
"Bo.....Bos, kenapa anda ada di sini?" Amelia terkejut saat melihat Hendra dan bertanya ketika Hendra sudah di dekatnya.
"Tidak apa-apa, hanya saja ada beberapa kecelakaan tadi dan sedang menunggu istri saya" Hendra sudah menganggap mereka adalah istrinya.
"Su...sudah memiliki pacar? Aku kira masih lajang" Amelia sedikit Kecewa ketika mendengar bahwa hendra telah memiliki istri
"Ehhhh, apa yang kamu pikirkan dadar bodoh, bos kamu memiliki kekayaan yang banyak dan wajahnya juga tampan, mana ada orang setampan dia belum memiliki pacar atau istri" Amelia tersadar jika Hendra adalah orang yang sangat pantas untuk itu.
"Ma...mari bos masuk" Dengan gugup Amelia mempersilahkan Hendra untuk masuk.
Di dalam ibu amelia sedang menatap langit-langit kamar dengan rasa putus asa, dirinya sudah tak dapat melakukan apapun lagi dan umurnya sudah hampir habis.
"Bu, kata suster sebentar lagi akan ada dokter yang mengoperasi ibu" Amelia berjalan ke arah ibunya yang terbaring.
"Tidak apa-apa, ibu sudah pasrah untuk kematian ini" Bu ningsih sudah berbicara jika dirinya tidak mau di operasi karena itu membuang-buang banyak uang menurut dirinya, tetapi amelia tetap pada pendiriannya, dia tidak mau keluarga satu-satunya itu meninggalkan dirinya dan memaksa ibunya untuk operasi.
"Ibu,jangan bicara sembarangan tentang kematian, aku yakin ibu akan sembuh" Amelia menasehati ibunya agar tidak berbicara sembarangan.
"Eh, kamu membawa pacar? Kenapa baru sekarang, jika saja satu tahun yang lalu mungkin ibu sudah mempunyai cucu" Bu Ningsih melihat Hendra yang berada di belakang Amelia dan menganggapnya pacar Anaknya.
"B...." Amelia ingin menjelaskan hendra adalah bosnya tetapi dia di hentikan oleh ibunya.
__ADS_1
"Ibu sudah menantikan hari ini, jika saja ibu mati melihat kalian menikah betapa bahagianya ibu" Ningsih mengeluarkan isi hatinya saat ini, amelia yang mendengar itu dia sedikit sedih karena tidak pernah mengetahui apa yang ibunya inginkan.
"Se...sebentar lagi kami akan menikah, bukankah begitu sa..sayang" Amelia tak membicarakan hal itu terlebih kepada Hendra, dia terpaksa jika izin terlebih dahulu mungkin itu membuat ibunya curiga.
"Ya, kami akan menikah dalam 1 hari ini" Hendra sengaja melakukan itu, dia tidak terima jika harus di manfaatkan begitu saja.
"Kalau begitu sekarang saja, ibu ingin melihat kalian menikah di hari terakhir ibu" Dengan senang Bu ningsih Duduk dan menatap keduanya.
"Seharusnya aku membicarakannya kepada bos, jika seperti ini,kan jadi besar urusannya" Batin Amelia menyesali keputusannya sendiri."Tidak sekarang, setelah ibu melakukan operasi kami akan melakukannga setelah itu" Hendra yang memiliki 3 keuntungan dirinya tak akan membuang kesempatan kali ini.
"Bukankah begitu sayang" Hendra menatap amelia, Amelia mendengar itu hanya terbengong atas keputusan hendra, bagaimana jika Ibunya sedikit Kecewa karena dirinya berbohong.
"Iya benar" Amelia hanya membenarkan ucapan Hendra.
"Kapan operasinya akan di mulai? Ibu sudah tidak tahan ingin melihat kalian menikah" ketika bu ningsih ingin berdiri, dirinya merasakan sedikit sakit pada bagian kakinya ketika akan menginjakan kaki ke lantai "ah......" teriaknya
"Jangan bergerak terlebih dahulu" Hendra refleks menahan tubuh Ibunya Amelia.
