SISTEM KEKAYAAN AND HAREM 1

SISTEM KEKAYAAN AND HAREM 1
kado Ulang tahun[5]


__ADS_3

30 menit kemudian


"Huh, badanku pegal semua" Lidya keluar dari kamar mandi bersamaan dengan hendra


"Lama sekali, aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian" Layla yang menunggu di meja makan berbicara dengan wajah yang memerah melihat hendra yang tidak memakai apa-apa


"Hei, itu punyamu kenapa tidak di lindungi, cepat ambilkan dia handuk" Layla Berteriak sambil menutup matanya


"Emangnya di rumah ini ada siapa? hanya kalian" Hendra berjalan ke kamarnya sambil memperlihatkan barang yang tegak ke depan.


Krek


Hendra membuka pintu kemudian dia memasuki kamar, ketika hendak mengambil pakaian dia melihat wajah telanjang Alisa yang membuatnya bergairah kembali.


"huh, kenapa semua wanita sangat menggoda, tapi dia belum istirahat, lebih baik aku tunggu esok pagi" Hendra mengurungkan niatnya, dia tahu Alisa sudah sangat lelah akibat dirinya semalam.


Setelah mengganti pakaian dia pergi ke meja makan tanpa membangunkan Alisa.


"Alisa belum bangun?" Layla bertanya sambil menatap hendra.


"Dia masih lelah semalam, jadi aku tidak berniat untuk membangunkannya"


bagaimanapun Alisa sudah bermain selama berjam-jam bersama Hendra dan juga dia belum tidur selama hendra bermain dengan ke tiga wanitanya.


"Kalau begitu kita sisakan saja untuknya" Lidya keluar dari kamar yang lain, dia takut jika hendra melakukan hal-hal lain lagi kepadanya.


"Dapat dari mana kamu pakaian itu?" Hendra bertanya dengan bingung, dirinya tidak melihat Lidya membawa pakaian.


"Aku memakai pakaian Layla" Lidya duduk di salah satu meja yang kosong.


"ini buat kamu" Hendra memberikan Tas yang sama dengan Layla.

__ADS_1


"Ini buat aku?" Lidya bertanya kembali untuk memastikan apakah hendra Berbohong kepadanya.


"Kamu tidak suka?" Hendra mengira bahwa Lidya tidak menyukainya.


"Tidak, aku sangat suka, ini adalah tas yang aku inginkan sebelumnya tetapi kakakku tidak memperbolehkannya karena harganya lebih dari 50 juta" Lidya sangat senang dengan pemberian hendra dia senyum senyum sendiri ketika melihat tas yang berada di tangannya.


"Li....lima puluh juta? Kenapa kamu membuang-buang uang hanya untuk membeli barang seperti itu? bukankah ada yang harganya lebih murah?" Layla terkejut ketika mendengar harga yang di ucapkan Lidya.


"Ini merupakan Tas yang bermerk, wajar saja itu mahal, apa kamu tidak pernah membeli barang di mall terbesar?" Lidya menjelaskan bahwa Tas terebut adalah tas yang kualitasnya sangat bagus.


"Aku..... aku tidak pernah membeli barang seperti itu, sebelumnya diriku hanya seorang yang tidak memiliki apa-apa, diriku bisa berkuliah ke universitas terbesar hanya karena beasiswa" Layla berkata bahwa dirinya tidak mempunyai apa-apa hanya ingin melanjutkan sekolahnya dan mencapai kesuksesan di masa depan.


"Hebat, kamu mendapat beasiswa? itu sangat hebat, aku bahkan tidak bisa mendapatkannya setelah belajar berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun" Lidya mengacungkan jempol ketika Mendengar bahwa Layla adalah mahasiswi yang masuk dengan beasiswa.


"sudah sudah, kenapa menjadi curhat begini, makan dulu aja nanti makanannya dingin" Hendra hanya celingak-celinguk melihat mereka yang hanya berbicara berdua saja.


"apa semua wanita akan melupakan laki-lakinya jika sudah tenggelam di percakapan" Hendra bingung dengan sifat wanita, dia juga tidak ingin mengetahuinya, biarkan mereka menikmati kebebasan.


