
Setelah berkendara beberapa menit Hendra sampai di rumah sakit Jiang, ke luar secara bersamaan dan berjalan Masuk ke dalam bersama keduanya.
"Guru, apa anda tidak akan ke sini lagi setelah ini?" Liona takut jika Hendra tidak lagi berkunjung dan tidak lagi datang untuk mengunjungi dirinya dan memberikan beberapa keahlian yang belum dia miliki.
"Untuk itu aku tidak tahu, mungkin hanya seminggu sekali jika ada waktu" Hendra memastikan jika dirinya akan pergi ke sana selama 1 minggu sekali, tetapi jika dirinya tidak sibuk atau ada waktu luang Hendra akan pergi untuk membantu Liona.
"Terima kasih untuk bantuannya selama 3 hari ini saya memiliki beberapa hadiah untuk guru" Liona memberikan sebuah kotak yang berukuran sedang kepada hendra sebagai ucapan terima kasih, Sebelumnya Hendra tidak hanya berdiam diri, dia memanfaatkan keahliannya untuk membantu Liona menyembuhkan pasien yang Sangat susah ataupun Sedikit rumit untuk Liona sembuhkan, tetapi berkat bantuan Hendra beberapa hari terakhir Rumah sakit milik Liona sedikit lebih sepi karena banyak yang sembuh.
"Tak apa, aku hanya melakukan yang aku bisa" Hendra mengambil kotak tersebut dan mengantongi kedalam sakunya, dia tidak enak untuk menolak.
"kalau begitu aku pergi dulu" Hendra berjalan meninggalkan Liona bersama ke empat wanitanya
Di Sebuah Gunung seorang Pria tua mengeluarkan beberapa serangan yang cukup kuat ke beberapa pohon
"Siapa yang berani membunuhnya" Teriak pria tua dengan marah dan tidak terima
"Sa...saya Tidak tahu Guru, tetapi saya tidak lagi merasakan aura dari adik Yan" Pria yang tak jauh berbeda umurnya dengan pria berjubah hitam itu berbicara dengan gemetar, dia sangat takut kepada gurunya.
"Brak" Kembali Pria tua yang sudah hampir berusia 100 tahun itu menyerang pohon yang sedang berdiri sampai terbelah menjadi dua bagian.
"Adik Yan tidak memberikan informasi apapun ketika dia pergi, apa perlu saya cari tahu tentang masalah ini?" Pria yang bernama Jonggun itu meminta persetujuan dari gurunya untuk menyelidiki kasus pembunuhan adik seperguruannya.
"Aku tahu siapa orangnya" Tiba-tiba seorang pria berbicara dari belakang.
"Siapa kamu" Jonggun segera berdiri dan waspada terhadap pria yang berbicara barusan
Pria itu adalah David, dia datang bersama beberapa bawahannya yang telah menyelidiki beberapa informasi tentang beberapa orang yang dia cari tahu.
__ADS_1
"hehe... Tidak perlu tahu tentang diriku, apa kamu tidak ingin mengetahui siapa yang telah membunuh adik seperguruanmu satu-satunya" Berbicara seorang dia mengetahui semuanya david tertawa kecil menanggapi pertanyaan Jonggun
"Baiklah, apa yang kamu inginkan?" Guru Jonggun berbicara dan langsung bertanya apa yang di inginkan David
"Aku tidak ingin apapun, jika kalian ingin tahu siapa yang membunuh pria berjubah Hitam aku memiliki informasi tentang dirinya" Setelah berbicara beberapa patah kata David melirik ke belakangnya dan memberikan kode kepada bawahannya.
Beberapa orang maju
"Cepat katakan saja dan jangan membuatku menunggu" Pria tua berbicara dan sedikit kesal dengan David.
"Tunggu dulu, jika kamu tidak bisa menunggunya aku tidak akan memberikan informasinya" David mengancam Guru Jonggun yang sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa yang membunuh murid keduanya.
"Ini, aku telah memberikan beberapa informasinya kepadamu aku pergi dulu" David tidak bisa lama-lama di sana, dia tidak ingin di jadikan serpihan debu oleh pria tua itu.