"Ibu.... jangan terburu-buru, operasinya akan di mulai sebentar lagi" Amelia terkejut saat mendengar teriakan dari ibunya, tetapi pada akhirnya dia menghela napas saat melihat Hendra menangkap ibunya yang akan terjatuh.
"kenapa sampai sekarang belum juga mendapatkan hadiah dari misinya? bukankah aku sudah membantu Amelia untuk berpura-pura menjadi pacarnya" Hendra heran kenapa dia belum mendapatkan hadiahnya walaupun sudah membantu Amelia, dirinya bertanya dalam hatinya dengan bingung
__ADS_1
"Apakah harus membantu ibunya amelia untuk operasi? jika seperti itu seharusnya bukan membantu Amelia tetapi membantu operasi, bahkan sistem yang pintar dari aku memiliki kesalahan hadeh" Hendra baru berpikir jika dirinya harus membantu ibunya amelia.
"Amelia, aku akan keluar sebentar" Hendra ingin memanggil Liona agar dapat membantu misi dirinya dengan cepat, dia tidak bisa melakukannya tanpa izin dari Pemilik rumah sakit itu.
"Baik Bo..... Sa..sayang" Hampir saja amelia memanggil hendra seperti biasanya, ia segera tersadar dan memanggil Hendra dengan canggung.
Hendra keluar dan segera berjalan ke ruangan Alisa, melihat beberapa orang yang sedang menatap dirinya hendra memanggil Liona untuk keluar "Liona, apakah kamu dapat keluar sebentar"
"Baik Guru" Liona memanggil Guru kepada Hendra karena dia sudah menganggap hendra sebagai gurunya, berjalan keluar dan berdiri di hadapan hendra.
"sebelumnya aku ingin bertanya, apakah dokter di sini hanya kamu saja?" Hendra tidak mengetahui apapun tentang rumah sakit, dia bertanya dengan bodohnya.
"Tidak, ada beberapa dokter yang bekerja, untuk apa Guru menanyakan hal itu?" Liona menjawab pertanyaan Hendra dengan mudah dan balik bertanya.
"bisakah kamu memanggilku nama saja, rasanya seperti aku sudah sangat tua, dan lagi bisakah kamu membiarkan pasien yang di kamar nomor 20 itu segera melakukan operasi,aku yang akan melakukan operasi itu" Hendra Tak lagi ragu mengatakan itu kepada Liona.
"Baiklah, tapi bisakah Guru memberitahukan nama Guru terlebih dahulu? Tentang operasi itu juga saya sedikit ingin melihat beberapa keahlian yang lebih untuk meningkatkan perform saya" Liona tak ingin melewatkan kesempatannya, dia ingin melihat kemampuan Hendra yang sebelumnya karena dia sebelumnya tak memperhatikan dengan jelas.
"namaku Hendra, jika kamu ingin melihat itu terserah dirimu, aku akan melakukan operasinya sekarang juga" Hendra tahu jika dirinya sudah melewatkan beberapa menit waktu yang penting baginya, dia tidak ingin melewatkan lebih banyak lagi jika tidak dirinya akan terkena hukuman untuk pertama kalinya.
"Baik Hendra, sekarang kita akan pergi untuk operasi" Liona tak merasa canggung mengucapkan Nama Hendra, Menarik tangan Hendra dengan senang dia berjalan ke ruangan nomor 20.
__ADS_1
Ruangan tempat Alisa di rawat, beberapa orang hanya terdiam saat melihat kepergian Liona, mereka tidak mengetahui dan juga tidak ingin tahu apa yang akan di lakukan Liona, hanya saja begitu canggung rasanya ketika Kepergian Liona.
"Tak ada yang bisa di lakukan setelah ini? Aku akan pergi untuk makan siang" Lidya sudah sangat lapar, dia Berdiri dan akan berjalan untuk pergi tetapi Greg menghentikan Langkah Lidya "Nona, saya telah di perintahkan untuk menjaga kalian, jadi jika anda ingin membeli sesuatu biar saya yang melakukannya" Greg melangkah keluar, dia memiliki beberapa uang untuk membeli makanan di jalan, jadi dirinya tidak meminta uang kepada Lidya