
Mataku menyipit saat melihat Bang Win mengendarai sebuah mobil yang baru kulihat, keluar dari tempat parkir radio Rebel dengan seorang perempuan di sebelahnya.
'Mungkin temen atau sodaranya,' ucapku dalam hati tidak mau ambil pusing.
Kerena datang terlalu awal untuk siaran, aku melangkahkan kaki menuju gerobak cimol dan memesan satu. Setelahnya, aku duduk sembari memperhatikan tukang cimol yang sedang menggoreng.
"Xu!" seru Gia yang baru saja datang. Ia ikut memesan dan duduk di sebelahku.
"Kaya kenal ini hoodie," gumamnya memperhatikan.
"Punya si kulkas."
"Woooh pantes! Cie udah mulai pake-pake hoodie yayang," ledeknya dengan wajah menyebalkan.
"Tumben Gi, udah dateng? Siaran masih satu jam lagi loh."
"Lieur di rumah."
"Karena?" tanyaku lagi.
"Karena emakku riweuh Xu. Itu, nyiapin kedatangan Tomo sama keluarganya."
"Ya wajar atuhlah, namanya mau ketemu calon besan," aku terkekeh.
"Iya, lieur tapi," jawab Gia mengambil pesanan kami yang sudah jadi. "Makan di dalem aja yuk? Dingin di sini."
Aku mengangguk dan berjalan ke arah radio Rebel. Saat masuk, Adul yang teryata sudah datang menghampiri kami.
"Teh Inoxu," panggilnya dengan suara lirih.
"Naon?"
"Mau bilang sesuatu, tapi Adul teh ngga enak."
"Bilang aja," ucapku mulai penasaran.
Adul duduk di sofa kosong sebelahku dan sedikit membungkukkan badannya ke depan. "Tadi Adul liat Bang Win dateng sama perempuan terus masuk ke studio. Lumayan lama-lah di dalem. Habis itu mereka pergi lagi. Waktu Adul intip, Bang Win ngga pake mobil yang biasa, kayanya mah mobil perempuan yang dateng sama Bang Win."
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Adul karena memang aku melihat sendiri tadi saat baru saja datang.
"Itu sodaranya kali, Dul. Jangan ngada-ngada deh, ntar si Xu ngadat, kamu kena tapok lagi," tambah Gia.
"Ih Teh Gia! Sumpah, Adul ngga ngada-ngada, orang Adul liat sendiri kok."
"Iya, saya juga tadi liat, Dul." Ucapanku membuat Adul dan Gia membolakan mata.
"Serius, Xu?"
"Serius, Gia. Aku tadi liat mereka sebelum beli cimol."
Gia menepuk dahinya, "Santai Xu, jangan suudzon dulu. Kita semua tau kok gimana sayangnya Bang Win ke kamu. Lagian dia kan kulkas dua pintu, dingin. Kalo emang keliatan jalan sama perempuan, pasti itu keluarganya."
Aku hanya mengangguk dan memakan habis cimol di tangan. Entah kenapa, semakin aku mengingat kejadian tadi, semakin bertambah rasa kesalku.
"Oxu?" panggil Bang Win yang baru saja datang.
"Ke atas yuk? Bentar lagi siaran," ajakku pada Adul dan Gia yang balik menatapku dengan heran.
Bang Win melihatku tanpa berkata apa-apa lagi. Sepertinya ia sadar jika aku mengabaikannya.
"Xu! Kamu kenapa sih? Jealous? Itu Bang Win dicuekin gitu loh," protes Gia ketika kami sudah di studio.
__ADS_1
Aku hanya diam dan memeriksa monitor, kesiapan mic dan juga headphone. Tidak lama, Remi masuk dengan membawa bungkusan dan memberikannya padaku.
"Nih, dari Bang Win," ucapnya singkat dan menaruh plastik yang bertuliskan nama restoran siap saji.
"Makan deh, buat kalian." Aku hanya melirik ke arah bungkusan itu dan kembali fokus ke monitor.
"Asik, makasi Xu! Tau aja aku laper," seru Remi mengambil sebuah burger.
"Asli ini mah ada apa-apanya!" Gia menatapku dengan mata yang menyipit. Setelahnya, gadis itu kembali duduk di kursinya saat Remi memberi tanda jika kami akan segera on air. Aku yang sudah luar biasa badmood, meminta Adul untuk siaran sendiri.
