
"Xu? Bukannya hari ini off?" sapa Teh Opi yang terbelalak melihat kedatanganku. "Oh, Teteh tau. Kerjaannya Win ini mah."
"Ya begitulah, Teh," jawabku sembari duduk di sofa.
Teh Opi ikut duduk setelah pergi ke pantry dan kembali dengan dua kaleng minuman soda. "Nih minum dulu, haus pasti panas-panas gini harus ke sini."
"Ya gimana Teh, namanya juga cinta." Teh Hani yang baru datang ikut menimpali. Keduanya tertawa bersama.
"Woyadong! Namanya juga cinta," sahutku nyengir.
"Tuh, Bang Win lagi siaran. Masuk aja sana," suruh Teh Opi.
"Ngga ah, kalau berdua nanti yang ketiganya setan," potongku.
"Gaya bener dah! Hahaha!" Teh Hani kembali tertawa.
"Ish! Bukan gaya Teh, lah kan emang bangunan ini banyak setannya."
"Eh iya juga ya?" sadar Teh Hani.
Teh Opi hanya tersenyum melihatku. "Teteh seneng deh, ngeliat Win yang sekarang."
"Kenapa emang?" Tanganku membuka kaleng minuman dan meneguknya pelan.
"Ceritain ngga nih, Han?" tanya Teh Opi pada Teh Hani.
"Ceritain aja, Teh.
" Ceritain apa sih?" tanyaku penasaran.
"Alesan kenapa Teteh seneng ngeliat Win yang sekarang."
"Kenapa?" Aku semakin penasaran.
"Itu karena dia ngga pernah kaya gini sebelumnya."
"Maksudnya gimana sih?" tanyaku lagi.
"Win itu dari jaman Teteh kenal dia karena dikenalin sepupunya yang sekarang jadi suami Teteh tuh orangnya dingin banget. Cupu lah pokoknya. Jarang gaul, jarang bicara, jarang keliatan main ke mana gitu. Sesekali doang aja," jelas Teh Opi.
"Ngga punya temen?"
"Ya ada, emang orangnya tertutup sih. Makanya pas liat dia sekarang sering ketawa terus peka sama hal-hal kecil di sekeliling dia tuh rasanya amazing!"
"Oh. Kirain apa," aku mengangguk-angguk. Sesuatu melintas dalam pikiranku. "Dulu waktu sama pacarnya yang kecelakaan itu, gini juga?"
"Ngga, biasa aja. Malah lebih aktif mantannya dulu, Win sih tetep aja kaku," Teh Hani menjawab pertanyaanku.
"Karena Win itu tipe orang yang dia harus suka duluan sama orang. Kalau dia ngga suka, mau dideketin kaya gimana juga, dia tetep aja kaya kanebo kering. Kaku!" tambah Teh Opi.
"Lah itu dulu bisa pacaran," kataku heran.
"Ya karena sering ketemu. Terus dibaikin, apalagi Lena itu di sini kan seorang diri. Jadi yang muncul rasa tanggung jawabnya si Win," kata Teh Hani sebelum dia pamit pergi untuk siaran.
"Oh," aku mendesah.
"Padahal Win sendiri berjiwa kesepian," Teh Opi menahan tawa.
__ADS_1
"Masa?"
"Iya. Anak broken home, ngga tau harus memihak siapa, sampai akhirnya berdiri sendiri itu bukan persoalan yang sepele. Ya kamu liat aja, Xu. Setua dia masih belum nikah, kan aneh."
"Iya ya? Aku pacaran sama om-om dong?" celetukku yang membuat Teh Opi tertawa kencang.
"Makanya, cepet minta dihalalin."
"Apa yang halal?" tanya Bang Win yang baru keluar dari studio.
"Itu, Inoxu pengen jadi halal," jawab Teh Opi. Aku gelagapan di tempat mendengar ucapannya. "Buat kamu, Win! Inoxu pengen jadi halal buat kamu! Ish gitu aja ngga ngerti, emang culun kamu mah!" seru Teh Opi lagi melihat Bang Win diam saja.
"Ya niat saya emang gitu," lirih Bang Win. Aku semakin salah tingkah berada di sini.
"Alhamdulillah, ditunggu ya?" Teh Opi bangun dan pergi ke atas setelah melambai padaku.
"Masuk?" tanyanya menunjuk ke arah studio. Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
***
"12,08 FM Radio Rebel Bandung. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inoxu hadir di sini menggantikan Kang Utep yang sedang berhalangan hadir untuk menemani jam makan siang para pendengar semua. Satu lagu dari Cassandra dengan Cinta Terbaik semoga bisa menghibur ya? Selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana karena saya akan balik lagi dan membacakan kiriman suara pendengar ke Radio Rebel."
Aku mematikan mic dan menatap sinis ke arah Bang Win yang duduk tidak jauh dariku. "Jadi aku disuruh dateng tuh buat gantiin siarannya Kang Utep?" tanyaku sebal.
"Iya. Emang kamu pikir buat apa?" tanya Bang Win balik.
"Ya kirain mau ngajak jalan-jalan lagi."
"Boleh aja. Abis beres siaran ya?" ucapnya.
"Itulah Cinta Terbaik yang dibawakan oleh Cassandra. Bagi pendengar yang baru bergabung, saya ucapkan selamat datang dan selamat menikmati makan siang. Usahakan untuk selalu membawa payung ketika berpergian karena cuaca yang akhir-akhir ini tidak bisa diprediksi. Siangnya panas eh sorenya hujan deras. Sama kaya kamu! Iya kamu! Malam romantis, besok siangnya jadi sinis."
"Uhuk!" Bang Win batuk dari tempatnya ia duduk di balik meja operator lagu.
