
"Di....Dia anak dari wali kota? Apa kamu yakin?" Yadi sempat panik ketika mendengar bahwa Chen Yu adalah anak dari Chen Bai yang menjabat sebagai wali kota.
"Kenapa sepertinya kamu panik begitu" Ririn bertanya kepada Yadi yang menstabilkan dirinya agar tidak terlihat panik.
"Apa kamu benar apa yang kamu bicarakan?" Yadi menanyakan kembali apakah itu benar
"Kapan aku berbohong padamu? Aku tidak pernah berbohong" Ririn berkata dengan sombong.
"Apakah dia orang yang kejam juga?" Yadi takutnya kepribadian Chen Yu sama dengan ayahnya Chen Bai, Chen Bai di segani oleh semua pengusaha-pengusaha yang berada di luar kota ataupun di dalam kota.
"Untuk apa kamu menanyakan itu? Aku tidak mengetahuinya, jika saja aku ibunya baru kamu menanyakan hal itu padaku"
'Mati aku' Yadi sangat tertekan sekarang, bahkan dirinya tidak ingin menunjukkan wajahnya di hadapan wali kota, andai saja dia tidak mengejek Chen Yu saat di mall, mungkin saja dirinya tidak akan sepanik ini.
'Tapi.... bagaimana di brengsek itu dapat mengenal seorang putri bangsawan, terlebih lagi dia sampai di sambut seperti seorang yang spesial bagi Chen Yu, apa dia mengetahui cara menjinakkan Wanita? jika memang perkiraanku benar, haruskah diriku berguru padanya?bahkan melihat wajahnya saja aku selalu ingin memukulnya' Dalam pikiran Yadi hendra miliki jimat untuk memikat wanita, tapi dirinya tidak mengetahui bagaimana caranya mendapatkan jimat tersebut tanpa berguru pada hendra.
semua Laki-laki melirik hendra dengan tatapan iri, berbeda dengan tatapan wanita yang melihat hendra, mereka ada yang melihat dari penampilan hendra, ada yang kagum dan ada juga yang jijik kepada hendra, tetapi hendra tak menghiraukannya, dia berjalan mengikuti Chen Yu.
"Aku akan menunggu di sini saja" Hendra menghentikan Kakinya, dia tidak berani untuk bertatapan langsung dengan wali kota.
"Baiklah" Chen Yu juga tidak memaksanya, setelah dia mengantarkan hendra ke dalam Chen Yu pergi ke arah Chen Yang.
"Sedang apa kamu disini?" Chen Yu menepuk bahu Chen Yang membuat Chen Yang tersentak kaget.
"Ah..... kamu..... mengagetkan saja" Chen Yang sedang melihat keramaian yang berada di bawah, dia melihat ratusan orang keluar masuk.
"Katanya ingin membawa pasangan?" Chen Yang berbicara sambil melihat ke bawah tanpa melihat wajah Chen Yu.
"Kamu masih kecil, jangan membicarakan tentang itu" Chen Yu sebenarnya risih ketika dia ditanya tentang pasangan, dirinya juga menginginkan pasangan tapi yah bagaimana dia mendapatkannya tipe idealnya saja susah untuk di cari.
__ADS_1
"Hmph, kata siapa aku masih kecil, aku sudah besar tau" Chen Yang menatap Kearah kakaknya.
"Pffft, kamu sudah besar? tapi badanmu begitu-begitu saja tuh" Chen Yu tertawa kecil saat mendengar ucapan Chen Yang.
"dewasa bukan dilihat dari besar kecilnya orang, tapi dari usia seseorang, usiaku sudah 17 tahun, berati sudah dewasa" Chen Yang membela dirinya.
"Cih, dewasa itu bukan dilihat dari usia, tetapi di lihat dari sikap tindakan dan tingkah laku, tingkah lakumu seperti seorang yang berumur 4 tahun, bahkan menggunting kuku saha tidak bisa" Ejek Chen Yu
"Biarin, dari pada kamu hanya bisa mengkhawatirkan papah dan mamah, mereka ingin memiliki menantu dan juga cucu" Chen Yang membalas ejekan yang di berikan Chen Yu.
