
Amanda masih terlelap dalam tidurnya saat ponselnya terus berdering. Dengan malas ia mengambil poselnya. Sebuah nomor kontak tanpa nama, muncul di layar ponselnya. Ia berpikir mungkin itu telepon nyasar, atau telepon iseng.
Namun saat ia hendak kembali tidur, terdengar notif pesan singkat. Karena rasa penasaran yang cukup besar, Amanda pun membaca pesan itu.
Hallo Amanda, ini aku Billy. Aku mau menagih janjimu yang kemarin. Ayo kita makan siang bersama. Ini kan akhir pekan, sangat baik di manfaatkan untuk rehat dari aktifitas kita yang padat. Aku janji hari ini akan menyenangkan~Billy
Amanda tidak menghiraukan pesan itu. Ia adalah tipe orang yang lebih senang menghabiskan waktunya untuk dirinya sendiri. Bagi seorang Amanda, menghabiskan akhir pekan dengan tidur sepanjang hari, lebih bermanfaat dari pada keluar rumah, untuk sekedar bersenang-senang. Ponselnya berdering lagi, tampaknya Billy belum menyerah. Ia menggeser tombol hijau, menganggkat panggilan ini
"Hallo Amanda, aku tahu kau sudah membaca pesanku. Ayolah kita bersenang-senang hari ini. Aku akan mengajakmu berkeliking kota. Jangan berdiam diri terus," ucap Billy penuh semangat
"Aku tidak mau Billy, aku mau tidur saja, aku ngantuk. Lain kali saja, oke" imbuhnya
"Ayolah Amanda. Kali ini saja, nanti kalau kamu tidak suka, aku tidak akan mengajakmu lagi. Bagaimana?" tawar Billy belum menyerah
"Ya suudah, aku siap-siap dulu,"
"Aku akan menjemputmu. Kirimkan alamatmu"
***
__ADS_1
Hari sudah beranjang siang, saat Bastian terbangun dari tidurnya. Ia sudah tampak lebih baik, rasa pusing di kepalanya sudah menghilang. Ia beranjak dari kamarnya menuju kamar Amanda. Ia berharap wanita itu sudah kembali.
Saat ia membuka pintu kamar, ruang itu kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Amanda. Bastian meninggalkan kamar itu, ia menuju sofa ruang tamu mereka. Ia termenung memikirkan keberadaan istrinya. Ia sangat takut, bagaimana jika wanita itu dalam bahaya. Apa yang harus ia lakukan? Ia juga tidak memiliki nomor telepon gadis itu. Satu-satunya ide yang muncul di pikirannya adalah menghubungi ayahnya, dan meminta nomor telepon Amanda.
"Hallo Ayah, Ayah punya nomor telepon Amanda?"
"Hallo Bas, dia kan istrimu. Kenapa tidak memintanya langsung," tanya Ardi bingung
"Ceritanya panjang Ayah, tadi Amanda menitipkan sesuatu, Bas sedang belanja di mini market. Bas lupa titipannya apa," ucap Bastian berbohong
"Ayah tidak punya nomornya Bas," ucap Ardi perlahan.
"Tapi Ayah hanya punya nomor telepon temannya Bas. Kau boleh menghubunginya, Ayah yakin, ia pasti menyimpan nomor telepon istrimu," ucap Ayah kemudian.
***
Amanda dan Billy sedang menikmati keindahan taman kota siang ini. Tampak senyum merekah di wajah gadis itu. Ia tampak begitu manis. Gadis yang biasa tampil dengan wajah dingin tanpa senyum itu, hari ini terlihat begitu bahagia. Seolah gunung es di wajahnya mencair karena panasnya matahari. Bagi Billy ini adalah keindahan, yang di izinkan Tuhan untuk ia nikmati. Ia memandangi wajah itu lekat, menyimpannya di ingatannya. Bagi Billy, menghabiskan waktu bersama Amanda, membuat ia sedikit lebih mengenal gadis itu. Amanda tidak ragu menceritakan proses hidupnya, bagaimana masa kecilnya. Dan berbagai hal lain yang tidak ia ketahui sebelumnya. Billy berharap, ia bisa menempati posisi terbaik di hati gadis itu.
Tiba-tiba ponsel Amanda berdering. Nomor baru lagi. Amanda sedikit kesal. Ia tidak pernah memberi nomor telepon pribadinya kepada siapun. Semua hal baik yang bersifat pribadi, ataupun urusan kantor, semua itu selalu di tangani oleh Ella. Ia pun memutuskan untuk membiarkannya saja
__ADS_1
"Kenapa tidak di angkat? Siapa tahu penting" ucap Billy
"Aah bukan apa-apa Bil. Nomor baru, mungkin panggilan nyasar, atau salah sambung," imbuh Amanda
"Kau selalu begitu Manda, tadi pagi juga pasti kau berpikir itu panggilan nyasar saat aku menelponmu kan?" ucap Billy sambil tertawa
"Semua hal selalu aku limpahkan pada Ella Bil. Aku tidak suka menghabiskan waktuku untuk orang yang tidak terlalu penting. Apa lagi yang hanya sekedar ingin berbasa basi mengenal diriku,"
"Apa aku juga tidak penting bagimu Manda?"
"Mungkin,..." ucap Manda sambil tertawa.
Ia sengaja menangguhkan kalimatnya, melihat reaksi Billy. Tampaknya pria itu bersikap biasa saja
"Tidak masalah jika aku tidak terlalu penting bagimu. Bisa melihatmu tertawa seperti tadi saja, aku sudah cukup bahagia," imbuh Billy mencoba merespon Amanda.
Sebenarnya ia cukup terluka dengan pernyataan Amanda, tapi ia tidak boleh menyerah. Mereka baru saja saling mengenal, wajar saja bila hal itu terjadi.
"Kita sekarang berteman Billy. Kau sudah menjadi temanku. Kau juga penting bagiku" ucap Amanda tulus.
__ADS_1
Ia memang sudah cukup lama tidak dekat dengan laki-laki. Sejak hari saat ia terluka, ia seolah menutuo dirinya, membangun tembok antara dirinya dan orang di sekitarnya