
Hendra yang sudah sampai di rumah sakit Jiang dia segera mengangkat Tubuh Alisa dan berjalan dengan cepat.
Semua orang yang melihat Alisa yang Mengeluarkan banyak darah menyingkir dari jalan.
"Kenapa banyak sekali darah? Sepertinya dia kecelakaan" Seseorang berbicara dengan Terkejut saat melihat banyak darah di tubuh Alisa.
"Tidak, apa kamu tidak melihat pisau yang menancap di dadanya, sepertinya dia ada yang ingin membunuhnya" Hendra tidak mencabut pisau itu agar Alisa tidak mengeluarkan darah yang lebih banyak dari sekarang.
"Di tikam? Apa mungkin Laki-laki itu yang menikamnya?" Orang yang di belakang menyangka hendra menikam Alisa.
"Bicara jangan sembarang, mana mungkin wanita yang cantik itu Di tikam oleh dia"
"Bisa saja, aku tidak dapat memastikannya karena tidak tahu kebenarannya"
Hendra sebenarnya mendengar apa yang mereka bicarakan tetapi dirinya tidak menghiraukannya, dia tetap berjalan sambil menggendong Alisa dengan panik
4 orang wanita berbaju putih yang tak lain suster berjalan membawa Brankar Ambulance.
Hendra Yang tahu jika itu untuk Alisa dia segera merebahkan Alisa Ke Brankar Ambulance dan segera mengikuti Alisa Ke ruang UGD.
Dia hendak masuk tetapi dirinya di hadng oleh suster yang sebelumnya membawa Brankar Ambulance.
"Tolong bapak tunggu di luar, kebetulan Dokter Nomor 1 akan melakukan operasi pada pasien"
"dokter nomor satu?" Hendra bingung dengan apa yang di katakan Suster itu, dia bertanya dalam hatinya.
"Ya, Dokter itu sangat jenius dan sampai sekarang 90% dapat menyembuhkan luka pasien"
tak berselang lama seorang wanita cantik berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam ruang UGD yang di mana Alisa sedang di dalam.
Hendra tidak melihatnya karena dia sangat panik sekarang, berjalan mondar mandir dia memikirkan jika saja mereka tidak bisa menyembuhkan Alisa dia akan membunuh dokter yang mengoperasi Alisa.
"Pak, apakah anda keluarga pasien? mohon tanda tangani dan setelah itu membayarnya ke sana" Suster itu memberikan selembar kertas dan memberikan pena kepada Hendra agar menanda tangani.
"Ya, saya keluarganya" Hendra Mengambil kertas itu dan menanda tangani surat dan kembali memberikannya.
__ADS_1
Selepas hendra menandatangani dia berjalan ke arah Suster tadi menunjuk.
"Mba, saya ingin membayar biaya pengobatan Pasien atas nama Alisa"
"Baik, tunggu sebentar"
Selang beberapa Menit Wanita di hadapan hendra memberikan sebuah Kertas dan berkata "Ini pak total biayanya,anda dapat melihatnya"
Hendra mengambil dan melihat berapa totalnya, setelah melihatnya hendra kemudian berkata "Apakah bisa memakai kartu bank?"
"Bisa pak" Jawab sepontan Wanita itu.
Setelah Hendra berkata beberapa patah kata dia mengirimkan 100 juta, berjalan ke tempat sebelumnya Hendra merenung.
20 menit kemudian
"Drap,Drap,Drap" Beberapa langkah kaki berlari ke arah Hendra.
"Hendra, apa yang terjadi?" Layla bertanya dengan panik duduk di sebelah Hendra.
"Alisa di tusuk di bagian dadanya" Hendra berkata tetapi dirinya tidak menengok ke arah semua wanitanya, dia sangat kecewa pada dirinya yang tidak bisa melindungi Alisa.
"Dapatkah kamu menjelaskan apa yang terjadi?" Lidya ingin tahu bagaimana itu dapat terjadi, dia sangat Terkejut, bahkan Semua wanita hendra menangis mendengar jika Alisa tertusuk.
Hendra menjelaskan tentang di mana dirinya di hadang oleh Ryan.
Setelah Hendra selesia bercerita Semuanya terdiam dan menangis sejadi-jadinya.
