
"Brak!"
Tiba-tiba ketika Hendra sedang mengelus rambut Ana seseorang menahan mobilnya untuk bergerak.
"Ugh"
Hendra Yang mengetahui hal tersebut menahan Kepala Ana agar tidak terbentur, tetapi Alisa yang di belakang terjungkal sampai terbangun.
"Apa yang terjadi?" Alisa kemudian duduk dan menatap Hendra
"Tidak apa-apa, kamu tunggu di sini" Hendra keluar dari mobil dan bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
"Swoosh" Bayangan Melintas Bagaikan Sebuah angin tanpa terlihat.
Hendra menatap Ke sekeliling tetapi tidak ada satupun makhluk ataupun seorang yang melintas.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Alisa bertanya tanya pada dirinya, dia tidak mengetahui apa yang terjadi, sedangkan Ana yang sedang nyenyak tertidur semakin pulas.
'Hanya orang yang tidak memiliki kemampuan berani-beraninya keluar dari mobil' Ryan bergumam dari balik pohon.
Setelah beberapa saat Ryan melihat Hendra dia kemudian menyerang menggunakan tangannya sendiri.
"Swoosh"
"Bruak"
"Ugh"
"Siapa kamu?" Hendra membalikan badan Ryan menghadap Mobil dan memegang tangannya ke belakang.
"Buk" Ryan Menendang Kaki hendra membuat hendra melepaskan Genggaman pada Lengan Ryan.
"Agh" Teriak hendra saat kakinya di tendang dengan keras oleh Ryan.
"Bu....bukan kah itu kak Ryan?" Alisa yang melihat Ryan Dari dalam mobil saat ini gugup.
"Bak"
"Buk"
"Duk"
__ADS_1
Saat ini pertarungan yang sengit dimulai, Hendra dengan ryan memukul satu sama lain.
"Bruk" Hendra terjungkal sampai beberapa meter
Ryan tidak mempunyai cara lain dia kabur dengan cepat melihat tenaga hendra tidak kelelahan sama sekali.
'Brengsek, kenapa kemampuan anak itu lebih hebat dariku? dan tenaganya juga lebih besar' Ryan yang sudah berlari jauh dari hendra menggerutu di dalam hatinya.
"Apa kamu tidak apa-apa?" Alisa mengkhawatirkan Hendra, dia segera keluar untuk melihat apa yang terjadi kepada hendra.
"Tidak apa-apa, apa kamu mengenal orang yang tadi?" Hendra tidak mengetahui wajah Ryan, jadi dia bertanya kepada Alisa.
"Dia.....Dia Kakak aku Ryan" Alisa berkata jujur kepada Hendra, bagaimanapun Ini ulah dirinya, jika saja dia tidak mengajak hendra menghadiri acara mungkin saja hal ini tidak terjadi.
'Cih, kata sistem dia hebat? Baru saja bertarung beberapa menit sudah melarikan diri' Hendra merasa bahwa dirinya adalah yang terkuat dan dapat mengalahkan Ryan hanya beberapa menit saja.
[Bagaimanapun tuan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri tuan, jika saja Tuan tidak mempunyai Kemampuan tersebut anda akan kalah hanya dalam beberapa menit terakhir]
'Sudahlah, terserah dirimu saja, aku tidak ingin berdebat denganmu, bagaimanapun toh aku yang menang'
"maafkan aku Hendra" Alisa merasa bersalah dan meminta maaf.
"Tapi.... bagaimanapun kakakku mencariku, dia sangat ingin membunuhku gara-gara dia mengira aku telah membunuh Ibu kandungnya"
Setelah kepergian Alisa beberapa hari kemudian Ibu Ryan meninggal karena kecelakaan mobil, dia mengira bahwa Alisa yang melakukannya karena rem nya blong, Ryan berpikir tidak mungkin Hal itu terjadi tanpa ada yang melakukannya, Dia berpikir Alisa yang melakukannya karena Alisa adalah satu-satunya orang yang membenci Ibu kandungnya pikir Ryan.
"Aku percaya padamu, toh mereka yang salah karena telah membuatmu terlantar, mungkin itu adalah balasan yang setimpal karena mereka telah membuatmu menderita" Hendra tidak ingin mendengar cerita Alisa, Setelah berkata demikian Hendra masuk ke mobil setelah Alisa masuk.
