
Alisa yang juga sama kantuk seperti layla dia berjalan ke atas.
Esok Hari
Hendra bangun seperti biasanya, setelah mandi Hendra menelepon Robi untuk memastikan apakah Dia baik-baik saja.
"Halo, ada apa Dra?"
"Lo gak melakukan apa-apa kan?" Hendra masih cemas dengan masalah semalam, dia takut Robi akan melakukan hal diluar perkiraan.
"enggak lah ngapain aku lakuin hal itu, toh tidak ada untungnya bagiku" Setelah pulang Robi merenung sejenak di dalam kamarnya, dia berpikir jika melakukan hal bodoh tersebut tidak akan membuatnya untung.
"Cuman ingin mengingatkan saja jam 1 siang kita ketemu, oh ya Bi lo kenapa hari itu gak kerumah? padahal mau aku kasih sesuatu"
"Gak ah aku gak enak nerimanya, kalau begitu sampai jumpa siang nanti" Robi mematikan Telepon dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
[Misi terdeteksi]
[Taklukan Kampung Bandit]
[Hadiah]
-Pasukan Kampung Bandit
[Waktu]
-3 hari
[Hukuman]
- Tidak ada
"Hah, yang sebelumnya aja belum selesai udah ada misi yang lain, tapi kenapa tidak ada hukuman? Apa karena sangat mudah untuk di taklukan? kalau begitu selesaikan saja sambil ajak Robi" Hendra Berniat untuk mengajak Robi Menaklukan Kampung Bandit dengan caranya sendiri.
"Baru jam 7 pagi udah pada kemana?" Hendra keluar dari kamarnya dan tidak menemukan satupun wanitanya.
__ADS_1
Hendra berjalan ke meja makan dan menemukan Makanan yang sudah di siapkan layla sejak pagi.
"Kemana mereka?" Hendra masih tidak mengetahui kemana semua wanitanya pergi.
"Surat?" Hendra melihat sebuah surat dari dekat meja tersebut dan mengambilnya.
"Hendra sayang, kami bertiga pergi ke kantor dan Lidya sudah sejak malam hari sudah pulang karena di cari oleh Kakaknya, jika kamu ingin menemui kami pergi saja ke kantor Alisa" Layla pergi ke kantor Alisa untuk menambah wawasan dirinya, lagipula Kuliahnya lagi libur dia tidak bisa dirumah saja yang membuatnya bosan.
'Hais, aku khawatir jika si Ryan itu akan mencelakai mereka, apa yang harus aku lakukan? jika diriku terus mengawasi mereka lalu siapa yang akan menyelesaikan misinya? Sebaiknya Diriku harus cepat untuk membangun sebuah perusahaan yang dibangun hanya untuk memperkuat pasukan" Hendra masih takut akan situasi saat ini, dia hanya satu orang dan lagi dirinya belum cukup kuat untuk bertarung.
"Lalu aku harus mulai dari mana?" Hendra bertanya pada dirinya sendiri
"Bukannya ada kampung bandit? bagaiamana jika aku bangun sebuah markas di sana dan menjadikan orang-orang di sana sebagai pasukan, toh mereka aku yang akan taklukan" setelah berpikir demikian Hendra keluar menggunakan mobil miliknya.
1 jam kemudian
"Hah, kenapa hidup serasa hampa, hanya berkeliaran seperti ini apa yang harus aku lakukan" Hendra hanya berkeliling jalanan yang berada di kota Serang, dia tidak pernah melakukan perjalanan yang jauh selain di kotanya sendiri.
Disisi lain Ryan Sedang mencari seseorang yang dapat membantu dia untuk membalas dendam pada Alisa, Ryan Pergi ke seseorang yang dia kenal agar dapat menandingi Hendra saat ini, tetapi sayangnya Ryan tidak pernah memiliki kenalan yang dapat membantunya, terpaksa dirinya harus menyelesaikannya sendiri dengan caranya sendiri.
"Brengsek, jika saja aku mengetahui orang-orang hebat akan aku lakukan Cara apapun untuk menyewa mereka" Ryan memaki dirinya.
