selanjutnya Adul berjalan pelan menuju taman dan merebahkan badan di atas rerumputan yang masih basah.


"Adul ngapain?" tanyaku penasaran.


Adul menengok ke arahku, "Jangan ngomong sama saya. Saya karpet mesjid."


"Hahaha!" Kang Utep tertawa paling kencang. Beberapa ikut duduk untuk menyaksikan tingkah Adul selanjutnya.


Seperti yang sudah diperkirakan, tidak lama kemudian Adul naik ke sebuah kursi yang ada di taman.


"Adul turun, nanti jatuh!" teriak Gia.


"Ngga! Adul mau konser sama koboi junior!" balasnya.


Semua yang hadir masih tertawa melihat tingkah Adul ketika Bang Win mendekati Kang Utep dan membisikkan sesuatu. Setelahnya, Kang Utep pergi ke dalam vila dan keluar tidak lama kemudian dengan membawa sebuah gelas yang entah berisi apa.


Kang Utep mencekoki Adul yang dipegangi oleh kami semua dengan isi di dalam gelas yang baru kuketahui adalah telur mentah.


"Huek!"


Semua menghindar ketika Adul membungkuk dan akhirnya muntah. Setelahnya, ia duduk lemas dan memandang kami satu persatu.


"Bantu bersihin woi!" pinta Kang Utep pada para penyiar laki-laki.


Adul sendiri sudah diajak masuk oleh suami Teh Opi untuk dibersihkan dan disuruh tidur.


"Mabok kecubung emang bahaya?" tanyaku pada Bang Win.


"Lumayan, kita ngga tau Adul makan seberapa banyak. Tapi setau saya, efek dari satu buah yang ukurannya kecil bisa satu hari satu malam. Makanya saya suruh Utep bikin Adul muntah, gimana pun caranya."


"Kalo udah muntah aman?" tanyaku penasaran.


"Aman."


"Bang Win kok tau?" tanyaku lagi.


"Dulu saya hampir ngelakuin apa aja supaya bisa ma*ti. Hidup selalu dioper-oper sana sini itu lebih menakutkan dari pada kema*tian itu sendiri."


Aku tertegun mendengar ucapannya yang perlahan menimbulkan rasa perih di hati.

__ADS_1


__ADS_2