
Lidya Bertelungkup dan melihat ke arah Hendra " Apa seperti ini?" Tanya Lidya
"Ya, aku akan mengobatinya sekarang juga" Hendra berjalan ke arah Lidya.
"Kamu harus menahannya, aku akan menusukkan jarum ke titik akupunktur milikmu" Hendra mengambil Jarum kecil yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Di sisi lain bella turun ke bawah dan melihat Lidya sudah tidak ada di sana, dia mencari ke luar tidak ada dan hanya di kamar Lidya yang belum dia cek, berjalan perlahan ke arah kamar adiknya dia melihat bahwa pintunya tidak di kunci dan membukanya.
Ketika dia membuka pintu tersebut dirinya sangat terkejut saat melihat apa yang di lakukan keduanya.
"Apa yang kalian lakukan" Bella masuk ke dalam dan berbicara dengan keras.
"Kakak, kami sedang...." Lidya ingin berkata jika dirinya sedang di sembuhkan oleh Hendra tetapi dirinya dibentak keras oleh Bella.
"Aku tidak peduli jika kalian berpacaran tetapi jangan sampai melakukan hal seperti itu, untuk apa kamu melakukannya dan lagi kenapa melakukannya di sini" Bella sangat marah saat dirinya melihat adiknya hanya memakai pakaian dalam dan bra.
"Kakak, dengarkan dulu ini tidak seperti yang kamu kira" Lidya berusaha keras menjelaskan Kepada Bella.
"Aku tidak melakukan apapun, hanya ingin menyembuhkan penyakit yang dia derita" Hendra membantu Lidya berbicara, dirinya juga tidak ingin di cap sebagai laki-laki yang seperti itu, padahal sudah begitu.
"Menyembuhkan penyakit? cih aku sudah membawanya ke berbagai dokter di seluruh kota ini dan tidak ada satupun dari mereka yang dapat menyembuhkannya, haruskah aku mempercayai orang yang baru saja aku kenal" Bella tidak mempercayai hendra sedikitpun.
"Aku tidak perduli jika kamu percaya atau tidak, aku akan menyembuhkannya walaupun kamu melarang" Hendra tetap pada pendiriannya, dia tidak ingin jika Lidya memiliki penyakit sedikitpun walaupun itu hanya masuk angin biasa.
"berapa persen keyakinan yang kamu miliki untuk bisa menyembuhkannya?" Bella bertanya karena penasaran dengan keberanian Hendra yang kekeh ingin menyembuhkan Adiknya.
"100% kamu dapat memegang kata-kataku jika aku tidak dapat melakukannya kamu dapat mengambil nyawaku" Hendra mempertaruhkan nyawanya untuk menyembuhkan Lidya.
"Aku akan memegang kata-kata yang kamu ucapkan" Bella sedikit yakin dengan Hendra, dia ingin melihat apakah benar Hendra dapat melakukannya.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku bisa melakukannya? Bukankah aku tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dengan ini? mempertaruhkan nyawa dan tidak mendapatkan apapun"
"Aku akan memberikan 200 juta untukmu" Bella berbicara Seolah 200 juta besar bagi hendra.
"hahhahah kau sangat lucu, 200 juta tidak ada apa-apanya bagiku, aku tidak butuh uang" Hendra Menatap tubuh Bella dengan tersenyum aneh.
"mesum, jangan coba-coba untuk melakukan itu, jika kamu tidak mau menyembuhkannya tidak perlu memaksaku untuk itu"
"Aku hanya bercanda" hendra membalikan badan ke arah Lidya dan kembali mengambil Jarum dari kotak kecil di dekatnya.
"Apa tidak akan sakit?" Lidya bertanya dengan takut, dia sangat takut kepada jarum suntik dan itu juga termasuk jarum karena jika di tusukan rasanya sama.
"Tidak akan sakit, hanya seperti di gigit semut" Hendra berbicara sambil menusukkan Satu persatu jarum ke titik akupunktur Lidya
"Jangan bercanda, aku tidak percaya dengan kata-kata itu sebelumnya karena kakakku juga pernah mengatakannya sebelumnya" Lidya tidak merasakan apapun saat Hendra menusukkan Satu persatu jarum ke titik akupunktur miliknya.
