Siaran Radio Tengah Malam

Siaran Radio Tengah Malam
Episode 28


__ADS_3

Aku celingukan ketika sampai di depan meja resepsionis. Aman! Sejauh ini, belum terlihat sosok Bang Win. Besar kemungkinan pria itu tidak berada di stasiun radio. Sembari duduk di sofa dan menunggu kedatangan yang lain, ingatanku kembali ke sore kemarin saat Bang Win bertemu mama di rumah. Ucapannya tentang 'dekat, sayang, melamar, dan menikah' membuatku yang sedang minum di sebelahnya tersedak hebat sampai-sampai air yang seharusnya kutelan itu keluar lagi dari hidung.


Sepulangnya Bang Win, mama dan kakak menyidangku karena hal tersebut. Mereka mengira ada hal yang buruk telah terjadi dan itu yang membuat Bang Win harus secepatnya bertanggung jawab. Bahkan, kakak laki-lakiku satu-satunya menaruh Al-Quran di atas kepalaku dan meminta bersumpah bahwa apa yang mereka pikirkan tidaklah benar. Itu juga setelah beberapa tepukan keras pada lenganku yang kuterima dari mama.


Pluk! Saat sedang fokus mengingat kejadian kemari, sebuah tangan menepuk bahuku pelan.


"Mama!" teriakku spontan dan langsung berdiri melihat ke arah belakang.


"Lagi mikirin apa sampai ngga sadar kalau saya dateng?" tanya Bang Win datar.


"Ya mikirin kamu-lah," jawabku asal yang langsung kusesali beberapa detik kemudian. Aku tidak mau dianggap tukang gombal.


"Saya kenapa?"


"Ya itu, omongan Bang Win kemarin," jawabku.


"Kamu ngga mau emangnya kalau nikah sama saya?"


"Ya mau aja," balasku.


"Ya udah. Tugas kamu tinggal berdoa aja, supaya kita dapat restu."


Tanpa Bang Win tau, sebenarnya mama sudah jatuh hati padanya sejak pertama bertemu. Menurut mama, jarang sekali ada laki-laki yang berani bertemu orang tua untuk meminta ijin menjalin hubungan dengan sang anak. Namun, karena terlampau mendadak, mama takut sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Ah elah! Sekalinya ketemu orang, pasangan yang lagi bucin-bucinan!" gerutu Kang Utep menuruni tangga dan ikut duduk bersama kami.


"Emang dari tadi ketemunya bukan orang?" tanya Bang Win.


"Bukan. Eh Xu, nanti di studio hati-hati ya? Saya nemu kelabang sama lintah berkali-kali," ucap Kang Utep. "Terus kalau kamu nanti ngerasa ngga enak badan pas di dalem, kaya ngerasa pengap atau susah napas, langsung keluar aja, oke?"


"Kenapa emangnya, Kang?" tanyaku penasaran.


Kang Utep melihat ke arah Bang Win yang mengangguk sebelum akhirnya kembali menatapku. "Lagi ada serangan besar-besaran, Xu. Jadi yang di sini pada keluar semua."


"Gimana sih maksudnya?"


"Beberapa waktu lalu ada orang yang niat banget pengen beli radio ini. Harga yang dikasih juga bagus, tapi owner nolak karena radio ini memiliki nilai historis buat owner," jelas Bang Win.


"Ownernya kan Bang Win," balasku.


"Salah satunya. Cuma emang kami sepakat ngga akan ngelepas radio ini," jelasnya.


"Dan setelah itu, banyak banget kiriman-kiriman datang," tambah Kang Utep.

__ADS_1


"Taunya dari mana?"


"Dari para penghuni lama yang semakin sering nampakin diri. Dari binatang-binatang aneh yang suka muncul di tempat yang mustahil," jawabnya.


"Nampakin diri?" tanyaku mengerutkan kening.


"Iya. Penghuni di sini biasanya tenang-tenang aja. Mereka bereaksi kalau ada faktor X dari luar yang masuk. Kasarnya gini, penghuni sini itu satu kelompok, dan ngga sembarangan makhluk dari luar bisa masuk ke kelompok mereka. Jadi begitu ada yang mau masuk, mereka ngelawan karena makhluk seperti mereka juga punya yang namanya teritori."


"Oh," ucapku pendek sambil mencerna perkataan Kang Utep.


"Kamu peka, Xu. Perubahan atmosfernya pasti bakal kerasa, sama seperti orang-orang di luar sana yang juga peka," tambah Kang Utep lagi.


Obrolan kami terputus karena masuknya Adul, Gia dan Remi. Sepertinya kondisi Gia sudah jauh lebih baik karena dari tadi ia tidak berhenti berbicara tentang banyak hal. Tepat sebelum jam sebelas, kami berempat naik ke studio untuk memulai siaran.


***


"Saya ditinggal ibu saya di rumah kakaknya pada saat berumur dua tahun. Sejak saat itu, saya selalu menganggap budhe sebagai ibu saya. Jadi, sewaktu ibu kandung saya datang dan menuntut saya untuk kembali padanya, saya menolak."


Aku dan Adul sedang berbincang dengan seorang narasumber bernama Kalara yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit kota Bandung.


"Teh Inoxu bayangin deh. Umur dua tahun, saya yang belum ngerti apa-apa ditinggal karena ibu saya lebih memilih suami barunya. Budhe merawat saya seorang diri karena beliau ditinggal pakde tidak lama setelah saya dalam pengasuhan mereka."


"Pakde Teteh emang ke mana?" tanya Adul.


"Pakde saya meninggal karena sakit, Kang Adul."


