
Hendra dan Liona sudah berada di depan Kamar Rawat Ibunya Amelia, Segera mereka masuk dan akan membawa bu ningsih untuk operasi.
"Amel, Kamu tanda tangani untuk operasinya, kita akan mulai sekarang setelah kamu menandatangani suratnya" Hendra memberikan Sebuah surat yang akan di berikan oleh Liona tetapi Hendra mengambilnya dan memberikannya kepada Amelia.
"Saya akan menandatanginya" Amelia mengambil dan segera mencari pena dari tasnya dan menandatangani dengan cepat.
Setelah itu Bu Ningsih segera di pindahkan ke ruangan operasi untuk melakukan operasi.
"Apakah kamu tidak membiarkan dia untuk keluar?" Liona bertanya
"Tidak, asalkan dia tidak merasa jijik ketika melihatnya"Hendra Tak melarang siapapun untuk melihat operasi itu, tetapi mereka yang harus tahan karena operasi yang Hendra lakukan berbeda dengan yang lain.
"A...aku Tidak akan merasa jijik" Amelia sangat ingin mendampingi ibunya, dia akan berada di sebelah ibunya jika tidak di keluarkan oleh hendra.
"Terserah kamu saja, Liona ambil suntikan untuk membuat Bu Ningsih pingsan" Hendra menyuruh Liona untuk membuat Ibu amelia pingsan agar Tidak meraskan sakit ketika melakukan operasi
Liona mengambil Alat suntik dan menyuntikkan kepada bu Ningsih, segera Bu Ningsih tak sadarkan diri.
"Ambilkan aku Gunting dan pisau" Hendra kembali berbicara dengan serius, kali ini dia melakukan pengobatan antara hidup dan mati seseorang, tidak mungkin dirinya bercanda dalam melakukan penyembuhan terhadap apa yang harus dia lakukan.
Liona hanya menurut dan mengambil beberapa alat yang di butuhkan hendra kemudian memberikannya kepada Hendra.
Mengambil dan segera melakukan operasi Keduanya sangat terkejut karena melihat apa yang di lakukan Hendra, tetapi tidak ada yang bertanya.
Hendra menusukkan pisau itu ke kepala Bu Ningsih tanpa perasaan, beberapa darah mengalir dengan deras dan tak membuat hilang fokus Hendra, dengan kemampuan yang di miliknya dia segera menyelesaikan, tidak sampai di sana dia segera mengambil Alat yang di pegang Liona sebelumnya dan menyatukan kembali beberapa daging yang dia sayat.
"Apakah kamu dapat menjahit luka itu?" Hendra berbalik ke arah keduanya.
"Bi...bisa, tapi kenapa operasinya cepat sekali?" Liona baru pertama kali melihat operasi yang seperti itu dan sangat cepat.
__ADS_1
"kamu tidak perlu tahu, aku akan mencari beberapa bahan obat untuk membuat obat" Hendra keluar ke ruangan bahan obat-obatan yang sebelumnya Liona tunjukan dan membuat obat yang dia ketahui, setelah 20 menit membuat obat dia keluar kembali dengan beberapa obat di tangannya.
Di sisi lain, David sangat kecewa terhadap Ryan, dia sudah memberikan beberapa uang kepada Ryan tetapi rencananya gagal begitu saja, dia pikir jika bekerja sama dengan Ryan akan berhasil membunuh Hendra tetapi dia salah, sebelumya dirinya mengetahui jika Ryan dan orang yang di sewa Ryan gagal dalam pembunuhan Hendra.
"dasar bodoh, aku sudah memberikan Setengah dari kerugian yang kamu tawarkan tapi apa hasilnya? kalau begitu aku akan mencari cara agar dia tidak lagi berhubungan dengan Lidya" mengambil Handphone dari meja David sangat kesal kali ini, dia meletakan kembali handphone itu karena tidak ingin berbicara dengan siapapun, berjalan ke arah kamar dan merebahkan tubuhnya.
"Tidak masalah, hanya sedikit uang saja aku akan mendapatkannya bulan depan" david tak lagi memikirkan hal itu dan tertidur karena sudah menguras tenaga karena amarahnya.
