
5 tahun terakhir Ayah Lidya pergi untuk mengatasi Masalah tentang perusahaannya di luar negri, tapi setelah pergi,ayahnya tidak pernah memberikan kabar apapun kepadanga dan hanya mengirimkan beberapa uang untuk mereka makan dan meninggalkan beberapa harta seperti rumah dan mobil yang berada di sana.
Bella tidak bisa berkata apa-apa, dia juga tahu perasaan adiknya yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya kembali.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi tentang dirimu, tapi kamu harus janji jangan berbuat hal yang di larang" Bella tidak bisa menghentikan adiknya, dia hanya bisa menasihatinya bagaimanapun dirinya takut akan kehilangan keluarga satu-satunya.?
"Kak......." Lidya memeluk Tubuh Bella dengan air mata yang mengalir dengan deras.
"Aku minta maaf karena sudah menyusahkan kakak terus, bahkan kakak rela tidak bekerja hari ini hanya untuk aku"
"Sudah sudah, kakak sudah meminta izin kepada atasan kakak" Bella mengelus rambut Lidya dengan penuh kasih sayang.
Bella tak lagi menanyakan tentang adiknya menginap di mana, dia tidak ingin masalahnya menjadi lebih besar dan membiarkan begitu saja.
Siang hari
Hendra Yang sudah menunggu beberapa menit yang lalu sudah mulai bosan karena robi belum juga muncul.
"Halo Bi, kenapa belum sampe?"
"Brengsek, cepat ganti rugi sepatu yang telah kamu injak ini" Suara seorang yang sedang memaki Robi
"Bentar Dra, di luar asa masalah" Robi tidak sengaja menginjak Kaki seseorang tetapi dia di suruh untuk mengganti rugi.
Hendra keluar dari Cafe dengan membawa ponsel di tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? cepat ganti rugi jika tidak aku akan membunuhmu" Pria yang berada di hadapan Robi mendorong robi.
"sekali lagi saya minta maaf pak, saya tidak sengaja, Biar saya cuci saja bagaimana, dan lagi Hanya Terkena sedikit Goresan"
"sedikit Goresan katamu, ini Sepatu seharga 10 juta dan kamu bilang hanya sedikit Goresan, jika kamu tidak menggantinya aku akan memukulmu sekarang juga" Pria tersebut berbicara dengan keras
Hendra Yang baru saja keluar dia melihat bahwa Temannya sedang dibentak-bentak oleh pria yang seumuran dengannya.
__ADS_1
Pria tersebut mengangkat tangannya untuk memukul robi tetapi hendra berlari dan menangkap tangan pria tersebut.
"Maaf bisakah anda memberitahu saya kenapa kamu ingin memukul teman saya?" Hendra memegang tangan dengan menatap keduanya.
"Kamu temannya? dia telah berani menginjak sepatu milikku yang seharga 10 juta, jika ingin meperbaikkinya harus mengeluarkan lebih dari 1 juta" Pria di hadapan hendra berbicara dengan arogan.
"Memperbaiki? bukannya tidak tergores sedikitpun? Apa matamu tidak dapat melihat" Robi sudah sangat kesal dengan pria yang di hadapannya.
"Kamu..... Aku kasih tahu jika kamu tidak segera menggantinya aku akan melaporkan ke kantor polisi"
"Baiklah, kami akan menggantinya" Hendra kemduian mengarahkan kaki kanannya ke arah kaki pria tersebut
"Akh, brengsek berhenti, apa yang kamu lakukan sakit bodoh" pria tersebut berteriak karena Kakinya di injak oleh hendra.
"Bukankah kamu bilang ini bisa di ganti, aku akan menggantinya setelah merusaknya" Hendra terus menginjak sampai sepatu yang di pakai pria tersebut Rusak, dan lagi kakinya yang bengkak membuat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa
"Baiklah, sekarang kirimkan nomor rekening milikmu, aku akan mengirimkan 10 juta yang kamu minta, oh tidak bukan 10 juta aku akan memberikan 20 juta padamu"
orang-orang yang melihat itu mereka tidak merasa kasihan, mereka semua bahkan merasa senang melihatnya karena sudah kesal dengan kelakuan pria tersebut sebelumnya.