Setelah selesai makan Hendra kemudian membuat kopi untuk dirinya, selesai membuat kopi dia pergi ke balkon untuk melihat senja yang akan datang.


"Tak" hendra meletakkan secangkir kopi.


Hendra mengambil satu bungkus rokok dan korek dalam kantong celananya dan meletakkan bungkus rokok tersebut di atas cangkir kopi.


"Kapan lagi bisa merasakan hidup yang seindah ini selagi ada sistem, bagaimana jika sistem milikku tiba-tiba menghilang? apakah hidupku akan berubah kembali seperti sebelumnya? Kenapa aku baru kepikiran tentang masalah ini, bagaiamana jika aku membuat perusahaan, perusahaan juga harus memiliki dinding untuk bersandar, bisakah aku membuatnya tanpa diriku mengenal perusahaan-perusahaan bedar di luar sana?" Hendra baru kepikiran tentang sistem miliknya yang bagaiamana jika itu akan menghilang di kemudian hari.


"Haruskah membuat pasukan untuk bertarung dan membuat organisasi pembunuh untuk memperkuat benteng? sepertinya harus, aku melihat dari novel-novel lain bahwa kehidupan pengusaha itu lebih mengerikan dari yang kita kira, sebaiknya aku berjaga-jaga dan mulai membuatnya bulan depan, dan bertanya tentang bagaimana cara kerja pengusaha kepada Alisa" hendra berpikir keras tentang bagaiamana agar dirinya dapat membuat perusahaan yang besar dan ditakuti di seluruh penjuru.


"niat mau menenangkan hati, eh malah kepikiran masa depan yang tak tahu akan bagaimana" batin Hendra


Alisa yang sudah bangun dia segera pergi ke kamar mandi kemudian membersihkan dirinya setelah membersihkan seluruh tubuhnya dia pergi ke ruang tengah dan melihat Layla bersama Lidya sedang berbicara dengan asik.

__ADS_1


"ekhem" Alisa mengagetkan mereka yang sedang asik membicarakan sesuatu.


"Kamu sudah bangun? cepat makan perutmu belum memakan apa-apa, aku sudah menghangatkan makanannya" Layla tahu bahwa Alisa belum memakan apa-apa, dirinya sudah menyiapkan makanan yang telah ia sisakan untuk Alisa dan menghangatkannya.


"Terima kasih" Alisa berjalan ke meja makan dan mengambil nasi dan ikan yang sudah di masak Layla.


"Kamu ternyata bisa masak, masakan kamu sangat enak" Alisa mencicipi makanan yang di masak Layla.


"Yah begitulah aku suka memasak"


Setelah makan Alisa pergi mencari hendra dan menemukannya setelah dirinya pergi ke balkon.


"Sedang memikirkan apa?" Alisa merangkul Leher hendra dan duduk di dekat hendra


"Ah, kamu sudah bangun, aku tidak memikirkan apapun, hanya sedang melihat senja yang membuat hati tenang " Hendra terkejut saat dia sedang memikirkan sesuatu Kemudian Alisa datang kepadanya.


"bisakah kamu padamkan rokok yang berada di tanganmu" Alisa tidak bisa bernapas saat asap rokok masuk ke dalam lubang hidungnya.


"oh maaf" Hendra mematikan Rokok yang berada di tangannya dan membuangnya ke tempat sampah yang berada di dekatnya.


"Ini sudah hampir jam 7 malam, apa kamu sudah menyiapkan kado untuk pergi ke acara ulang tahun wali kota?" Alisa menanyakan apakah hendra sudah mempersiapkan apa yang akan di bawa.


"Sudah" Hendra tidak memberi tahukan apa yang sudah dia beli.


2 jam kemudian


Jam sudah menunjukan 8:30 hendra yang Alisa yang sudah mempersiapkan diri untuk pergi bersama Hendra dia memakai gaun yang dibelikan Hendra berwarna merah, sedangkan Ana yang sudah datang dari tadi menunggu hanya duduk di sofa ruang tamu.


Di sisi lain.


"Hallo bos, Alisa belum juga pulang, sudah larut tapi dia belum muncul sama sekali" Ray melapor pada Ryan yang sudah dari tadi menunggu keberadaan Alisa

__ADS_1


__ADS_2