
Melihat Robi berlari ke arah mereka, semua orang Mundur beberapa langkah kebelakang.
"Mereka sangat menyeramkan, jika aku tertinggal bisa-bisa Diriku dihajar habis oleh segerombolan orang ini" Robi berpikir dia akan dibunuh oleh orang-orang yang sedang berbaris, dia Berlari dengan cepat tanpa melihat ke kanan dan kiri.
"Menyingkir dari jalan, jika tidak kita akan habis olehnya, bahkan bos saja kalah olehnya" salah satu orang berbisik dan menarik seseorang yang berada sedikit di depan.
Semua bawahan Greg mengira Greg kalah oleh Robi, mereka tidak tahu jelas tentang pertarungan sebelumnya, bahkan mereka saja tidak mengenal hendra dan tidak tahu jika hendra akan datang ke kampung mereka.
"Ba....baik" Orang tersebut mengiyakan dengan takut, karena sebelumnya Greg pernah bertarung dengan 10 orang sekaligus tetapi tidak ada bekas luka sedikitpun dari tubuhnya.
"Apa kamu yakin ingin menyembuhkannya?" Hendra bertanya kepada Greg,dia takut Greg tidak ingin sembuh karena penyakit ini adalah penyakit yang tidak dapat merasakan sakit pada bagian tertentu.
"Yakin, sangat yakin, ini bukan tentang rasa sakit tetapi semua rasa bahkan rasa nasipun aku tidak dapat merasakannya karena penyakit ini, aku sudah lupa bagaiman rasa seafood makanan favoritku" Penyakit ini tidak hanya tidak merasakan sakit, bahkan rasa pada makanan ataupun rasa ketika menyentuh barang Greg tidak merasakannya kecuali hanya satu bagian tertentu yaitu kaki kanannya.
"sekarang kamu berbaring" Hendra yang sudah meracik beberapa obat kembali ke ruangan dimana Greg menunggu.
"Baik" Greg berbaring dengan kepala menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Buka dulu pakaian milikmu"
"A....apa, ti...tidak Aku bukan laki-laki seperti itu, bahkan jika anda membunuh...." Hendra membekap mulut Greg dengan Pakaian yang sudah tidak di pakai yang berada di dekatnya.
"Brengsek, memangnya aku pria seperti apa yang menyukai hal seperti itu, dan lagi memangnya pria seperti itu menyukai pria tua sepertimu"
"Ma...maaf Aku pikir" Greg tak melanjutkan ucapannya, dia segera membuka seluruh pakaian dan menyisakan pakaian dalam miliknya.
"Apa sudah?" Greg bertanya sambil menutupi burung miliknya.
"Set" Hendra menusukkan Satu jarum emas pada pusar Greg.
Greg masih tidak meraskan apapun, dia tidak memiliki reaksi bahkan rasa sakit sedikitpun ketika di tusuk menggunakan jarum, jika saja manusia biasa mereka pasti akan berteriak kesakitan merasakan sakitnya ditusuk oleh jarum walaupun ukurannya kecil, jika tidak percaya kalian bisa mencobanya.
"Set,set,set" Hendra menusukkan Satu persatu jarum yang berada di tangannya sampai semuanya habis tak tersisa.
__ADS_1
Setelah menusukkan beberapa jarum dia mengambil obat yang baru saja dia buat dan mengoleskannya di dekat jarum yang dia tancapkan.
"Sles,sles,sles" Setelah semuanya di oleskan hendra duduk dan memperingati Greg " Jangan banyak bergerak terlebih dahulu, tunggu 10 menit"
Greg mendengarkan ucapan Hendra, dia tidak bergerak sedikitpun.
"Apa dia tega membiarkan sahabatnya seperti ini?" Robi duduk di depan Ruangan Dimana Greg sedang di diobati.
5 menit kemudian
"Apa sudah selesai?" Greg tidak sabar untuk itu, dia bertanya tanpa menggerakan sedikitpun Anggota tubuhnya walaupun itu rambutnya sendiri.
"5 menit lagi, tunggu 5 menit lagi kamu akan merasakan Apa yang ingin kamu rasakan, dan lagi itu belum selesai, kaki kanan milikmu juga memiliki Beberapa masalah, aku akan mengobatimu setelah ini"
"Benarkah? bagaiamana jika ini tidak berfungsi? Apa kamu yakin ini dapat sembuh?" Greg bertanya dengan ragu.