"berdebat denganmu itu membuang-buang waktu, sebentar lagi pesta ayah akan di mulai, segera turun dan temui" Chen Yu tidak bisa berkata-kata, dia pergi ke bawah untuk menemui papanya, sebenarnya dia merasa sakit hati ketika mendengar bahwa papah dan mamanya khawatir dengan keadaanya, mereka memikirkan nasib anaknya yang tidak juga menikah walau sudah berumur, kedua orang tuanya menganggap Anak pertamanya itu memiliki kelainan (yah mungkin tahu)
...****************...
tak berselang lama acaranya kemudian di mulai.
Chen Bai menerimanya hanya dengan senyuman, dia masih memikirkan hadiah yang diberikan oleh kedua orang tuanya, dan menurutnya itu adalah warisan yang di tinggalkan keluarganya.
"Selamat ulang tahun Kepala keluarga Chen, ini adalah niat baik kami dari perusahaan XXXXX"
"Selamat Ulang tahun ini........"
"Selamat...."
Sampai pada giliran hendra dia kemudian berdiri dan menatap lekat wajah Wali kota, perasaannya mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan orang tersebut, tetapi dia lupa dimana, tetapi hendra tidak mempedulikannya, dia maju dan kemudian memberikan selamat.
"Selamat ulang tahun wali kota, ini sebagai niat baik saya, maaf hanya bisa memberikan jam tangan" Hendra memberikan jam tangan tersebut
"Pffft, apa-apaan orang itu.... berani-beraninya dia hanya memberikan sebuah Jam tangan, bahkan jam tangan yang hanya seharga beberapa juta, bahkan itu tidak sebanding dengan satu daging makan Pak wali Kota"
__ADS_1
"Cih, bukannya itu adalah seorang yang tadi berada di luar, dia sebelumnya di halangi oleh Guru Chen Gu, tapi berkat nona Yu dia di persilakan masuk"
"Untuk apa dia memberikan jam tangan yang murah itu? bahkan aku bisa membelinya jika Tuan Bai menginginkannya satu Juta jam tangan tersebut pun aku akan membelinya"
"Bwahahah, lihat orang itu, dia berani-beraninya datang ke pesta hanya untuk memberikan jam tangan usang itu"
"Hendra Hendra, bahkan kamu tidak mengetahui apa yang di sukai para bangsawan, dan lagi pakaian yang kamu pakai itu membuatku jijik" Ririn mencibir
"Pak wali kota, saya akan menyeretnya keluar" Seorang berbicara dengan melangkahkan kakinya.
"Hahaha, benar, kenapa aku tidak kepikiran akan menyeretnya, bagaiamana jika aku bantu kawan"
semua orang tertawa terbahak bahak.
"Diam" Teriak Chen Bai
Satu kata saja membuat mereka yang sebelumnya tertawa sampai menangis diam dengan wajah menunduk.
"Apa yang membuat kalian tertawa? jam tangan ini?" Chen Bai yang sudah melihat jam tangan tersebut yang hampir sama dengan yang di berikan oleh kedua orang tuanya dia melihat di balik jam tangan itu.
sebelumnya Chen Bai meletakkan foto satu-satunya dia bersaman kedua orang tuanya.
Chen Bai membuka tutup belakang, ketika melihat bahwa benar di dalamnya adalah foto kenangan yang dia sembunyikan dia menangis sampai semua orang heran apa yang terjadi.
"......" semua orang tidak berani untuk berbicara, bahkan bernapas saja mereka tidak berani untuk mengeluarkan napas besar, jika saja ada sebuah jarum yang jatuh mungkin itu akan terdengar.
"pah? apa terjadi sesuatu?" Istri Chen Bai bertanya dengan bingung, sebelumnya dia tidak pernah melihat suaminya menangis, tapi setelah hari ini dia melihatnya.
"Ini.... ini adalah jam tangan yang aku cari cari selama beberapa tahun ini, bahkan sebelumnya aku pernah memborong semua jam tangan di pabriknya untuk mendapatkannya" Chen Bai menangis dengan terisak, dia menangis bahagia karena seseorang telah menemukan kenangan indahnya
__ADS_1