"Kamu cari tahu apakah yang dia katakan benar" Pria tua itu menyuruh Jonggun untuk mencari tahu kebenaran, dia tidak ingin membunuh seseorang yang tidak bersalah.
Hendra Yang sudah sampai di rumahnya dia segera turun bersama ke empatnya, berjalan Masuk tidak sabar ingin melihat beberapa Barang yang berharga di toko sistem.
Setelah sampai di dalam kamar hendra merebahkan tubuhnya.
"Apa kamu tidak akan melakukannya Setelah beberapa hari tidsk melakukan" Lidya Melihat Hendra yang berbaring menatap langit langit kamar yang kosong.
"Ya, aku juga ingin melakukan hal itu" Ana Berbicar dengan muka yang merah, dia sedikit canggung untuk mengatakan hal itu tetapi dirinya terpaksa.
"Bisakah kita besok saja?" Hendra bukannya tidak ingin melakukan hubungan dengan beberapa wanitanya, tetapi dirinya harus memperkuat diri dengan membeli barang-barang yang belum dia beli, dan juga jika dirinya melakukan hubungan dengan mereka hendra tidak akan ada waktu untuk membeli dan mencari barang yang dia butuhkan karena berhubungan dengan semuanya membutuhkan waktu berjam-jam lamanya, serangan hari sudah pukul 9 malam.
"Tidak bisa, harus sekarang, sebelumnya kamu juga bicara begitu " Layla yang sudah menunggu malam ini dia menolak Permintaan hendra karena kemarin hendra juga mengatakan besok sebab dirinya lelah.
__ADS_1
"Besok, aku janji akan melakukannya dan tidak akan berbohong" Hendra benar-benar tidak bisa, dia hanya bisa berjanji dan akan benar-benar melakukan besok.
"Besok? Aku tidak dapat menahannya malam ini" Alisa yang merasa dirinya sudah mengeluarkan cairan lengket dari goanya dia membantu berbicara.
"Bisakah kalian berhenti berbicara, aku sudah sangat lelah hari ini" Hendra sedang melihat barang pada toko sistem, Tetapi Wanitanya selalu membuat fokusnya goyah.
"Aku tidak dapat berpikir jika kamu bersikap tidak adil" Alisa yang merasa dirinya di bentak oleh hendra dia sedikit sedih, berjalan dan mengambil selimut dirinya merebahkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Dasar pria tidak berperasaan" Layla yang tidak bisa lagi memaksa hendra dia merebahkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya seperti Alisa.
Lidya melirik ana yang berdiri di sebelahnya, dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya membisikkan sesuatu kepada ana sehingga Ana menuruti apa yang di bisikan Lidya.
Keduanya berjalan mendekat ke arah kasur dan tidur dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
"Huft, kenapa jadi begini" Hendra menghela napas melihat semuanya yang tidur dengan kecewa terhadapnya
"Dring,Dring,Dring" Tiba-tiba Handphone yang di meja dekat tempat tidur Hendra berbunyi.
"Siapa lagi malam-malam begini nelepon" Hendra bangkit dari tempat tidur, mengambil Handphone dan melihat siapa yang menelepon
"Amel? ada apa dia nelepon?" Hendra segera mengangkat dan suara yang sedikit cemas terdengar
"B...Bos, maaf mengganggu waktu Anda, saya ingin membicarakan sedikit tentang Pernikahan yang palsu..." Amelia tidak melanjutkan ucapannya, dia di hentikan oleh hendra yang memotong ucapan dirinya.
"Aku sudah tahu jika ibumu mengetahuinya" Hendra Sudah mengetahui masalah Amelia sebelumnya, dia tidak ingin mendengar cerita yang sudah dia tahu
"kalau begitu apa yang harus saya lakukan? ibu saya sangat marah sampai dia tidak ingin makan selama 2 hari ini" Berbicara dengan cemas amelia meminta sedikit saran dari hendra
__ADS_1