
"Aku sudah mengetahuinya, dan sudah meminta izin untuk tidak naik ke atas panggung karena sakit, mana mungkin diriku melakukan duet dengan seorang anak miskin, dan lagi aku sangat benci dengan wajahnya" Berbicara sambil Memegang pena, dia berbicara dengan angkuh.
"Hahaha, bahkan aku tidak ingin mendengar dia berbicara, sudahlah tak perlu membicarakan dia, aku sudah muak mendengar namanya"
"Bodoh, bukankah dirimu yang memulainya"Memaki dan menatap wajah pria yang di sedang berdiri, Jansen melihat hendra yang berjalan melewati mereka.
"Oi, besok lo nyanyi sendiri ya, gw lagi nggak enak badan" Jansen Tidak berbicara angkuh di hadapan hendra karena kasus sebelumnya yang hendra lakukan kepada Rendi
"Ya" Hendra melanjutkan langkahnya tetapi dengan jahil teman jason memanjangkan kakinya ke arah kaki hendra yang akan melangkah.
Hendra Yang mengetahui itu dia segera menginjaknya dengan keras.
"Krak" Suara tulang yang patah
"Argh, sa.....sakit" Teriak teman jansen merasakan tulang yang patah.
"Oh, maaf aku tidak melihatnya" Hendra berjalan ke kursi belakang dengan langkah seperti orang yang tak bersalah
"Sialan, kalau jalan pake mata, apa Matamu sudah tidak berfungsi lagi" Teman Jensen yang masih marah dan tidak terima dia terus memaki hendra
Hendra hanya tersenyum ke arah teman Jansen kemudian memalingkan kembali pandangannya dan mengambil beberapa buku dari tasnya.
"Sudah, jangan mudah marah, kamu harus tahan" Jansen Mengelus dada temannya itu, dia tidak mau jika teman dekatnya mendapatkan masalah yang lebih dari kaki yang patah.
"Kenapa sepertinya kamu sangat takut kepada si bodoh itu?" teman jansen memegangi kaki yang patah dengan menahan sakit.
"Sudah, aku akan menceritakan tentang sesuatu kepadamu" Jansen tidak mungkin bicara di depan banyak orang, dia sangat malu untuk mengungkapkan apa yang telah Hendra lakukan kepada Tuannya sebelumnya dan takut akan di marahi oleh Rendi.
Pembelajaran sudah berakhir, para mahasiswa keluar secara teratur termasuk hendra.
__ADS_1
Sampai di pintu Keluar kelas hendra melihat Lidya dan layla yang sedang menunggu dirinya sambil memainkan handphone milik masing-masing, Hendra berjalan ke arah keduanya.
"Sudah lama?" Hendra bertanya dan duduk bergabung dengan mereka.
Beberapa mata melihat ke arah Hendra.
"Berani sangat dia duduk di sana?" Seorang berbicara dengan marah
"apakah dia benar-benar berani mendekati Wanitaku? kalau begitu aku akan melakukan sesuatu nanti" Orang yang di dekat pria itu berkata dengan mengepalkan tinjunya.
"Mari kita lihat, apakah dia akan di suruh pergi dan mendapatkan beberapa pukulan dari wanita pujaanku" pria sebelumnya tersenyum saat memikirkan hendra yang akan di pukul dan di usir oleh keduanya dan tertawa dalam hatinya.
"Em..... kami baru saja kemari" Layla berbalik dan melihat Hendra yang sedang duduk.
"Ya, kami baru kemari, apa kita akan pergi menjemput Alisa sekarang?" Lidya menjawab sama seperti Layla dan bertanya kembali.
"Sekarang, aku juga sudah sangat lelah" Hendra berdiri kembali.
"Berhenti bocah, dirimu membuatku malu saja" Temannya membungkam mulutnya yang membuat dirinya malu.
"Sudah, sudah, aku sangat senang hari ini....." Sebelum dia mengucapkan kata selanjutnya, dirinya melihat hendra yang sedang berjalan dengan di gandeng oleh Layla dan lidya.
