
"belum selesai,Paket jasa Notaris untuk pembuatan akta pendirian perusahaan dan perizinan utama. ini besarnya relatif, tergantung Notaris nya. Umumnya berkisar sekitar Rp.5.000.000 s/d Rp.15.000.000 tergantung dari sekala usahanya: Usaha kecil, menengah atau besar. Dengan biaya ini kamu sudah mendapat akta pendiri perusahaan dan perizinan"
"Apa sudah sampai di sana saja? apakah bisa meminta izin kepada wali kota untuk akta tersebut?" Tanya Hendra
"Bisa, itu lebih baik jika kamu mendapatkan perizinan langsung dari walikota, dapat menambahkan kepercayaan dari berbagai perusahaan" Alisa sudah memakai pakaian miliknya, mengambil Satu kursi yang berada di sana kemudian duduk di depan cermin, mengambil sebuah kotak,membukanya, mengambil sedikit bagian dari kotak tersebut dan mengoles ke wajahnya dengan perlahan
"untuk apa kamu menanyakan hal ini? Apa akan membuat perusahaan?" Alisa bertanya sambil menata rambutnya.
"Ya,aku akan membuatnya, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik, jika ada sesuatu yang terjadi segera hubungi aku" hendra berjalan keluar dengan wajah yang senang, dia tidak berpikir jika membuat perusahaan hanya membutuhkan uang sedikit dari itu, dia berpikir akan membutuhkan puluhan Miliyar.
"bukankah aku memiliki motor di penyimpanan sistem? sebaiknya keluarkan saja dulu dan berikan kepada Robi nanti siang"
Hendra mengeluarkan Motor Ninja H2 kemudian mencoba menaiki motor tersebut.
"Seharusnya enak jika berkendara menggunakan motor ini" Hendra mencoba menyalakan motor tersebut tetapi dia tidak mengetahui fitur-fitur yang ada di sana.
"bisa-bisa mati aku jika salah tekan, lebih baik lihat tutoral mengendarai motor ini" Hendra membuka handphonenya dan melihat bagaimana cara menggunakannya, dia menghabiskan 1 jam waktunya hanya untuk mengetahui bagaimana cara menggunakan motor yang sedang dia naiki
"mendesing" Hendra menyalakan motor tersebut, suara yang menggelegar keluar dari motor Ninja.
Hendra mencoba menjalankan motor itu "haha ini sangat menyenangkan, seharusnya Robi tidak akan menolaknya" Hendra mengendarai motor ninja tersebut ke rumah Robi.
"Mendesing,mendesing,mendesing" Hendra mengegas motor Miliknya di depan rumah Robi.
"Krek" Seorang membuka pintu.
"Brengsek, apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini sudah membuat masalah" Robi memaki hendra yang sedang berada di depannya.
"Hehe, bi lihat keren tidak" Hendra menunjukan motornya.
"motor apa ini? keren sih keren tapi lo dapat dari mana" Tanya Robi melihat body motor tersebut.
"coba dra mau coba juga dong, kayaknya seru kalau mengendarainya" robi tergoda dengan motor hendra, dia tidak pernah menemui dan mengendarai motor tersebut.
"Bisa gak lo?" tanya Hendra yang turun dari motor
"gampang, begini juga aku udah pernah berkompetisi dengan pembalap profesional" ucap Robi bercanda
"Itu udah nyala, tinggal di gas" ucap Hendra memberitahu Robi
__ADS_1
"iya tau, gak usah banyak cakap" Robi menaiki motor dengan gagah
Mengegas motor tersebut dia tidak mengetahui bagaimana caranya menggunakannya, sebelumnya dia hanya berlagak di depan hendra.
"Bruak" Robi menabrak pohon di depan rumahnya.
"Apa aku bilang, dikasih tahu ngeyel kan jadi gini" Hendra berlari ke arah robi, dia membangunkan Robi terlebih dahulu.
"maaf dra motornya jadi lecet" robi melihat motor hendra yang agak sedikit tergores.
"tak apa, ini juga buat lo" hendra menepuk Bahu robi yang sedikit murung.