"Dra apa tidak terlalu kejam melakukan hal itu"
"Biarkan saja Bi"
"Bukan, apa kamu tidak merasa enggan memberikan uang sebesar itu kepadanya? Aku tidak melihat dirimu yang sebelumnya,bahkan merasa beda ketika berada di depanmu" Robi Merasa Hendra terlalu menghambur-hamburkan uang, Sebelumnya dia bahkan tidak berani mengeluarkan uang selain untuk makan.
"Benarkah? Aku rasa diriku tetap diriku sendir" Hendra tidak merasakan perbedaan pada dirinya, bagaimanapun kita tidak bisa merasakan perbedaan pada diri kita sendiri kecuali kamu melihat dirimu sendiri di kehidupan sebelumnya.
"Menurutku dirimu terlalu menghamburkan uang, lihatlah dirimu yang dulu yang selalu berhemat dan tidak merendahkan seseorang"
"Diriku sebelumnya? biarkanlah Diriku yang dulu hilang dan sekarang ini adalah diriku yang sekarang, Aku sudah sadar bahwa orang yang tidak memiliki uang dianggap sebagai sampah, apa kamu ingin selalu di anggap sampah oleh mereka yang selalu menginjak-injak harga diri kita? Jika saja aku tidak datang tadi apa kamu akan terus di injak-injak oleh dia? jadi mari kita ubah diri kita tetapi jangan mengubah diri kita di depan orang yang kamu inginkan misalkan orang yang kamu sayangi seperti ibumu ataupun mantan pacarmu"
"Baiklah, sekarang apa yang akan kita lakukan? Apa hanya membicarakan hal-hal tidak berarti ini?"
__ADS_1
"Sekarang kita pergi dari sini" Hendra berdiri kemudian menarik tangan robi.
"Apa-apaan, kenapa mengajakku ke sini kalau kita akan keluar lagi" Robi menarik tangan Hendra
"Tunggu dulu aku belum makan sesuatu, kamu ingin aku pingsan di tengah jalan" Robi yang melihat makanan yang sudah ada di hadapannya dirinya tidak lagi sungkan,dia segera mengambil Satu persatu makanan yang ada di hadapannya.
Hendra tidak menghentikan Robi yang sedang makan.
30 menit kemudian
"Sudah kenyang? kalau begitu tunggu apa lagi" Hendra menarik tangan Robi untuk berdiri
"Sebentar, aku belum meminum sesuatu" Robi mengambil jus alpukat yang berada di meja dan meminumnya.
"Hais, kamu ini seperti wanita saja banyak acara" Hendra Sudah tidak sabar ingin segera menaklukan Kampung Bandit.
"Sudah ayo, tapi apa kamu sudah membayar semuanya?"
"Sudah"
Setelah memesan makanan hendra membayarnya terlebih dahulu.
Di dalam mobil
"Kita mau kemana?" Robi Bertanya kepada hendra yang berada di depannya.
"Kita akan ke kampung bandit"
"kampung bandit? dimana itu?" Robi tidak mengetahui letak kampung tersebut
"Ais, aku juga tidak tahu itu kampung mana, kenapa sebelumnya tidak mencari tahu terlebih dahulu" Hendra terlalu bersemangat sampai-sampai dia lupa untuk mencari tahu tentang kampung bandit.
"Oh ya Dra ini mobil kamu? dapet dari mana? bagus sekali" Robi baru bertanya tentang mobil Hendra, dia sangat heran dengan Hendra yang sekarang yang tiba-tiba menjadi kaya.
__ADS_1
"Dapet Kerja masa dapet nyopet" Hendra tidak bisa berkata jujur tentang sistem miliknya, dia tidak ingin membicarakannya kepada siapapun walaupun itu sahabatnya sendiri.
"Kerja dari mana, masa bisa cepat banget dapet mobil, apa kamu kerja yang melanggar hukum" Robi tidak percaya dengan Ucapan Hendra. dia menatap Hendra dengan curiga