Tepat setelah Adul selesai melakukan opening siaran, lampu di studio meredup tanda tegangan listrik turun. Dengan segera, aku memeriksa monitor dan alat-alat yang lain. Untungnya, tidak lama kemudian, tegangan lampu kembali normal tepat saat pintu studio terbuka.
"Aman?" bisik Bang Win melihat ke arah Remi yang dijawab dengan anggukan. Mata Bang Win melihat Remi, Gia dan Adul yang masing-masing sedang makan makanan pemberiannya.
"Kenapa ngga makan?" bisik Bang Win setelah duduk di depanku. Aku hanya menatapnya datar dan tidak berniat sama sekali menjawab pertanyaannya.
"Kamu kesel?" tanyanya lagi dan aku masih diam.
Bang Win menyandarkan punggungnya, "Salah saya apa?"
Aku yang mulai merasa risih, pada akhirnya memutuskan untuk bersuara. "Bang Win bisa keluar ngga? Saya males liat Bang Win di sini," ucapku pedas yang membuat Adul terbatuk.
Bang Win menatapku kaget sebelum mengangguk pelan. Ia berdiri dan berjalan ke luar studio tanpa berkata apa-apa lagi."
[Parah kamu, Xu!] tulis Gia di tabletnya.
Sedikit penyesalan menyelusup di hati. Mungkin aku bertindak terlalu jauh kali ini, tapi mengingat Bang Win satu mobil dengan perempuan lain yang belum kuketahui siapa, membuatku kesal setengah mati. Untuk meredakan rasa panas di hati, aku berdiri dan keluar studio bermaksud untuk mencuci muka.
Deg!
Tepat melewati pantry, aku melihat Bang Win sedang duduk di sana dengan perempuan itu di sebelahnya. Ada rasa sakit di dalam sini yang tidak bisa kujelaskan. Aku mencuci wajahku dengan cepat dan memutuskan kembali ke studio tanpa mengeringkannya dulu. Tepat di pintu toilet, ingatanku kembali ke Bang Win dan perempuan itu.
Brak!
"Oxu!" panggil Bang Win menarik tanganku untuk berbalik. "Kamu kenapa? Cerita sama saya. Walaupun kamu males liat saya, paling ngga kasih tau saya ada apa. Saya ngga bisa liat kamu uring-uringan kaya gini."
Aku menatapnya tajam sebelum menjawab, "Kalau mau berduaan jangan di pantry dong! Kesel liatnya. Di luar kan bisa! Lebih aman karena aku ngga harus liat pake mata aku sendiri!"
Bang Win melepas tanganku dan mengerutkan kening, "Berduaan? Siapa?" tanyanya.
"Bang Win-lah. Sama perempuan yang di pantry! Ngeselin tau ngga!"
"Saya dari tadi di pantry sendirian," ucapnya yang membuatku terbelalak. Dengan cepat aku kembali menuju ke pantry dengan diikuti Bang Win dan tidak menemukan sosok perempuan yang tadi kulihat.
"Tadi Bang Win keluar kan? Sama perempuan kan? Pake mobil yang baru aku liat," tanyaku lagi.
"Iya, saya keluar pake mobil temen saya karena dia minta tolong saya buat bawa mobilnya ke bengkel. Tuh ada di tempat parkir. Rencananya besok pagi saya mau masukin mobil itu ke bengkel. Dan tadi saya emang keluar, beli makanan buat kamu, tapi sendirian," jelas Bang Win. "Emang ada apa? Kamu liat yang aneh-aneh lagi?"
Aku mengangguk lemas. "Aku sama Adul liat kalau Bang Win bareng terus sama perempuan, makanya aku kesel. Ya mana aku tau kalau itu perempuan jadi-jadian."
"Saya dari tadi sendirian," tegas Bang Win.
"Iya-iya, aku salah liat. Kayanya perempuan itu penunggu mobil temen Bang Win."
Bang Win hanya menggaruk kepalanya dalam diam.
"Ya udah, aku siaran lagi deh," pamitku berjalan menuju ke tangga. Tepat di depan tangga, aku menoleh ke arah tempat parkir. Terlihat perempuan yang tadi berada di pantry bersama Bang Win sedang berdiri di sebelah mobil dan melambai ke arahku.
"Bang Win!" pekikku.
"Kenapa?!" Bang Win menghampiriku dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Itu perempuannya ada di sebelah mobil. Mendingan tanya deh temen Bang Win. Itu mobil kenapa sampe bisa ada setannya. Jangan di bawa pulang apalagi dipake, nanti Bang Win yang celaka," ucapku dalam satu tarikan nafas.