Beberapa menit setelah hendra menyetir dia melihat seorang pria yang berdiri menatap Ke bawah jembatan.
Hendra mendekat dan berhenti di belakang pria tersebut.
"Robi, apa yang terjadi? Kenapa kamu berada di sini?" Hendra melihat wajah robi yang penuh dengan amarah, dia tidak percaya bahwa akan melihat sahabatnya sendiri yang selalu happy sekarang telah dipenuhi amarah.
"Hei, apa kamu bisa menjawab pertanyaanku? wajahmu begitu merah dan lebab, jika ada masalah kamu harus memberitahuku" Hendra menarik Tangan Robi sebelah mobil Ana.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti Ini?" Hendra bertanya kembali
"Apa yang harus aku lakukan dra, dia hanya menjadikan aku sebagai pecundang yang tidak memiliki apa-apa, dia hanya merasa empati padaku, rasanya aku ingin menghancurkan dunia ini, tapi....." Robi berhenti saat mengingat kembali masa dimana dirinya menembak Lulu.
"Apa kamu diputuskan oleh dia?" Hendra bertanya, dia tidak mengetahui nama pacar Robi dan tidak mengenalnya.
__ADS_1
Robi tidak menjawab pertanyaan Hendra, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, apa kamu ingin membuat dia menyesal?"
"Apa?.... apa yang harus aku lakukan, jika saja diriku diciptakan menjadi jahat aku siap memberantas kebaikan seseorang dengan mencungkil matanya, merobek jantungnya bahkan membunuh semuanya" Robi berteriak dengan penuh amarah, dia tidak dapat mengendalikan dirinya saat ini, rasa sakit yang menyayat hatinya saat ini masih terasa olehnya.
"Alisa, kamu bantu aku membawa mobil, apa bisa" Hendra berdiri dan membuka pintu Mobil belakang
"Bisa" Alisa yang mengetahui situasi yang tidak baik hanya bisa menyetir agar tidak membuat suasana tersebut menjadi lebih parah.
"ayo" Hendra mengajak Robi masuk ke dalam Mobilnya
40 menit kemudian
"Jangan membuat ibumu khawatir, besok kita bertemu di cafe seperti biasa jam 1" Hendra mengantarkan Robi sampai rumahnya, dia khawatir Ibu Robi akan khawatir jika Robi tidak pulang sampai pagi.
Robi tidak menjawab ucapan Hendra, dia hanya berjalan dengan putus asa.
"Huft, ada-ada saja, Bagaimana agar dia dapat menjadi sepertiku? Apa ada sistem lain di dunia ini dan memberikannya pada sahabatku" Hendra merasa kasihan pada Robi sahabatnya yang selalu ada untuknya.
Disisi Lain Ryan kecewa pada dirinya karena tidak bisa membalaskan dendam ibunya pikirnya.
"Halo Ray, kamu kembali saja, orang yang aku cari memiliki Orang yang kuat, sebaiknya kamu berhati hati, aku akan mencari dan meminta bantuan kepada orang yang mempu melawan orang terebut" Ryan menelepon Ray agar kembali.
"Baik bos" setelah menerima telepon dari Bosnya Ray kembali menggunakan mobilnya.
"Krek" Alisa membuka pintu.
Terlihat layla yang sedang berbaring di sopa sendiri.
"Alisa, kamu bangunkan dulu layla baru menyusul ke atas" Hendra naik ke atas dengan menggendong tubuh Ana.
"Layla" Alisa menggoyangkan tubuh Layla dengan pelan.
"Umh, apa kalian sudah pulang?" Layla duduk dengan mata yang masih terpejam.
"Kemana Lidya? Apa dia pulang?" Alisa melihat Bahwa Layla sendiri dan tidak ada siapa-siapa selain Layla.
"Dia sudah pulang karena di telepon oleh Kakaknya, katanya dia belum pulang dari kemarin" Layla berdiri dengan sempoyongan kemudian mengambil kunci dari kantongnya berjalan ke pintu dan mengunci pintu.
"Aku sudah sangat kantuk" Layla berjalan meninggalkan Alisa sendiri.
__ADS_1