"Buat gw? lo jangan bercanda" sedikit terkejut dia menatap Hendra dengan curiga.
hendra membangunkan motor sambil berkata "kan sebelumnya lo disuruh kerumah, kenapa gak kerumah"
"yah gw kira lo bercanda" Ucap Robi sambil tersenyum ketika mendengar jika dia mendapatkan motor sebagus itu.
"Apa yang terjadi?" ibu Robi keluar dari rumah, dia mendengar ada kerusuhan dari luar, bergegas berjalan keluar.
"Halo tante, tidak ada apa-apa hanya sedikit terjadi kesalahan" Hendra melambai ke arah ibu Robi.
"eh nak hendra, kapan datang ayo masuk, lama tidak bertamu, gimana kabarnya sehat?" Ibu Robi mempersilahkan Hendra masuk, sebelumnya hendra selalu pergi ke rumah Robi untuk makan jika dia tidak memiliki makanan.
Robi tidak mengatakan apapun, dia hanya berjalan mengikuti hendra dari belakang.
"Ayo sini, tante sudah memasak ini......" semua makanan di keluarkan oleh ibu Robi.
"bu bu, ada Hendra aja di keluarkan semua makanan, eh giliran anaknya minta semuanya di sembunyikan" ucap Robi menatap ibunya.
"bicara apasih kamu ini, sudah hendra jangan dengarkan dia"
"Aku makan ya tante" Hendra tak sungkan ketika di rumah Robi, Dia seperti menganggap itu adalah rumahnya.
Setelah makan beberapa masakan hendra sudah kenyang, sebelumnya dia sudah makan di rumah jadi hanya sedikit mencicipi makanan untuk menghargai kebaikan ibu Robi.
"Oh ya Bi, lo gak latihan?" tanya Hendra menatap Robi.
"katanya sih hari ini, tapi ya gimana ya gw gak punya kendaraan" ucap Robi dengan Menatap hendra.
__ADS_1
Setelah Hendra membereskan masakan ke tempat semula dia segera mengeluarkan uang untuk ibu Robi sebesar 100 juta, sebelumnya dia tidak pernah memberi sepeser pun uang untuk kebaikan yang di berikan oleh Robi dan ibunya.
"makasih tante atas makanannya, ini untuk tante" Hendra memberikan segepok uang ke tangan ibu Robi
"Apa ini? tak perlu sungkan nak hendra, kamu sudah ibu anggap anak sendiri jadi ini tidak perlu" Ibu Robi mengembalikan uang tesebut ke tangan Hendra.
"bukannya tante sudah menganggap aku sebagai anak, jadi terima ini sebagai hadiah untuk tante" Hendra memberikan kembali, dia sudah mempersiapkan uang itu sebelumnya.
"Terimakasih nak hendra, jika kamu ada yang dibutuhkan bicarakan saja pada ibu, mungkin ibu dapat membantu walaupun itu tidak banyak" ucap ibu Robi
"tante sudah membantu hendra sejak dulu, itu tak sebanding dengan kebaikan tante, saya pamit dulu, jika ada waktu nanti juga akan kesini" Hendra berjalan keluar, dia tidak memiliki kegiatan lain hari ini.
"gw pergi dulu bi" hendra berpamitan kepada Robi.
"yaelah lo memangnya mau pindah kemana sampe pamitan begitu" Ucap Robi mengejek hendra.
"Hehe, sekali kali pamitan siapa tau mati di tengah jalan" Hendra berbicara dengan tertawa.
"Bicaranya kayak mau di jemput maut, awas ati-ati"
Hendra Tak menghiraukan lagi ucapan robi, dia berjalan pergi.
[misi terdeteksi]
[Bantu Bella]
[Hadiah]
- uang 1.000.000.000
[waktu]
-2 Jam
[hukuman]
-tubuh tuan akan hancur.
"Bella? sepertinya aku pernah mendengar nama itu, oh dia bukannya kakaknya Lidya? Apa yang terjadi padanya? Sistem tunjukan di mana tempatnya" Hendra tidak bisa membiarkan setiap orang yang terkait dengan keluarganya terjadi apapun, dia berlari sambil bertanya kepada sistem.
__ADS_1
[Berada di kantornya]
"Yaelah masih aja bercanda, dimana kantornya" Hendra tidak bisa terlalu santai, dia bertanya lagi kepada sistemnya