"Pembunuh bayaran? kamu mengetahui dimana mereka berada?" walaupun Ryan adalah Pengusaha yang berada di tingkat menengah dia tidak mengetahui tentang pembunuh bayaran.
"Saya mempunyai nomornya bos, jika anda berminat saya akan mengirimkan nomornya kepada anda"
"Bagus, kamu kirim sekarang" Ryan merasa bahagia ketika dia melihat secercah harapan.
Ray mengirimkan nomor sang pembunuh bayaran yang dia miliki.
Kantor Alisa.
"Alisa, Apa kita hanya melihat dokumen-dokumen ini? ini sangat melelahkan" Layla yang tidak biasa menghadapi banyak dokumen yanh berada di hadapannya mulai lelah.
"Ya, kita hanya memeriksanya dan jika ada yang salah kamu harus memberikannya kembali kepada mereka agar di cek kembali" Alisa berbicara sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi..... ini sangat banyak, aku sudah lelah, biskaha istirahat sejenak"
"Kamu bisa tidur di sana" Alisa menunjuk sebuah ruangan yang berada di sebelah dirinya.
"Apa itu? apakah ada kamar juga?" Layla Tidak mengetahui semua tempat yang berada di kantor Alisa, dia baru pertama kali pergi ke perusahaan alisa dan bahkan ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di perusahaan siapapun itu.
"Uwah Ruangannya sangat bersih dan nyaman untuk di pandang, apa ada yang membersihkan ruangan ini setiap harinya?"
"Ini adalah ruangan pribadi milikku, dan tidak ada yang pernah memasuki ruangan ini selain diriku dan kamu, jika kamu ingin tidur tidurlah, aku akan mengerjakan pekerjaan yang ada"
"Jika kamu ingin ke kamar mandi sebelah sini.... sebelah sini......" Alisa memberitahu semua ruangan yang ada di dalam.
"Aku tidak perduli dengan yang lain, aku hanya ingin istirahat" Layla Merebahkan tubuhnya dengan cepat, dia sudah lelah karena terus menerus melihat kertas yang berwarna putih.
"Sudahlah, tapi kamu harus janji tidak akan melakukan apa-apa" Alisa keluar setelah memberitahu Layla.
Layla tak mengatakan apa-apa, dia menutup matanya dan tertidur dengan pulas.
"Apa sudah selesai?" Alisa bertanya pada Ana yang sedang berada di hadapannya.
"Hampir bos" Jawab Ana
Walaupun Alisa sudah menganggap ana sebagai saudara, ana tetap memanggil Alisa Sebagai bosnya di waktu kerja.
"Aku sudah bilang jangan panggil bos, panggil saja nama ok" Alisa memegang Kedua pipi Ana dengan gemas.
"Kigabisa Gos, Ini sedang wagtu gerja" Ana tetap memanggil Alisa bos walaupun sudah dilarang.
"Sudahlah, terserah padamu saja, aku akan kembali ke tempatku" Alisa tidak lagi mempedulikan Tentang nama panggilannya, toh dia juga sudah biasa di panggil seperti itu.
Rumah Lidya
Lidya sedang di marahi habis-habisan oleh Bella, Sebelumnya Lidya tidak bilang bahwa dirinya akan bermalam di rumah hendra.
"Lidya, jawab kakak semalam kamu ada di mana? jangan membuat khawatir saja bisa tidak? kalau sampai ayah mengetahui bahwa kamu tidak pulang mungkin dia akan cemas" Bella Memarahi Lidya dengan air mata yang menetes, dia tidak ingin kehilangan adik satu-satunya.
__ADS_1
"ayah?cemas? kak apa kakak sudah lupa bahwa dia tidak pernah lagi kembali setelah beberapa tahun terakhir, bahkan tidak pernah menghubungi aku dan kakak, kakak masih menganggap dia sebagai ayah? Ayah yang menelantarkan anaknya begitu saja"
"Bagaimanapun dia tetaplah Ayahmu, Lidya.... mungkin saja ayah sedang sibuk" Bella tidak bisa mengatakan bahwa ayahnya bukanlah ayah yang baik.