"Suara pendengar pertama datang dari Euis di Rancabolang. Mau request lagunya Agnez Mo yang judulnya Sebuah Rasa. Salam-salamnya untuk papa, mama, bibi, tante, adek, kakak, adeknya mama, kakaknya mama, adeknya papa, kakaknya papa. Eh lupa, papa sama mama aku kan anak tunggal. Yaudah deh, request lagunya aja." Aku sekuat tenaga menahan tawa saat membacakan pesan dari pendengar.
"Kamu kocak ya Euis? Masa lupa kalo mama papa kamu anak tunggal. Hahaha! Selanjutnya ada Amira. Salamnya buat Acil, Oliv, Isna, Miss Unyu-unyu, dan semua yang ada. Buat My Heartku, love you sayang. Aku sayang kamu." Aku tertawa tanpa suara dan seketika membayangkan Kang Utep yang berpenampilan sangar membacakan suara pendengar.
"Selanjutnya ada Erli di Cijaura. Salamnya buat anak dan suami yang saat ini sedang berada di sebelah saya. Lah? Hahahaha! Padahal tinggal sampein langsung aja yakan?
Lalu terakhir ada Yasir di Moh Toha. Kirim salam buat sayangku, i miss you. Eh Yasir, kok nama sayangnya ngga disebutin? Jangan-jangan lebih dari satu nih. Hahahaha! Yak itu tadi sebagian dari suara pendengar. Setelah satu lagu dari Agnez Mo dengan Sebuah Rasa, layanan telepon akan dibuka untuk satu orang pendengar yang menelepon ke Radio Rebel. Jadi, pastikan jangan ke mana-mana."
Aku mematikan mic dan kembali membaca pesan dari pendengar. Beberapa diantaranya membuatku tertawa terpingkal-pingkal dan melupakan keberadaan Bang Win.
"Emang gitu ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa?" tanyaku balik.
"Saya romantis kalau malem, tapi kalau siang sinis?"
"Iya! Nyebelin banget emang," ucapku.
"Ya maaf," sambungnya lirih.
Aku tertegun sejenak sebelum kembali membuka suara, "Ya ngga harus minta maaf juga. Cuma bilang doang aku mah. Ngga keberatan sama sekali."
Bang Win hanya tersenyum menatapku. Aku kembali membaca suara pendengar dan memantau jalannya lagu.
__ADS_1
"Yak! Layanan telepon suara pendengar sudah dibuka. Yang mau nelpon ke studio, mangga, saya persilakan," aku kembali siaran setelah lagu berakhir.
Tanda merah di monitor berkedip tanda ada telepon masuk.
"Halo dengan siapa di mana?"
"Dengan Luigi di Dago."
Deg! Aku mengenali suara ini. Suara yang berusaha aku lupakan selama bertahun-tahun.
"Hai Luigi, apa kabar?" tanyaku pada akhirnya.
"Baik. Ini Inoxu kan? Inoxu Aisyah Putri?"
"Yak betul," jawabku.
"Aku kaget waktu denger suara kamu, dan mutusin buat nelpon ke nomor radio ini. Masih inget aku kan? Luigi Fajardo, pacar kamu waktu kuliah."
Aku melirik ke arah Bang Win yang ternyata sedang menatapku dingin.
"Inget. Apa kabar?"
"Baik alhamdulillah. Kamu apa kabar? Udah jadi penyiar ya sekarang? Keren deh!"
"Alhamdulillah baik juga. Iya nih, cita-cita dari dulu akhirnya tercapai juga," sahutku pendek.
"Aku kangen deh! Nomor telepon kamu masih yang lama? Nanti aku telepon ya?"
Aku tersentak dan secara spontan menahan nafas sejenak.
"Maaf, aku udah ganti nomor telepon," jawabku lirih.
"Ya udah kalau gitu, nanti kamu aja yang duluan telpon aku ya? Nomor aku yang ini, aku tunggu loh. Oh iya, minta lagu dong Selimut Hati dari Dewa 19. Salamnya buat penyiar Inoxu yang cantik."
"Oke siap nanti diputerin ya? Makasi banyak udah nelpon ke sini." Aku sudah tidak sabar mengakhiri pembicaraan.
"Makasi ya Inoxu," balas Luigi sebelum mematikan sambungan.
"Tidak terasa sudah satu jam saya menemani para pendengar semua. Semoga terhibur dengan sajian lagu-lagu apik yang telah dan akan diputar setelah ini. Saya, Inoxu pamit. Sampai jumpa lagi, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan melepas headphone lalu menoleh ke arah Bang Win yang sedang fokus menatap layar komputer.
"Maaf kalau saya terdengar jahat, tapi nomor mantan kamu udah saya hapus dan saya ngga akan muterin permintaan lagu dari dia," ucapnya dingin.
Seketika aku tertawa lepas. "Ya hapus aja. Aku juga ngga ada niat mau tau nomor dia kok. Masa lalu akan terus menjadi masa lalu," ucapku retoris.
Bang Win menatap mataku lekat. "Saya mungkin ngga akan sanggup kalau harus kehilangan kamu."
Aku tersenyum dengan segudang rasa yang berkecamuk. Diam-diam aku menyetujui perkataan Bang Win. Aku pun mungkin tidak akan sanggup jika harus kehilangan pria itu.
Setelah beberapa saat saling diam. Bang Win bangkit berdiri menghampiriku. "Jalan-jalannya ditunda ya?"
"Kenapa?"
"Saya anterin kamu pulang aja, sekalian mau ketemu mama kamu di rumah," jawabnya.
Seketika jantungku berdebar mendengar perkataannya barusan. Dengan perlahan aku mengangguk dan kembali terdiam sampai Bang Win menyodorkan tangannya untuk kugenggam setelah sebelumnya tersenyum padaku.
__ADS_1