SISTEM KEKAYAAN AND HAREM 1

SISTEM KEKAYAAN AND HAREM 1
59


__ADS_3

tetapi mereka tidak berani bertanya kepada Greg apa yang terjadi, hanya bisa melihat dari kejauhan.


Pada saat ini Hendra sedang menyetir mobil menuju rumah Bella, dia sudah tahu arah jalan karena sudah pernah pergi ke rumah Bella.


"Terima kasih atas bantuannya, jika tidak ada kamu aku tidak tahu apa yang akan terjadi" Bella melirik Hendra sambil menatap Hendra.


"Tidak apa-apa, itu hanya kebetulan saja" Hendra tidak bisa mengatakan jika dia menolong Bella karena misi, tetapi jika saja dia mengetahui bella akan di paksa oleh pria tua gemuk dia tidak perlu harus ada misi, pasti dia akan melakukan hal yang sama membantu bella terlepas dari masalahnya.


"Apa kamu memiliki urusan pergi ke kantor aku?" Bella penasaran apa yang akan dilakukan Hendra pergi ke kantornya.


"Aku ada sedikit kerjaan, dan tidak sengaja mendengar teriakan dari luar" Hendra menjawab pertanyaan demi pertanyaan Bella sambil berfokus menyetir.


20 menit kemudian


Lidya yang mendengar suara mobil yang tidak asing di telinganya dia keluar untuk mengecek apakah benar yang dia dengar adalah mobil hendra.


Setelah memastikan bahwa itu adalah mobil hendra, dia berlari untuk memastikan kembali apakah di dalamnya adalah hendra.


Hendra melihat Lidya berlari ke arahnya, dia segera membuka pintu mobil dan keluar.


Lidya tersenyum saat melihat bahwa Hendra yang keluar dari Mobil, Lidya mempercepat larinya.


"Grep" Lidya memeluk Hendra dengan erat sambil berkata "aku sangat merindukanmu"


"Ekhem" Bella yang baru saja keluar dan melihat sepasang kekasih berpelukan berdehem


"Ka...kakak, kenapa kamu ada di sini? bukannya sedang bekerja?" Lidya sangat terkejut saat melihat Keberadaan kakaknya, dia tidak mengira jika Bella akan Pulang lebih awal.


"Kakak sudah keluar dari perusahaan" Bella menjawab sambil melebarkan matanya ke arah Lidya


Lidya yang mengetahui apa yang kakaknya maksud dia tidak ingin melepaskan hendra setelah tidak bertemu beberapa hari terakhir dan mempererat pelukannya.

__ADS_1


"ugh, bisakah jangan sangat erat memeluknya, aku tidak bisa bernapas" Hendra merasakan Dada bidangnya bersentuhan dengan Milik Lidya yang kenyal, dia tidak biasa dipeluk seperti ini, hanya pernah melakukan Hubungan dengan lidya, karena itu dia sangat canggung.


"Tidak bisa, ayo kita masuk, aku sangat rindu kepadamu, kenapa kamu Baru kesini" Lidya menarik Hendra ke dalam rumahnya, Hendra hanya mengikuti apa yang di ingin,kan Lidya, dia berjalan mengikuti Lidya di sebelahnya.


Lidya yang sudah sangat merindukan hendra dia memeluk Tangan hendra sambil berjalan.


Sedangkan Bella mengikuti mereka dari belakang.


"Bi, Tolong bikinin dua minuman ya" Lidya berteriak menyuruh pelayan yang di rumahnya.


"Lidya, jangan kebiasaan menyuruh, hanya bikin minuman saja kenapa tidak kamu saja" Bella tidak suka jika lidya menyuruh Pelayan untuk membuat minuman karena menurutnya itu hanyalah hak sepele dan tidak harus memerintah.


"Tidak apa non, saya akan membuatkan sekarang" Bibi Herni, seorang wanita yang bekerja di rumah Bella selama 10 tahun, bella sudah menganggap Bi Herni sebagai keluarganya.


"Tuh kak bibi juga tidak keberatan bikin minuman" Lidya sangat malas untuk bangun, dia duduk bersama Hendra.


"Sudahlah terserah kamu saja, aku akan pergi ke kamar" Bella selalu ngalah kepada Lidya, dia tidak ingin membuat hal sepele menjadi besar karena itu dia selalu mengalah.