Seseorang membuka pintu UGD dengan wajah murung, hendra yang melihat itu dia Berdiri dan bertanya "Apakah operasinya lancar"
"Maaf pak, operasinya gagal karena pasien kehilangan banyak darah" Suster itu menjelaskan apa yang terjadi di dalam
"Brengsek, katamu ada dokter nomor 1? mana dia, kenapa tidak dapat menyembuhkan penyakit begini saja? biarkan aku yang bertindak" Hendra tidak percaya itu terjadi, dia akan melakukan apapun untuk membangunkan Alisa
suster itu tak mencegah Hendra, Semua wanita Hendra masuk untuk melihat kebenarannya.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Wanita yang sebelumnya melewati hendra bertanya dengan Terkejut.
"Menyingkir dari sini, aku akan membangunkannya" Hendra memiliki keterampilan yang dapat membangunkan seseorang kembali ketika itu tidak terlambat, tetapi resiko yang di tanggung dirinya juga besar.
"Berhenti di sana, jangan mencoba-coba untuk melakukan apapun, dia sudah mati" kembali Wanita itu berbicara dengan wajah marah.
"bisakah kamu keluar,aku tidak akan fokus jika dirimu ada di sini" Hendra sedikit marah kali ini.
"Apa-apaan kamu, ini rumah sakit milikku, jadi aku berhak menentukan siapa yang keluar dan masuk" Wanita itu menyombongkan dirinya.
"Aku tidak peduli lagi dengan siapa kamu" Hendra Tak menghiraukan lagi Wanita itu, dia mengambil Jarum dari kantong celananya dan segera menusukkan beberapa ke dalam titik akupunktur milik Alisa.
"Jarum? kenapa dia menusukkan jarum ke dalam pasien yang sudah mati?" Wanita itu heran dengan Hendra, tak berselang lama 3 orang wanita masuk ke dalam, mereka hanya berdiri di belakang hendra tak berani berbicara dan hanya menahan tangis mereka.
"haruskah saya mengusir mereka?" Seorang pria yang selalu di dekat Wanita itu maju satu langkah.
"Tidak perlu, aku ingin melihat apa yang bisa dia lakukan dengan angkuh berbicara seperti itu" Wanita itu bernama Liona, Gadis cantik yang di juluki dokter jenius nomor satu, tetapi entah kenapa Alisa tidak dapat di sembuhkan olehnya.
Laki-laki yang di sisinya kembali ke belakang dan hanya menatap Hendra dengan tatapan kosong.
"Aku tidak akan membiarkan dirimu mati begitu saja" Hendra menusukkan Satu jarum terakhir dan mengeluarkan begitu banyak Keringat.
Hendra terduduk di kursi yang ada di belakang dirinya, dia sangat lelah karena resiko yang mungkin dapat merenggut nyawanya.
Selang beberapa detik Alisa menggerakkan Tangannya, Lidya Melihat itu dia berteriak "Di...dia menggerakkan Tangannya!"
"A...apa! bagaimana itu terjadi? Sepertinya penglihatanmu mulai kabur" Liona berbicara tidak percaya, dia memperhatikan Alisa.
"Uhuk..... Uhuk uhuk" Alisa mengeluarkan darah yang cukup banyak, dia lemas tak berdaya walaupun Bekas tusukan itu sudah tidak ada.
"Aku.... hidup kembali?" Alisa menatap Hendra dengan bingung, dia tidak percaya jika dapat hidup ke dunia kembali.
Sebelumnya, dia melihat ruangan putih yang tidak ada siapapun, dirinya sangat ketakutan untuk itu, beberapa saat Hendra datang dan memegang erat tangan Alisa, Alisa hanya menurut dan setelah itu dia terbangun dari kematiannya.
"i...ini mustahil, kenapa dia dapat hidup kembali? sebelumnya aku tidak pernah melihat pengobatan ini" Dengan tidak percaya Liona mengatakan dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"dia membutuhkan banyak darah, apa kalian memiliki Golongan darah ABO" Hendra berdiri kembali untuk melanjutkan pengobatannya, dia mengambil Handphone dan menghubungi Greg.
"Hallo bos" Greg mengangkat telepon dengan memegang cangkul yang akan menguburkan Kedua mayat itu