SKAKMAT

SKAKMAT
Memulai Dengan Benar


__ADS_3

"Manda, aku mau bicara sesuatu," ucap Bastian, setelah Amanda selesai membersihkan piring kotor, bekas makan malam dadakan mereka.


"I-iya ada apa," ucap Amanda sedikit ragu-ragu


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kita?" tanya Bastian


"A-aku minta maaf jika menikah denganku kau tidak menemukan kebahagiaan Bas," ucap Amanda menunduk


"Hei kenapa minta maaf. Aku tahu kau juga tidak bahagia dengan pernikahan ini. Aku minta maaf, karena orang tuaku membalas kebaikan keluargamu dengan cara ini," ucap Bastian kemudian


"Maksud kamu?" tanya Amanda pura-pura tidak mengerti


"Astaga, orang tuaku benar-benar tidak punya hati. Aku benar-benar minta maaf Manda, keluargaku telah merenggut kebahagiaanmu,"


Amanda hanya diam, tenggenal dalam pikirannya sendiri. Yang bersalah disini sebenarnya bukan Bastian, ataupun keluarganya, bukan. Yang pantas di persalahkan adalah Amanda, ia telah merenggut kebahagian lelaki itu. Ia yang jahat, yang telah memanfaatkan orang lain, untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Aku yang harusnya minta maaf Bas, harusnya aku tidak menerima tawaran orang tua kamu. Mereka sama sekali tidak bersalah, aku yang salah. Aku yang pantas di persalahkan," ucap Amanda, ia masih terus menunduk.

__ADS_1


"Manda, aku ingin kita memulai semuanya dari awal dengan benar. Pernikahan bukan untuk main-main, aku ingin kita berdua bertanggung jawab dengan janji yang sudah kita ucapkan, di hadapan Tuhan," ucap Bastian.


Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat.


"Aku ingin menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab untuk kamu. Begitupun sebaliknya, mungkin ini adalah takdir yang sudah di gariskan untuk kita. Kamu mau kan?" tanya Bastian kemudian.


"Terimakasih Bas, tapi aku belum siap untuk itu, maaf"


"Tidak masalah Manda, kita akan memulainya secara perlahan. Biar bagaimanapun semuanya butuh proses, yang penting kita terus berusaha untuk menjadi lebih baik," ucap Bastian tersenyum tulus.


***


"Selamat pagi," ucap Bastian sambil tersenyum hangat menuju meja makan. Amanda hanya tersenyum sambil meletakan piring berisi makanan di depan Bastian


"Terimakasih Manda," ucap lelaki itu


"Masakan kamu lumayan juga, rasanya tidak kalah dengan makanan restoran," ujar Bastian memuji

__ADS_1


"Terimakasih Bas," jawab Amanda


"Kamu sering masak ya? Ini enak sekali,"


"Lumayan sering, hampir setiap hari. Aku jarang makan di luar, aku lebih suka mengolahnya sendiri, lebih hemat dan juga lebih sehat," jelas Amanda sambil tersenyum.


"Ooh iya, apa kamu mau bawa bekal Bas? Biar aku siapkan sebentar" tawarnya kemudian


"Terimakasih Amanda, kamu perhatian juga ternyata. Oiya kita berangkat sama-sama saja. Kamu kerja dimana, biar sekalian aku antar," ucap Bastian


"Terimakasih Bas, tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Aku biasa naik bus kota menuju tempatku bekerja," tolaknya


"Aku tidak merasa di repotkan Manda. Anggap saja ini bagian dari tanggung jawab aku,"


"Terimakasih Bas, tapi aku tidak masalah berangkat kerja sendiri. Setiap hari juga aku begitu, sungguh,"


"Ya sudah kalau ada apa-apa kabari aku ya, aku pasti selalu ada untukmu. Aku berangkat duluan ya, kamu nanti hati-hati," ujar Bastian, sambil berpamitan kepada istrinya

__ADS_1


"Hati-hati di jalan Bas," imbuh Amanda sambil tersenyum.


Ia merasa hari ini begitu indah, melihat senyum tulus dari suaminya. Hatinya kembali menghangat, seperti inikah rasanya memiliki keluarga?


__ADS_2