"Tunggu saja 5 menit lagi" Hendra sudah malas untuk menjelaskan dan berbicara kepada Greg.
"Argh" Greg berteriak merasakan Sakit dari bagian tubuhnya yang sebelumnya tidak pernah merasakan apapun termasuk lidahnya.
"Ke....kenapa rasanya seperti..... seperti akan ma...mati" Greg Menahan rasa sakit dari seluruh tubuhnya dengan mencengkeram erat dinding yang berada di atas kepalanya.
"Tahan sebentar, aku akan mengambil Satu persatu jarum yang berada di tubuhmu" Hendra Berdiri dan berjalan ke arah Greg, kemudian mulai mengeluarkan satu persatu Jarum yang telah dia tanam.
"Krak" Dinding yang di cengkeram oleh Greg Hancur, tak hanya mencengkeram erat pada dinding, Greg juga menahan rasa sakit dengan menggigit Gigi miliknya agar meredakan rasa sakit.
"kalah trus, kenapa selalu dapat tim seperti ini bangsat, main 3 kali menang 1 kali kalah 2 kali? percuma saja aku main tadi" Robi Memainkan Game online yang bekerja sama sesama tim, tetapi bukannya menang dia kalah terus dan mendapatkan tim yang tidak mengerti main.
"kenapa belum juga selesai?" Robi Sudah menunggu hendra dari luar sambil memainkan game, dia sudah mulai bosan karena telah kalah hari ini.
"Hah lebih baik main sekali lagi, jika kalah lagi aku akan membunuh pemilik game ini" ucap Robi dengan kesal.
"Sudah" Hendra menempatkan kembali jarum ketempat sebelumnya dan menyimpannya.
__ADS_1
"i.....ini memang benar-benar sembuh? mustahil, tapi aku tidak dapat tidak percaya ini karena ini memang nyata"
"Terima kasih tuan telah menyembuhkan penyakitku, aku berjanji akan selalu setia kepadamu" Greg bersujud di hadapan hendra dengan air mata mengalir, dia sangat senang telah bisa meraskan kembali perasaan dimana dia dapat menikmati setiap makanan.
"Memang harus setia, aku menyembuhkanmu untuk menjadi bawahanku, sudah kamu tidak perlu bersujud seperti itu" Hendra memang berniat untuk menjadikan Greg sebagai bawahannya dia tidak dapat memegang banyak perusahaan sekaligus kedepannya.
"Ya, aku janji akan setia kepadamu, dan mulai sekarang kampung ini adalah kampung milik tuan" Greg Berdiri dengan wajah tersenyum.
"Baiklah, sekarang kamu kasih tahu apa yang ada di kampung ini dan asal usul kenapa kampung ini dinamakan kampung bandit" Hendra tidak mengetahui kenapa kampung tersebut dinamakan kampung bandit.
"Baiklah tuan, oh ya apa teman anda akan dibiarkan di luar saja?" Greg ingat bahwa teman Hendra masih berada di luar.
"Astaga, aku lupa bahwa diriku lagi membawa seseorang" Hendra berjalan keluar sambil menepuk keningnya.
"Oi" Hendra menepuk Pundak Robi yang sedang pokus memainkan game.
"Ah..... Hendra brengsek" Robi terkejut oleh hendra, sampai sampai dia melemparkan handphone miliknya beberapa meter darinya.
"Apa yang kamu lakukan, handphone ku jadi rusak bodoh" Robi berjalan untuk mengambil handphone miliknya yang terlempar tadi.
"mangkannya kalau main jangan terlalu fokus, kenapa tidak masuk? di dalam ada banyak makanan noh, apa tidak lapar" hendra mengolok-olok robi yang sedang kesal.
"Habiskan aja, lagi main" Robi kembali duduk dan bermain dengan game sebelumnya.
"Sudahlah bi, kamu kalau udah main game itu susah banget di ajak kemana-mana, ayo kita masuk" Hendra menarik dengan paksa Robi yang sedang memegang handphone.
"Yaudah Yaudah gw masuk, lagi main juga main paksa aja" Robi masuk tetapi matanya tetap melihat ke layar ponsel.
"buk"
"ugh"
Robi terbentur dinding karena tidak fokus berjalan
__ADS_1