
"Selamat kamu telah menjadi ayah" ucap Liona sambil tersenyum.
Hendra tersentak mendengar hal itu, dia belum menikahi salah satu wanitanya tetapi Ana sudah hamil.
Setelah menghela napas Hendra pergi ke arah Ana dan mengelus rambutnya.
"Aku akan mempersiapkan acara pernikahannya sekarang, maafkan aku karena tidak segera menikahi kalian" Hendra memeluk Ana dengan kasih sayang, dia tidak mengira jika Ana akan mengandung.
"Tak perlu mengadakan acara, aku hanya perlu Sah di mata hukum saja" Ana Tidak mau pernikahan yang mewah, dia meminta Hendra hanya menikahinya sah secara hukum.
"Jika kamu ingin begitu bicarakan terlebih dahulu kepada mereka" Hendra menunjuk ke arah ketiga Wanitanya.
"Tidak perlu mengatakan apapun, aku juga setuju dengan kamu" Ucap Layla yang sama seperti Ana.
"Aku juga" Ucap Lidya
Alisa tidak bisa mengatakan tidak, dia melihat semuanya setuju kepada Ana dan hanya menyetujui apa yang mereka inginkan.
"Baiklah, Besok kita akan melakukannya" Ucap Hendra yang masih memeluk Ana.
"kamu sebaiknya istirahat terlebih dahulu, tidak perlu khawatir tentang perusahaan, Aku akan mencari pengganti sementara untuk hal itu" Alisa tidak ingin jika Ana memikirkan perusahaan miliknya dan akan membuat janin di dalamnya terganggu.
"Oh ya bukankah kakak kamu masih mencari pekerjaan? bagaimana jika sementara ini bekerja di perusahaan Alisa, itu sedikit lebih baik jika tidak melakukan apapun" Hendra baru ingat jika Bella masih menganggur akibat kejadian sebelumnya.
"Itu lebih bagus, kita adalah keluarga dan lebih baik membantu sesama" ucap Alisa yang setuju dengan Hendra.
"Aku akan membicarakannya dengan kakak aku" Lidya tidak bisa membuat keputusan tentang ini, dia Mengambil Handphone miliknya dan menelepon Bella.
"Hallo, ada apa Lidya?" Tanya Bella dalam telepon.
__ADS_1
"Kak, apa kakak mau bekerja?" Tanya Lidya
"pekerjaan apa? Aku tidak bisa bekerja dengan yang berat-berat"
"Em, sebentar" Lidya berjalan ke arah Alisa dan bertanya "Katanya bekerja sebagai apa?"
"Sekertaris, aku membutuhkannya esok pagi" Ucap Alisa Yang berdiri di sebelah Liona.
"Katanya sekertaris, apa kakak tertarik?" Tanya Lidya kembali.
"Apakah bosnya laki-laki? jika iya aku tidak akan menyetujuinya" Bella masih trauma tentang kejadian sebelumnya.
"Tidak, Dia wanita dan juga temanku" Jawab Lidya dengan cepat.
"Baiklah, apakah aku harus presentasi terlebih dahulu untuk bekerja?" Tanya kembali Bella.
"Sepertinya tidak perlu, kakak cukup pergi ke perumahan Serang Raya, aku akan memberikan alamatnya kepada kakak nanti" Lidya kemduian mematikan teleponnya dan berjalan kembali ke tempat sebelumnya.
"Dia setuju" Jawab Lidya.
"Em, itu apakah kalian benar-benar belum menikah?" Liona sebelumnya sangat terkejut saat mendengar jika hendra akan menikah esok pagi.
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu? Bukankah aku sudah mengatakan jika kami akan menikah esok?" Hendra tidak suka jika dirinya harus mengucapkan kalimat kedua kali yang dia tidak inginkan.
"Mm, bolehkah aku juga ikut dalam pernikahan itu?" Tanya Liona dengan sedikit gugup.
"Jika kamu ingin ikut tidak perlu bertanya, ikut saja bukankah hanya melihat kami menikah?" Alisa menjawab.
"Bu....bukan, aku bukan ingin ikut melihat, te.....tetapi ikut melakukan pernikahan dengan Hendra" Liona Menundukan kepalanya saat berbicara, dia sangat takut jika wanita Hendra akan menolaknya.
__ADS_1
"Kalau itu kamu bisa bertanya kepada Hendra, jika ingin menikah dengannya mungkin kamu tidak akan merasa jika dia tidak adil dan tidak pernah memuaskan kami" Alisa menatap ke arah Hendra.
"Hmph, bukannya aku tidak mau, jika saja tidak ada urusan semalam mungkin aku sudah memakan kalian semua" Hendra tidak bisa berdiam saat dirinya di perlakuan di depan wanitanya dan lagi itu adalah wanitanya yang mempermalukan dirinya.
Hendra melihat Ana sudah tertidur di pelukannya, dia merebahkan Ana dan menyelimuti Tubuh Ana mengunakan selimut kemudian duduk kembali di sebelah Ana.
"Kenapa menjadi ribut? kamu belum menjawab pertanyaan Liona sebelumnya" Layla melihat Liona yang menunggu jawaban dari Hendra dia sedikit jengkel karena Hendra yang seharusnya menjawab pertanyaan malahan ribut dengan Alisa.
"Baiklah, aku tidak akan menolaknya" Ucap Hendra.
"Ka...Kalau begitu apakah kamu akan menikahiku?" Tanya Liona kembali memastikan.
"Ya" Jawab Hendra.
Mendengar itu dia sedikit lega dan tersenyum bahagia.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, jika tidak itu akan menggangu Ana yang sedang tertidur" Lidya Melihat Ana yang tidur dengan nyenyak, dia memerintahkan semuanya tidak berada di kamar.
"Apa Ana sudah makan sebelumnya?" Hendra khawatir jika Ana belum makan dan akan membuatnya semakin lemas.
"Sudah, aku sudah memberikannya sebelum kamu sampai" Jawab Alisa dan berjalan keluar.
Mendengar itu Hendra tak lagi mengkhawatirkan apapun lagi, dia keluar mengikuti semuanya.
"Itu, aku akan pergi sekarang" Liona masih sedikit canggung untuk bersama wanita Hendra, dia berpamitan untuk pergi tetapi Hendra menghentikannya.
"Sebaiknya kamu makan dulu, setelah makan aku akan mengantarkanmu kembali" Hendra tidak bisa membiarkan Liona pergi sendiri.
"Em baiklah" Liona duduk di kursi makan dan sedikit menyantap makanan karena masih merasa malu.
__ADS_1
Setelah makan siang Hendra keluar bersama Liona dan pergi mengantarkan Liona ke rumah sakit, Hendra yang masih ada urusan dia pergi ke Kampung bandit untuk melihat perkembangan yang terjadi dan melihat kembali Gedung yang di bangun dirinya.