
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam dan selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar Kisah Tengah Malam 12,08FM Radio Rebel Bandung di mana pun berada. Malam ini Inoxu dan Adul hadir kembali untuk menyajikan kisah dari narasumber," ucapku membuka siaran.
"Betul banget Teh Inoxu. Untuk satu setengah jam Adul dan Teteh akan menemani kalian semua ya gaes ya? Satu lagu yang diminta oleh Mamaqia dari Anji dengan Bidadari Tak Bersayap akan Adul puterin sebagai pengawal kisah. Tetep di tempat dan jangan ke mana-mana," Adul melanjutkan.
Aku mematikan mic dan menyandarkan punggungku yang terasa pegal tanpa sebab. Karena penasaran, aku melirik Adul dan memutuskan bertanya. "Dul, di punggung Teteh ada sesuatu atau seseorang ngga?"
Adul melihat dengan teliti. "Ngga ada apa-apa Teh. Kenapa emangnya?"
"Punggung Teteh agak pegel," jawabku. "Takut ada yang nempel."
Tatapan Adul berubah sinis. "Kadang Adul teh kesian sama setan-setan di sini. Ada apa-apa pasti mereka yang disalahin duluan."
"Hahaha! Yeee, kan nanya doang Teteh mah," seruku tertawa.
Adul hanya menggeleng pelan dan mencari nomor telepon yang akan kami hubungi malam ini. Namun, dengan tiba-tiba, tanda merah di monitor menyala menandakan ada sebuah telepon masuk, yang langsung di jawab oleh Adul.
"Loh? Oh iya. Oke siap. Semangat!" ucapnya yang membuatku mengerutkan kening.
"Siapa sih? Narasumber?" tanyaku penasaran.
"Woyadong! Narasumber istimewah pokoknya. Udah, Adul aja yang handle. Teteh santai-santai aja."
Aku mengangguk dan melihat ponsel. Bang Win belum juga membalas pesanku. Sudah dua hari ini aku tidak bertemu dengannya.
Menjelang lagu yang diputar berakhir, Adul bersiap-siap untuk menyalakan mic.
__ADS_1
"Itulah tadi lagunya Anji dengan Bidadari Tak Bersayap. Romantis banget ya gaes ya lagunya? Kamu dikirim Tuhan ceunah. Hehehe! Dan narasumber kita pada malam ini udah ada di ujung sambungan. Narasumber istimewa karena kalau menurut Adul cocok banget sama lagu Anji barusan. Langsung aja kita sapa ya gaes ya? Halo, dengan siapa di mana?" Adul mengulum senyum.
"Dengan Win Patriadi di Jalan Riau."
Aku membelalakan mata dan menatap Adul seketika.
"Ow ow ow, kayanya Adul kenal banget sama narasumber ini. Bang Win! Silakan mau berbagi cerita apa nih?"
"Saya mau bercerita tentang seorang gadis yang selalu mengisi hari-hari saya."
"Manis banget sih. Mangga, Bang Win," Adul mempersilakan.
"Saya melihat gadis ini pertama kali saat dia sedang makan siomay di depan Radio Rebel. Waktu itu, saya ngga tau kalau gadis tersebut merupakan penyiar yang baru saja bergabung dan memegang program Salam Pendengar di radio tersebut.
Dari waktu pertama kali melihat, saya suka dengan gayanya yang ngga banyak tingkah serta bisa asik demgan dirinya sendiri. Tomboy walaupun berambut panjang, memakai kemeja kotak-kotak, celana jeans sobek-sobek dan sepatu kanvas. Sekilas ngga ada yang menarik karena gayanya yang saya bilang mirip seperti mahasiswa jaman dulu."
"Satu kesan yang saya dapatkan, gadis itu memiliki attitude dan juga adab yang baik. Setelah selesai makan, ia masuk ke dalam Radio Rebel setelah sebelumnya menyapa hangat orang-orang yang dikenalnya. Tukang jualan, pak satpam, petugas penjaga parkir, semua. Ia juga menyapa saya walaupun saat itu kami berdua belum saling kenal dan hanya bertemu muka sesekali," lanjut Bang Win.
"Attitude dan adab yang baik apaan? kalo udah ketemu setan, ngomongnya kasar," bisik Adul terkekeh dan seketika membuatku menatapnya tajam.
"Lama-kelamaan, saya semakin suka memperhatikan gadis itu, terutama ketika dia sedang siaran. Dia bisa dengan heboh berbicara dengan pendengar yang menelepon dan juga memberikan nasehat-nasehat yang baik.
Pertama kali kami berbicara adalah saat sebelum dia ditugaskan untuk membawakan program siaran baru dengan seorang produser program yang tidak lain adalah teman saya," tambah Bang Win.