"A...apakah Aku sudah salah lihat?" Dengan tak percaya pria itu mengusap matanya menggunakan kedua tangannya.
"Bu.....bukan Kamu saja.... se...semua orang sedang salah melihat" Temannya bahkan tidak mempercayai apa yang di lihat oleh dia, bukan temannya saja, bahkan Semua laki-laki dan wanita yang ada di sana terdiam melihat itu.
Pria yang sebelumnya menertawakan hendra berlari dengan Kencang ke arah Hendra.
"Buk" Dengan keras pria itu bersujud ke arah Hendra dan berkata "Gu....guru, terimalah aku sebagai muridmu"
__ADS_1
"Eh, apa yang kamu lakukan?" Hendra yang mendengar beberapa dentuman dia berbalik
"A..aku Tidak percaya jika guru dapat mendapatkan kedua bidadari ini, aku ingin menjadi murid anda, jadi bisakah anda memberikan beberapa ilmu kepada murid yang tidak memiliki ilmu yang rendah ini" setelah berbicara dia bersujud kembali.
Hendra tidak tahu apa yang harus dia lakukan, jika harus di katakan dirinya pandai itu mungkin tidak dapat di katakan karena dirinya mendapatkan semuanya karena sistem.
"Tidak, aku tidak memiliki ilmu apapun" Hendra berjalan kembali dan meninggalkan pria itu.
"Aku mohon guru, aku menyesal telah menertawakanmu, aku akan menebusnya dengan hukuman yang akan kamu berikan, terima aku guru" mendengar ucapan itu dia berdiri dan melihat Hendra yang meninggalkan dirinya, tetapi dia sangat percaya diri dan sangat ingin mendapatkan wanita yang dia idamkan, berlari kemudian berlutut sambil memegang kaki hendra.
"A..aku akan memikirkannya" Hendra tidak tahu dan tak pandai soal menaklukan wanita, dia berkata begitu agar dirinya terhindar dari pria itu, dia pikir jika dirinya tidak akan menemui pria yang aneh itu karena universitas yang sangat besar.
"Aku akan menunggunya guru, sampai jumpa lain hari da....." ketika dirinya ingin mengatakan sesuatu, temannya menarik dirinya dan berkata "Apa kamu bodoh, aku tidak berpikir jika kamu akan melakukan hal itu"
Pria itu bernama Vincent, seorang mahasiswa yang sudah berumur 27 tahun yang bahkan sampai sekarang masih berkuliah karena kebodohan dirinya.
"Kamu yang bodoh, bukankah kamu sudah lihat jika guruku dapat mendapatkan kedua wanita sudah lama aku naksir" Vincent berdiri
"Sudahlah, memang otakmu yang tidak berfungsi, bukankah kamu menaksir keduanya? tapi kenapa kamu membiarkan dia mendapatkannya?" Teman Vincent memegang kedua bahu Vincent.
"Soal itu, aku hanya mengejar mereka tapi tidak mencintai mereka sama sekali, mungkin karena mereka di kenal sebagai wanita tercantik jadi aku tertarik untuk mengejarnya" Vincent berjalan meninggalkan temannya.
"yah aku kira kamu benar-benar mencintainya" Tak lagi menghiraukan masalah yang terjadi sebelumnya, teman Vincent pergi ke arah yang berlawanan dengan Vincent.
sementara di dalam mobil hendra.
"oh ya hendra aku mendengar jika kamu akan kontes besok? apa benar?" Lidya yang di sebelah hendra bertanya dengan menatap Hendra.
"Yah aku terpaksa karena jika tidak kamu tahu apa yang terjadi, jadi diriku hanya bisa menerimanya"
__ADS_1
"Dipaksa? Siapa yang memaksa dirimu?" Layla penasaran dengan apa yang di bicarakan keduanya.
"Sudahlah, aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu, jadi tidak perlu kita bahas lagi" Hendra tidak ingin membicarakan tentang Lina, dan mulai membicarakan hal lain dengan ke duanya