SKAKMAT

SKAKMAT
Pernikahan


__ADS_3

Di depan altar gereja, dua orang manusia saling mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan, dan di hadapan jemaat yang hadir. Keluarga besar Ardi Sebastian juga turut serta menyaksikan dua mempelai itu. Tampak kebahagiaan memenuhi ruangan itu. Kecuali kedua mempelai itu, Amanda dan juga Sebastian, mereka hanya tersenyum, berpura-pura bahagia atas pernikahan itu.


Ardi Sebastian tampak bahagia begitu pula istrinya. Ada sedikit rasa haru di hati Ardi. Ia tidak tahu bagaimana nanti kehidupan keluarga putranya setelah ini, namun sebagai orang tua, ia hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk putra satu-satunya itu.


Setelah pemberkatan nikah selesai, resepsi pernikahan Amanda dan Sebastian pun berlangsung. Acara itu hanya di hadiri oleh keluarga dari pihak Bastian, mengingat pernikahan ini harus di rahasiakan untuk umum. Ucapan selamat dan doa-doa terbaik terus berkumandang di telinga ke duanya. Cukup lama mereka berdiri, hingga seluruh tamu undangan selesai memberi ucapan turut berbahagia.


***


Setelah resepsi selesai, Amanda dan Sebastian menuju kamar mereka. Amanda cukup lelah, hari ini terasa begitu panjang. Seluruh tubuhnya remuk redam. Berdiri selama beberapa jam membuat tubuhnya benar-benar butuh tempat untuk bersandar. Ia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur suaminya. Ia tidak peduli apapun, ia belum sempat membersihkan dirinya, gaun pernikahannya masih melekat di tubuhnya. Ia benar-benar lelah, ia pun akhirnya terlelap, menuju alam mimpi.


Tak lama waktu berselang Sebastian memasuki kamarnya. Ia melihat wanita itu, senyum licik terlukis di wajahnya


Berani sekali dia tidur di ranjangku. Aku tidak sudi berbagi ranjang dengannya, batin Sebastian

__ADS_1


Ia kemudian menuju kamar mandi, mengambil segayung air lalu menyiram wajah Amanda. Wanita itu kaget bukan main. Ia bahkan kehabisan napas, karena sebagian air itu masuk ke hidungnya.


"Berani sekali kamu tidur di ranjangku. Jangan harap aku mau tidur denganmu wanita murahan. Pergi sana," bentak Bastian


Ingin sekali Amanda memukul lelaki itu. Tapi ia urungkan niatnya itu. Tubuhnya cukup lelah, ia tidak ingin bertengkar dengan suaminya malam itu. Lebih baik ia mengalah. Ia meninggalkan suaminya, menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air adalah pilihan terbaik untuk menghilangkan penat dan lelahnya, juga untuk menjernihkan pikirannya.


Setelah semuanya selesai, ia keluar. Kemudian mengambil selimut dan bantal di dalam lemari menuju sofa. Ia ingin sekali tidur. Melihat itu Sebastian semakin geram. Ia harus menyiksa perempuan itu


"Enak sekali kamu langsung tidur. Bersihkan ranjangku, ganti dengan yang baru. Aku tidak mau menggunakan bekas wanita murahan sepertimu," teriaknya


BUKH..!!


Tepat sekali bantal itu mengenai wajah Bastian. Amanda kaget, spontan kedua matanya terbuka lebar. Kini wajahnya berubah menjadi pucat, tubuhnya gemetar

__ADS_1


Apa yang sudah aku lakukan, yang benar saja aku melemparnya. Itukan hanya khayalanku saja. Mati aku dia marah, aduh bagaimana ini. Dimana keberanianku, ayo tunjukan dirimu yang sesungguhnya Amanda, arrkkhh. Batin Amanda


"Maafkan aku, aku tidak sengaja melemparnya. Jangan pukul aku, ku mohon jangan," ucap Amanda memohon.


Ia takut sekali melihat kemarahan suaminya. Laki-laki itu mencengkram lehernya kuat, hingga Amanda sangat kesakitan


"Kurangajar sekali kamu, kau ingin melawanku hah? Jangan pernah berharap kau bisa. Hidupmu sebentar lagi akan seperti di neraka," ucap Sebastian.


Kini tangannya sudah tidak lagi di leher gadis itu. Tangannya mencengkram rambut Amanda, menariknya cukup kuat. Gadis itu pun menangis kesakitan. Ia terus memohon agar suaminya melepaskan tangannya. Namun tidak dihiraukan oleh Sebastian. Ia masih marah. Ia menarik rambut gadis itu semakin kuat, lalu melemparkan gadis itu ke sofa.


Amanda merintih kesakitan, sikunya terluka karena mengenai lantai. Kemudian masih di penuhi emosi Sebastian mencengkram wajah gadis itu hingga meninggalkan bekas merah di pipinya yang putih.


"Cepat bersihkan kamar ini. Aku memberimu waktu lima menit. Cepat!" teriak Bastian.

__ADS_1


Masih terisak Amanda pun menuruti perintah suaminya. Dengan cepat-cepat ia membersihkan kamar itu, ia masih merintih kesakitan. Tubuhnya sakit semua, tapi ia harus kuat.


Sabar Amanda, kau harus melewati ini. Sebentar lagi, setelah ini, kau yang akan memimpin permainan, ucapnya pada dirinya sendiri


__ADS_2