Gia berdiri, menaruh tangannya di perut dan membungkuk ke segala arah. "Itu teh aku," ucapnya berbisik.
__ADS_1
"Sesekali saya menanyakan pada teman saya tentang gadis itu. Bahkan dengan jujur, saya berkata jika saya ingin berkenalan dan tau lebih jauh tentangnya. Namun sayangnya, gadis itu terkesan seperti menghindari saya tanpa saya tau apa sebabnya.
Sejak dia memegang program siaran tengah malam, saya menjadi lebih lama tinggal di studio. Ada rasa khawatir membiarkan gadis itu pulang sendiri setelah siaran, walau pun saya melihat jika sesekali ada seorang pria berwajah mirip yang menjemputnya usai siaran.
Ada satu kejadian yang membuat saya makin sadar kalau saya sudah memiliki perasaan yang mendalam pada gadis itu. Waktu itu, saya diminta menemani dia dan timnya siaran, karena ada kejadian aneh sebelumnya pada saat membawakan program tengah malam. Saya melihat bagaimana dia menikmati pekerjaannya walaupun dalam keadaan takut dan selalu terkejut karena hal-hal kecil yang biasa saja. Wajahnya selalu menempel dalam ingatan saya. Saat dia tertawa, kaget, kesal, ketakutan, dan banyak lagi. Dengan diam-diam saya mengambil potretnya saat sedang siaran.
Saya semakin tidak bisa menahan perasaan dan memutuskan keluar dari studio siaran. Begitu saya keluar, sesuatu terjadi dan membuat dia serta timnya berlarian keluar dan meninggalkan seorang penyiar lain yang kejang-kejang karena ketakutan. Setelah melihat saya, gadis itu mencengkeram lengan saya erat dan meminta tolong saya untuk menyelamatkan temannya yang tertinggal. Itu membuat penilaian gadis itu bertambah di mata saya. Di saat ketakutan, di mana umumnya manusia lain akan menyelamatkan diri sendiri, ia masih ingat akan temannya yang lain."
"Setia kawan banget ya gadis itu," sela Adul sembari berkedip-kedip menatapku.
"Iya. Hari-hari selanjutnya, hati saya selalu menghangat ketika melihatnya dan merasa ada yang kurang jika tidak melihatnya. Sampai di suatu waktu, saya berkesempatan siaran berdua dengannya. Di situlah saya semakin yakin jika gadis penakut itu sudah menyita seluruh pikiran saya.
Saya tipe yang sulit untuk berkata langsung jika saya memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Yang saya bisa hanya memperlakukannya secara istimewa. Saya tau persis jika kaum wanita menginginkan kepastian, walaupun untuk saya sendiri, tindakan yang saya lakukan adalah bukti nyata jika saya sayang padanya. Dari semua kalimat latihan yang sudah saya rencanakan untuk memintanya menjadi pacar saya, tidak ada yang berguna. Pada akhirnya, saya hanya bisa berkata padanya jika ia milik saya, dan saya miliknya. Untungnya gadis itu mengerti dan tau hubungan kami mengarah ke mana."
"Sweet banget sih! Jadi Bang Win ini tipe yang No Talk Action Only ya? Ga banyak bicara tapi langsung dengan bukti nyata," ucap Adul terkekeh.
"Bisa dibilang begitu. Walaupun saya tau, wanita mana pun pasti suka diberi kata-kata romantis."
"Woyadong! Udah jelas itu mah," jawab Adul.
"Itulah kenapa saya memutuskan menelepon ke Kisah Tengah Malam untuk mengatakan sesuatu. Inoxu Aisyah Putri, saya sayang sama kamu. Saya ingin hidup menua bersamamu, saya ingin memasukkan kamu ke dalam masa depan saya. Saya sudah membicarakan hal ini pada mama dan kakak kamu. Minggu depan saya akan datang, untuk melamar kamu secara resmi."
Adul, Gia dan Remi kompak menutup mulut mereka yang menganga sedangkan aku terpaku berusaha mencerna yang terjadi.
"Dul, puterin Janji Suci dari Yovie Nuno ya? Sekian aja cerita dari saya. Sukses terus untuk Kisah Tengah Malam. Wassalamualaikum," ucap Bang Win sebelum memutus sambungan.
__ADS_1
"Romantis banget ya gaes ya? Dilamar di siaran radio dan didengerin orang banyak. Banyak yang baper ini pasti. Yak, selesainya kisah dari Bang Win Patriadi menandakan Kisah Tengah Malam selesai. Satu lagu dari Yovie Nuno akan Adul putarkan sesuai permintaan Bang Win. Adul pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku melepas headphone yang kupakai dan masih terpana selama beberapa saat. Tubuhku dialiri sensasi aneh yang membuatku ingin menangis. Bukan karena sedih, melainkan karena bahagia.