"Ngga sama sekali. Sejak saya dititipkan di budhe, ibaratnya, ibu putus hubungan dengan kami. Saya menjadi saksi hidup yang melihat budhe bekerja tanpa lelah, siang malam untuk membiayai saya. Dan setelah semua kerja keras budhe yang membuat saya bisa sesukses sekarang, ibu kembali dan menuntut saya berbakti padanya hanya karena menurutnya surga saya ada padanya.


Kalau Teh Inoxu atau Kang Adul di posisi saya, mau bagaimana?" tanya Kalara.


"Ya kalau saya mah nikah cepet aja, jadi surga saya pindah ke suami," jawabku tanpa berpikir panjang.


"Iya sama, Adul juga bakal kaya gitu sih kalau jadi Teh Kalara."


"Saya sakit hati, karena banyak tetangga yang bilang kalau saya anak ha*ram. Kalau kehadiran saya tidak diinginkan. Kalau keberadaan saya adalah sebuah kesalahan. Bahkan menurut beberapa keluarga jauh, ibu sering menyiksa saya sewaktu saya kecil, diperkuat dengan bekas luka yang masih membekas sampai sekarang."


"Astagfirullah," ucapku dan Adul spontan.


"Saya masih harus berbakti jika seperti itu, Teh? Kang?" tanyanya.


"Iya," jawabku. "Berbakti dengan memperlakukan ibu Teteh dengan baik ... Dan seperlunya. Lebih dari itu ngga. Apalagi jika dituntut harus melakukan sesuatu karena alasan berbakti. Berbakti tidak berlaku untuk hal-hal yang salah."


"Adul setuju!" sambung Adul.

__ADS_1


Keheningan tercipta selama beberapa saat, hingga terdengar helaan napas panjang dari ujung saluran.


"Iya saya ngerti maksud Teteh. Makasi ya? Setelah dengar ucapan Teteh barusan, saya ngerasa lebih baik."


"Sama-sama ya Teh. Sehat selalu," balasku menutup pembicaraan.


"Yak pendengar semuanya. Kisah Teh Kalara ini secara pribadi bikin saya sedih. Masih ada orang tua diluar sana yang menggunakan statusnya sebagai orang tua untuk menuntut banyak hal dari anak-anak mereka dengan alasan berbakti atau hutang budi.


Yang bisa saya bilang, ngga ada yang namanya hutang budi pada orang tua karena mereka sudah melahirkan dan merawat kita, anak-anak mereka. Kita sebagai anak tidak minta dilahirkan, merekalah yang berkali-kali meminta kehadiran kita pada Allah SWT. Dan buat saya pribadi, berbakti itu tidak berlaku untuk hal-hal yang salah," ucapku panjang lebar. Aku menoleh ke arah Adul yang sudah terlihat berkaca-kaca dan memutuskan untuk menutup siaran.


"Satu lagu dari Melly Goeslaw dengan Bunda, akan menjadi penutup Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu dan Adul pamit, 12,08FM Radio Rebel Bandung. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan dengan cepat melepas headphone karena Adul yang sudah tersedu-sedu di sebelahku.


"Adul inget, dulu juga bapak ninggalin emak waktu Adul masih kecil sampai akhirnya putus sekolah. Adul jadi saksi bagaimana Emak bekerja sampai kepala dijadiin kaki buat menghidupi Adul," jawabnya setelah aku bertanya ada apa.


Gia dan Remi mendekat dan ikut berkaca-kaca. Bagi seorang anak, orang tua adalah sosok terbaik, terkuat, dan terhebat tanpa cela. Itulah kenapa, para anak akan merasa sangat sedih ketika mendapat perlakuan buruk dari orang tua.


Adul menelungkupkan kepalanya di meja dan kembali menangis. Aku hanya bisa diam saat lama-kelamaan ada sesuatu yang ganjil terdengar.


Kik kik kik kik!


Tangisan Adul berubah menjadi kekehan kecil lalu menjadi tawa cekikikan. Dengan spontan, aku berdiri dan menjauh. Ekspresi bertanya-tanya tergambar jelas di wajah Gia dan Remi.


Kik kik kik kik!


"Si Adul tadi nangis kok sekarang bisa ketawa?" tanya Remi.


Kik kik kik kik!


Suara tawa Adul semakin kencang dan jelas terdengar. Aku menatap ke arahnya dan tersentak ketika ia mengangkat wajah dengan tatapan lekat ke arahku.


"Neng geulis, ieu nini datang. Nini bade kopi! (Anak cantik, ini nenek datang. Nenek mau kopi!)" ucap Adul dengan suara yang berbeda.


Kik kik kik kik!


"Si Adul kesurupan an*jir!" seru Gia terkejut lalu berlari secepat kilat keluar studio.


"Nini bade kopi! (Nenek mau kopi!)" seru sosok Adul menyeringai.


Aku gelagapan dan ikut berlari ke luar bermaksud ke arah pantry. Tidak lama kemudian, aku menaruh sekaleng kopi instan tepat di sebelah Adul.


"Naon ieu? Nini hoyong kopi! Burukeun! (Apa ini? Nenek mau kopi! Cepat!)" sentaknya lagi.

__ADS_1


Remi terpaku di tempat sedangkan aku salah tingkah. Untungnya tidak lama kemudian Gia kembali dengan Kang Utep, Bang Win, serta seseorang yang aku kenali sebagai pak ustad yang tempo hari menyadarkan Adul.


Bang Win sendiri meminta kami pulang dan akan mengantarkan sampai ke rumah masing-masing. Kami berjalan bersama ketika tiba-tiba di tengah tangga, sesuatu yang tidak terlihat menusuk kuat jantungku dan membuatku kehabisan nafas hingga akhirnya semua gelap.


__ADS_2