Bang Win mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Aku yang penasaran, lebih memilih duduk di sofa dibanding kembali ke studio.
"Ngga diangkat juga," keluh Bang Win menghempaskan tubuhnya di sebelahku.
"Teh Inoxu," panggil Adul dari arah tangga. "Kok ngga balik ke studio? Yang lain khawatir Teteh pingsan, eh taunya lagi pacaran."
Ia mendekati kami dan ikut duduk dengan tatapan sinis. "Emang ya? Kalo pacaran mah dunia milik berdua, yang lain ngontrak."
Aku hanya nyengir mendengar perkataan Adul dan dalam waktu singkat tercekat saat melihat perempuan yang tadinya berdiri di sebelah mobil sudah berada di belakangnya.
"Jang—," ucapanku terpotong saat tubuh Adul tersentak ke depan dan menunduk. Saat mengangkat wajah, air mata sudah turun mengalir di pipinya.
"Tolong saya," ucap Adul lirih. Bang Win yang duduk di sebelahku menjadi tegang karena ia menyadari persis situasi kami saat ini.
"Tolong saya," ucapnya lagi.
"Tolong apa?" tanyaku pelan karena takut.
"Tolong saya. Saya ditabrak oleh supir mobil itu," jawabnya menunjuk ke arah mobil milik teman Bang Win.
Aku terkesiap dan merasakan jika nafasku sesak. "Tuh kan Bang, mobil itu ngga beres," bisikku ke telinga Bang Win.
"Saya masih tergeletak di pinggir jalan. Tolong saya," suara Adul yang lirih membuat kesedihan menyelusup.
Bang Win menekan ponselnya dan dalam waktu singkat menghubungi Kang Utep untuk mengatasi masalah di sini sedangkan aku masih menatap sosok Adul yang sekarang menangis tersedu-sedu.
"Astaga Win, aku tuh ya baru aja mau makan loh!" seru Kang Utep menghampiri kami. Tadi aku melihatnya berlarian memasuki bangunan ini.
"Ge*lo ieu budak, jadi media deui (gi*la ini anak, jadi media lagi)," ucapnya tercengang menatap Adul.
"Tolong dihandle nyak Tep," kata Bang Win bangkit berdiri dan menarik tanganku. "Ayo ikut."
"Bentar mau ambil tas dulu," jawabku seraya berlari naik ke lantai atas. Tidak lama aku sudah kembali dan mengikuti Bang Win ke arah mobil di parkir.
Setelah berkendara hampir setengah jam, kami tiba di sebuah rumah. Pintu dibuka dan keluar sesosok pria yang kuduga adalah teman Bang Win.
"Kamu abis nabrak orang?!" tanya Bang Win dengan nada tinggi.
Teman Bang Win gugup dan mengangguk pelan. "Sumpah Win, aku ngga sengaja."
"Sengaja atau ngga, kamu harusnya bertanggung jawab kalau masih punya hati nurani," balas Bang Win pedas.
Keduanya terlibat percakapan selama beberapa saat, sampai akhirnya teman Bang Win menyerah dan mengikuti Bang Win ke kantor polisi untuk mengakui perbuatannya.
Teman Bang Win menabrak seorang gadis dan meninggalkannya karena tidak mau beetanggung jawab. Setelahnya, ia memberikan mobil itu pada Bang Win untuk dibawa ke bengkel, karena tidak ingin jejaknya ketahuan. Atas pengakuannya tersebut, polisi bergerak ke lokasi kecelakaan untuk mengevakuasi korban. Teman Bang Win sendiri akan ditahan di kantor polisi dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
***
"Maaf," ucapku lirih saat kami sedang menunggu taksi di depan kantor polisi.
"Kenapa?"
"Udah salah paham sama Bang Win," tambahku.
"Ngga apa-apa. Tapi lain kali kalau ada apa-apa, saya lebih suka kamu ngomong langsung."
"Bang Win ngga marah?" tanyaku lagi.
"Ngga. Saya ngga bisa marah ke kamu. Saya tadi khawatir kalau udah bikin salah ke kamu tanpa sengaja. Makanya lain kali, kalau ada apa-apa bilang, ya?"
__ADS_1
Aku tersenyum mengangguk dan mengeratkan genggaman tangan Bang Win yang mengacak rambutku lembut.