
"Argh" teriak hendra
"Bajingan" hendra mengepalkan tinjunya kemudian bergerak meninju Wajah David hingga pingsan
"Aku sebaiknya mengantarkan Lidya terlebih dahulu" ucap Hendra kemudian menggendong tubuh Lidya
"Hallo, aku sudah menemui Lidya, kamu berada di mana?" Tanya Hendra
"Sekarang berada di depan bar" ucap Bella
"Aku akan segera keluar" ucap Hendra kemudian mematikan teleponnya
Beberapa saat kemduian
"Kamu cepat bawa dia, takutnya akan terjadi apa apa, ini sudah malam" ucap Hendra
"Kenapa kamu memegang bahu kirimu? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Bella
"Tidak apa apa, aku baik baik saja" jawab Hendra
"Coba aku lihat sedikit saja" ucap Bella kemudian menggeser tangan Hendra dengan paksa
"ah" teriak hendra sakit
"A...apa darah? Kenapa apa kamu berkelahi di bar?" Tanya Bella
"itu tidak penting, segera bawa lidya aku akan mengobatinya" ucap Hendra kemudian Pergi
"Mendesing" hendra menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju ke rumah miliknya
Beberapa menit kemudian
"Pak, apa melihat orang seumuran saya ke sini?" Tanya Hendra ke satpam di gerbang
"Tidak, saya tidak melihatnya dari tadi" jawab Satpam kemudian hendra masuk ke dalam
"kreek" hendra mendorong pintu kamar Layla
"Eh nggk di kunci? apa dia tidak marah? semoga begitu" ucap Hendra lalu masuk dan melihat Tubuh Layla yang membelakangi dirinya
"Hah, layla apa kamu sudah tidur?" Ucap Hendra sambil menghela napas
"Bruk" Hendra menjatuhkan tubuhnya membuat guncangan sehingga layla sekarang berada di pelukan hendra
"Argh, sakit sakit" teriak hendra yang terluka karena tembakan
"Ke..kenapa Apa aku melukaimu?" Tanya Layla yang tak tidur karena memikirkan hendra
"Tidak apa apa" ucap Hendra sambil memegang bahu kirinya
"kemana kamu sebelumnya?" Tanya Layla
"ah i..itu Aku pergi ke bar" jawab Hendra
"Kenapa Teknik penyembuhan tidak aktif? Apa tidak bisa karena ini bekas tembakan?" Tanya Hendra pada dirinya
"Kamu selalu memegangi bahu, apa itu baik baik saja?" Tanya Layla
"baik baik saja, kamu tidak perlu khawatir" ucap Hendra
"Aku ingin melihatnya" ucap Layla
"Kamu tidak marah lagi?" Tanya Hendra
"Tidak, aku hanya ingin kamu selalu bersamaku dan tidak meninggalkan ku walaupun sudah memiliki wanita" ucap Layla
"ya aku janji tidak akan meninggalkanmu" ucap Hendra kemudian memeluk Layla
__ADS_1
"Aku ingin melihat bahu milikmu" ucap Layla
"Baiklah" ucap Hendra kemudian duduk di sofa
"I...itu berlubang? dan ada hitamnya? Apa itu?" tanya Layla
sebelumnya hendra sudah membersihkan darah dan mengganti pakaiannya
"Itu bekas tembakan" jawab Hendra
"Apa itu sakit?" Tanya Layla
"Tidak karena kamu sudah memaafkanku, ini tidak sakit" ucap Hendra
"ih, aku tidak sedang bercanda" ucap Layla
"Aku akan mengambil kotak P3K terlebih dahulu" ucap Layla kemudian berlari ke bawah
"huft, apa ini tidak bekerja karena masih ada peluru di dalamnya?" Tanya Hendra kembali
[benar tuan, di dalamnya masih ada peluru jadi sistem tidak dapat menyembuhkannya]
"Ah ternyata begitu, sepertinya aku akan mengambil pelurunya besok saja" ucap Hendra kemudian Duduk di kasur
"Kreek"
"perlihatkan bahumu, aku akan mengibatinya" ucap Layla berdiri di menghadap hendra
"Tidak perlu, besok juga akan sembuh" ucap Hendra kemudian
"Sudah aku bilang aku akan menyembuhkanmu, sekarang buka pakaiannya, kalau tidak aku yang akan memakannya" Ucap Layla duduk di sebelah hendra