Beberapa menit kemudian Bi herni membawa dua buah jus ke hadapan Lidya, dia meletakanya di depan hendra dan lidya kemudian pergi dengan tersenyum ke arah keduanya.


"Ya, nanti saja, aku ingin menanyakan sesuatu" Hendra sudah memikirkannya sebelumnya, dia ingin tahu penyakit apa yang dimiliki Lidya.


"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya dengan jujur" Lidya tidak berani berbohong kepada hendra, dia takut hendra akan marah Jika dia membuat kebohongan walaupun itu hal sepele.


"Penyakit apa yang kamu miliki?" Hendra bertanya dengan menatap Lidya.


"Aku...." Lidya berbicara tetapi dirinya agak ragu untuk menjawabnya.


"Sudah berjanji untuk jujur, jawab saja aku pasti akan melakukan apapun untuk menyembuhkannya" Hendra meraih tangan Lidya untuk memberikan kepercayan kepada Lidya, takutnya Lidya memiliki penyakit yang tidak bisa dia ungkapan kepada dirinya karena itu berakibat akan melukai dirinya.


"Aku memiliki penyakit maag, katanya ini tidak dapat sembuh dengan total, aku tidak yakin tentang itu" Lidya menjawab dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Maag ya, itu tidak mungkin tidak dapat di sembuhkan" Hendra sudah memiliki cara yang dia tahu, semua ilmu medis dirinya sudah menguasainya.


"benarkan aku bilang, tetapi kakak aku selalu membantah apa yang aku katakan" Lidya sangat senang saat Hendra mengatakan apa yang dia yakini.


"Kalau begitu aku akan mengobatinya, aku dapat menyembuhkan penyakit itu" Hendra berbicara langsung dengan Lidya, dia tidak ingin bertele-tele.


"benarkah? kamu juga bisa kemampuan medis, kalau begitu aku percayakan kepadamu, bagaimana caranya?" Lidya sangat yakin jika hendra dapat menyembuhkannya, tak tahu kenapa dirinya begitu yakin kepada Hendra.


"Untuk caranya aku tidak dapat memberitahukannya" Hendra tidak dapat memberitahukan teknik tersebut karena resiko yang sangat besar bisa saja membuat seseorang meninggal karena kesalahan pada pengobatannya.


"untuk apa memikirkannya, aku hanya bercanda menanyakan hal itu, untuk menyembuhkannya aku serahkan kepadamu" Lidya memeluk erat tangan Hendra.


"Untuk apa hanya duduk di sini, cepat dan sembuhkan penyakit yang kamu miliki" Hendra berdiri dan melepaskan pelukan lidya perlahan, tetapi lidya tak melepaskannya dia semakin erat memeluk tangan Hendra.


"memangnya kita mau kemana?" Lidya bertanya Kepada hendra, dia pikir mengobatinya hanya menggunakan obat saja seperti dokter pada umumnya.


"Pakaian milikmu harus di Buka, jika tidak itu sangat susah untuk di obati, jika kamu ingin membukanya di sini aku tidak keberatan"


"Tidak, aku tidak ingin di sini, bagaimana jika ada satpam yang lewat dan melihatnya" Lidya menarik Hendra ke kamar miliknya.


tak dapat melepaskan pelukan dari tangan Lidya Hendra hanya bisa mengikuti Lidya dari sebelahnya.


"Setelah ini apa yang harus aku lakukan" Lidya sudah berada di dalam kamar bersama Hendra.


"buka pakaian milikmu dan hanya sisakan pakaian dalamnya" Ucap Hendra yang sudah melepaskan pelukan Lidya dari tangannya.


Lidya mengikuti ucapan Hendra, dia segera melepaskan Pakaian miliknya tanpa malu, buat apa malu? bukankah dia sudah melakukan suatu hubungan dengan Hendra?.


"Setelah itu aku harus apa?" tanya Lidya yang sudah telanjang dan hanya memperlihatkan ****** ***** dan bra miliknya.


"Kamu berbaring saja di sana, aku akan melakukan pengobatannya setelah kamu berbaring" Hendra menunjuk tempat tidur lidya.

__ADS_1


Lidya mengikuti perkataan hendra, dia berbaring sambil bertanya "seperti ini?"


"Tidak sepertinya harus telungkup" Hendra tidak dapat menahan dirinya jika terus melihat benjolan dan belahan milik Lidya, jadi dia menyuruh Lidya untuk telungkup


__ADS_2