
Tidak tahu lagi apa yang harus Amanda lakukan. Suaminya itu, sangat keras kepala. Ia butuh penjelasan dari istrinya, namun ia juga tidak memberi waktu untuk Amanda bicara.
"Ah kepalaku pusing. Suka-sukamu saja Bas, aku lelah," ucap Amanda berteriak
Hening, tidak tanda-tanda Bastian akan meresponnya. Bahkan kini lelaki itu, sudah menghilang dari pandangannya.
"Aish, memiliki keluarga ternyata tidak seindah yang aku bayangkan," gumam Amanda, mengacak tatanan rambutnya, lalu melangkah pergi menuju kamarnya
Mungkin mereka butuh waktu untuk sendiri. Memikirkan kesalahan masing-masing. Terkadang kita butuh ruang sendiri, untuk mengintropeksi diri, memahami diri kita dengan benar. Setiap masalah, tidak akan menemukan titik terang, jika di bicarakan dalam keadaan yang tidak kondusif.
Saat Amanda menuju ranjang miliknya, tak sengaja ia melihat sebuket bunga tergelatak begitu saja.
"Eh, apa ini. Bagaimana bisa ada bunga di sini?" gumamnya bingung
"Tidak mungkinkan, bunganya jatuh dari langit," ujarnya lagi
"Apa jangan-jangan, ini dari Bastian? Dia menungguku di rumah, dan memberiku bunga,"
Amanda mengambil kesimpulan, jika semua yang terjadi adalah kesalahannya. Karena ia pergi tanpa meminta izin pada suaminya. Andai saja ia mengikuti kata hatinya, tentu ia tidak terlibat dalam masalah ini.
Ia kemudian berniat untuk meminta maaf, dan menjelaskan semuanya kepada suaminya. Rumit sekali rumah tangganya ini. Beberapa hari yang lalu, hubungan mereka mulai mengalami kemajuan. Lalu hari ini, semuanya menjadi berantakan lagi
__ADS_1
***
Menarik napas dalam, ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar lelaki itu,
"Bastian, bisakah kita berbicara sebentar?" ucapnya berteriak di balik pintu kamar yang tertutup
Ia menunggu, namun tidak ada respon dari objek yang berada di dalam kamar itu
"Bastian, tolong buka pintunya, aku ingin menjelaskan semuanya padamu,"
Masih tidak ada respon. Namun Amanda belum menyerah, ia harus menjelaskan semuanya.
"Bas, aku minta maaf, karena pergi tanpa meminta izin padamu. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa, membuatmu menunggu,"
"Ayolah Bastian, kita bicarakan ini baik-baik. Ini hanya masalah kurangnya komunikasi saja,"
Semuanya sudah Amanda sampaikan, namun itu tidak menarik perhatian Bastian. Menunggu sebentar berharap lelaki itu muncul dari balik pintu. Amanda menyerah, ia memilih kembali ke kamarnya. Bebannya sudah selesai, ia sudah meminta maaf, selanjutnya terserah suaminya
***
Di dalam kamar, Bastian sebenarnya mendengarkan istrinya. Ia sengaja terlihat tidak peduli, agar wanita itu mau menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Ia sebenarnya sudah tidak marah pada istrinya. Bastian sadar, ia juga bersalah disini. Mereka hanya kurang terbuka dan kurang komunikasi saja.
__ADS_1
Namun Bastian ingin memberi sedikit saja pelajaran kepada istrinya itu. Mungkin saja, ini bisa memberi kemajuan lagi hubungan mereka.
***
Keesokan harinya, Amanda sudah duduk di meja makan, menunggu suaminya untuk sarapan bersama. Seperti biasa, ia sudah menyiapkan bekal untuk makan siang lelaki itu.
Tak lama kemudian, suaminya muncul dari balik pintu kamarnya. Tampaknya ia sudah siap untuk berangkat kerja. Tanpa menoleh pada istrinya, ia bergegas ke luar, namun Amanda menghentikan langkahnya
"Bas, tidak sarapan?" ujar Amanda
"Tidak, aku sarapan di luar saja," ujarnya cuek
Amanda sadar, suaminya masih marah padanya. Tidak biasanya lelaki itu, melewatkan sarapan paginya. Apakah kesalahannya separah itu?
"Ah, kalau begitu, ini aku sudah menyiapkan bekal makan siangmu Bas. Kalau kamu mau sarapannya juga bisa kamu bawa ke tempat kerja. Kalau kamu tidak sempat sarapan di sini," ujar Amanda sambil menyerahkan kotak makan suaminya
"Tidak perlu, aku bisa membelinya di luar saja," imbuh Bastian
"Ohiya, kamu bisa berangkat sendirikan. Aku tidak mengantarmu,"
"Bastian, masih marah?" ujar Amanda menahan tubuh suaminya
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu di bicarakan, lepaskan tanganmu, jangan mengulur waktu ku," ucap Bastian mengakhiri pembicaraan mereka.
"Bastian,--"