"ini masih ada pelurunya, jadi tidak dapat di obati sekarang, hanya bisa merebus obat untuk mengurangi sakitnya" ucap Hendra mengambil kotak obat lalu menyimpannya di meja dekat tempat tidur
"Sekarang ayo kita tidur dulu, kamu besok apa akan sekolah, atau sudah sembuh?" Tanya Hendra
"Selamat tidur, semoga tuhan mempertemukan kita dalam mimpi indah malam ini" ucap Hendra memeluk Layla
Layla tak menanggapinya hanya tersenyum
esok hari
rumah Lidya
"kepala ku sakit sekali" ucap Lidya memegangi kepalanya dengan kedua tangan
"kenapa kamu semalam mabuk? kakak sudah bilang kan jangan minum lagi, untung saja hendra menemukanmu dan segera kakak bawa ke rumah sakit, jika tidak kamu akan merasakan sakit yang lama" ucap Bella
"Maafkan aku kak" ucap Lidya
"lalu kenapa wajahmu bengkak semalam? Apa kamu menangis?" Tanya Bella
"Hiks..... He....Hendra sudah memiliki wanita" ucap Lidya menangis di pelukan bella
"Sudah sudah, kakak sudah bilang jangan mendekatinya lagi" ucap Bella
"sejak kapan kakak bilang begitu?" Tanya Lidya
"lalu apakah hendra baik baik saja?" Tanya Lidya tiba tiba menanyakan kabar hendra
"Tidak tahu, semalam kayaknya dia sudah berkelahi sampai bahunya terkena tembak" ucap Bella
"tertembak? Apakah semalam dia habis bertarung karena aku?" Tanya Lidya
"mungkin, kamu cepat siap siap, kakak akan pergi bekerja, apa kamu tidak akan pergi ke kampus?" Tanya Bella
"Aku akan pergi kelas" ucap Lidya kemudian pergi membersihkan dirinya
__ADS_1
rumah hendra
"kapan kamu akan mengambil peluru yang berada di bahumu? Apa itu tidak akan kamu ambil?" Tanya Layla
"Tolong ambilkan pisau" ucap Hendra
"u...untuk Apa?" Tanya Layla
"Aku akan mengambil peluru yang berada di dalam bahuku" ucap Hendra
"ja..jangan nekad" ucap Layla
"sudahlah biar aku saja" ucap Hendra kemudian mengambil pisau
"Sreet" hendra merobek kulitnya dengan pisau tajam yang di pegangnya
"Argh, aku tidak mau melihatnya" ucap Layla menutupi Wajahnya
"Ugh, ini tidak seberapa dengan rasa sakit sebelumnya" ucap Hendra mengambil peluru itu
"Apa sudah selesai?" Tanya Layla
"Sudah, kamu jangan khawatir" ucap Hendra
"Apakah itu sakit?"Tanya layla
"Kamu tidak akan merasakannya jika belum mencobanya" ucap Hendra
"memangnya aku segila dirimu" ucap Layla
"Kenapa lukanya sudah tidak ada? itu hanya sulap? wah ternyata kamu bisa sulap" ucap Layla yang sudah tidak melihat bekas luka di bahu kiri Hendra
"Ya ini sulap" ucap Hendra dirinya tidak dapat menjelaskan apa yang dia miliki seperti sistem dan kemampuan lainnya
"Ding Dong"
"Ding dong"
"sebentar" ucap Hendra kemudian berjalan ke luar
"Kreek"
"Ah Li..Lidya untuk apa kamu pagi pagi ke sini?" Tanya Hendra
"Apa lukanya sudah sembuh?" Tanya Lidya
"Maafkan aku sudah berbohong padamu" ucap Hendra
"tidak apa apa, kamu semalam terluka untuk melindungiku? Apa sudah sembuh?" Tanya Lidya
"Kamu tahu dari siapa? apa bella memberitahumu?" Tanya Hendra
"Iya kakak aku memberitahu bahwa kamu terluka" ucap Lidya
"Siapa sayang?" Tanya Layla
"Ah hallo kita bertemu lagi" ucap Lidya
"Eh i..iya Kamu bukankah murid tercantik di universitas kita" ucap Layla yang baru menyadari lidya.
"I...iya Kamu juga tercantik nomor 2 bukan" ucap Lidya
"................"
"..............."
"A.. apa apaan, mereka sudah akrab bahkan ketawa ketawa dan membiarkanku" ucap Hendra
__ADS_1