"Apa? Aku tidak meraskan ada jarum yang menusuk, kenapa kakak bertanya seolah jarum tersebut sudah menancap di kulitku" Lidya berbicara dengan Memejamkan matanya, dia tidak sanggup jika harus melihat ke belakang saat Hendra menusukkan jarum ke titik akupunkturnya.
"Aneh, sepertinya benar kamu tidak meraskan sakit, kalau begitu aku ingin mencoba juga" Bella sangat penasaran karena ketika Lidya di suntik dengan dirinya Lidya berteriak histeris, tetapi saat ini bahkan tidak mengeluarkan sedikitpun suara.
Beberapa menit kemudian Hendra mengeluarkan kembali jarum dari Kulit Lidya.
"Sudah, kamu dapat duduk" Hendra yang sudah mengambil semua jarum dia meletakanya ke kotak sebelumnya.
"Sudah? kenapa aku tidak merasakannya?" Lidya heran karena dirinya bahkan tidak dapat merasakan apa yang tidak mau dia rasakan.
"iya sudah, semuanya sudah sembuh secara total, jika tidak percaya coba saja apakah rasa sakit yang sebelumnya kamu alami itu masih ada" Ucap hendra dengan yakin
"Aku akan mencoba makan,jika benar sudah tidak mungkin ini sudah sembuh" Lidya berlari ke bawah dan memastikan apakah yang hendra ucapkan benar adanya.
__ADS_1
"Aku juga ingin melihat" Bella mengikuti ke bawah untuk melihat apa benar penyakit adiknya sudah sembuh.
"Sial, aku ditinggal di sini?" Hendra tidak bisa sendiri di sana, dia juga berjalan ke bawah.
Lidya mengambil makanan yang sudah ada di sana, setelah itu dia Memasukkan ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak" Hendra melihat Lidya memakan makanan dengan sangat lahap.
"Tidak apa-apa, biarkan saja aku tidak pernah melihatnya makan dengan lahap" Karena penyakit yang dimilikinya Lidya tidak bisa makan dengan banyak, dia selalu kenyang saat makan walaupun sedikit.
Hendra Tak lagi mengatakan apapun, bagaimanapun dia mengetahui beberapa masalah pada penyakit maag.
Setelah makan Lidya terdiam, dia tidak seperti biasanya merasakan rasa yang selalu dia inginkan, tidak meraskan sakit kembali saat setelah makan pada bagian ulu hati dan di tengah dada
"sepertinya sembuh, aku tidak lagi merasakannya" Lidya sangat bahagia ketika dia tidak lagi meraskan sakit.
"apakah benar? Aku tidak percaya jika itu berhasil" Hendra merendah saat Lidya mengatakan hal itu.
[Ketertarikan Bella : 60%]
"Brengsek, sangat besar saat naik, ini juga dapat menguntungkan jika semuanya seperti ini"batin Hendra saat mendengar yang di katakan sistem.
"Maafkan aku karena sebelumnya meragukanmu" Bella meminta maaf saat dirinya tidak percaya jika Hendra akan menyembuhkan adiknya dengan sepenuhnya, jika dia mengetahui kemampuan hendra sebelumnya dia tidak akan meremehkannya.
"Tidak apa-apa, kalau begitu aku akan Pulang terlebih dahulu" Hendra Mengira jika dirinya sudah tidak ada urusan lagi di sini, jadi dia berpamitan untuk pulang.
"hendra sebentar.... aku.... Jika kamu tidak memiliki urusan lain bisakah kamu melakukan apa yang kamu lakukan kepada lidya sebelumnya, aku juga ingin merasakan apakah benar jika itu tidak menyakitkan" Bella sangat penasaran saat melihat adiknya tidak meraskan apapun saat Hendra menusukkan Satu persatu jarum.
"Baiklah, aku juga tidak ada urusan apapun hari ini" Hendra mengiyakan apa yang di inginkan Bella.
__ADS_1