"apa lagi yang di lakukan anak itu?" Ayah dari david bertanya kepada Beberapa pelayan yang sedang membereskan Makanan di meja.
"Tidak tahu tuan, sebelumya baik-baik saja tetapi ketika Tuan muda masuk ke dalam kamar dia marah besar seperti orang yang kesurupan" Jawab Pelayan itu dengan membungkuk.
"Sembarangan kalau bicara, memangnya ada setan yang mau merasuki dia" Berjalan ke dalam dengan meletakan tas di Sofa Ayah David sangat lelah hari itu dan merebahkan Tubuhnya untuk menghilangkan stress.
30 menit kemudian
Setelah Hendra kembali ke ruangan Operasi dia memberikan obat tersebut kepada Amelia dan menunggu Bu Ningsih siuman.
"Maaf untuk apa? kita akan menikah Setelah ini, aku akan membuat suratnya nanti siang" Hendra bercanda untuk menakuti amelia, dia berkata dengan fokus ke handphonenya.
"A..apa, sa..saya hanya bercanda, sebelumya saya ingin menjelaskan jika hanya akan menjadi istri pura-pura bos dan itupun jika Ibu saya memaksa saya" berhenti sejenak amelia melanjutkan "bos tenang saja, saya akan memberikan beberapa keuntungan untuk anda, jika bos mau menjadi Suami pura-pura saya selama 1 bulan saya rela tidak di gaji selama itu"
"Aku tak membuahkan uang, tetapi uanglah yang membunuhkan diriku" Hendra Tersenyum jahat menatap Amelia.
"jika saja bos tidak memiliki istri, mungkin aku juga ingin menjadi istrinya" amelia sedikit bergumam dalam hatinya, tak tahu kenapa dirinya seperti memiliki perasan kepada Hendra.
"kepalaku sakit sekali?" Bu Ningsih ingin duduk tetapi Amelia Segera berdiri "Jangan berdiri dulu bu, ibu baru saja melakukan operasi" Amelia merebahkan kembali ibunya.
"Krek" Liona masuk dan membawa beberapa alat untuk mengecek penyakit yang di derita Bu Ningsih.
__ADS_1
"Ibu jangan bergerak dulu" Liona meletakan alat yang dia bawa sebelumya dan sebelah ibunya Amel dan memeriksa kembali penyakit Bu Ningsih.
selang beberapa menit Liona benar-benar terkejut, sebelum bu ningsih di operasi dia mengecek jika Bu Ningsih memiliki Penyakit tumor stadium akhir, tetapi setelah dia mengecek ulang itu benar-benar hilang.
Dengan Tidak percaya Liona berbicara "Ini benar-benar sudah Hilang, dan mungkin hanya membutuhkan 2-3 hari perawatan biasa untuk sembuh"
"Tak perlu meragukan kemampuanku" Hendra berbicara dengan sombong
"Apakah itu benar-benar sudah sembuh?" Amelia tidak percaya jika ibunya benar-benar sembuh dalam 3 hari, dia pikir akan membutuhkan 6-9 bulan pengobatan lagi.
"ya, anda tidak perlu khawatir untuk itu" Liona sudah sangat yakin jika mesin ini tidak rusak, dirinya menatap Hendra adegan kagum, tanpa dia sadari Hendra menatapnya kembali.
"Ah, maafkan aku" Liona Memalingkan wajah dirinya sangat karena ketahuan jika menatap Wajah Hendra.
[Ketertarikan Liona 60%]
[Ketertarikan Amelia 70%]
[Misi selesai]
[Hadiah]
-Teknik mengemudi super
Mendengar perkataan sistem yang berturut-turut Hendra hanya tersenyum.
"Tak apa, semua wanita memang menyukaiku" Hendra berjalan keluar dia melihat seorang pria yang sebelumnya dan menatap dirinya dengan sinis.
Tak menghiraukan Tatapan itu Hendra berjalan ke ruangan Alisa, Dia melihat Mereka yang sedang makan beberapa makanan yang Greg beli di pinggir jalan.
__ADS_1
"ini enak, dimana kamu membelinya?" Alisa merasa makanan yang Greg beli itu lebih enak dari makanan di restoran