
Setibanya Bastian di kantor, seluruh karyawan menjadi salah fokus dengan kotak bekal yang ia bawa. Bagaimana tidak, seorang Sebastian Fernando, putra dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, itu pertama kali dalam hidupnya membawa kotak makan.
Dengan percaya diri, Bastian melangkah melewati para karyawan, menuju ruang kerjanya. Ia tidak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya dengan Bingung.
"Hei Bas, tidak biasanya bawa bekal ke kantor?" tanya Tomi asisten pribadinya.
Tomi dan Bastian sudah bersahabat sejak lama. Dulu Bastianlah yang merekomendasikan Tomi pada Ayahnya, agar sahabatnya itu bekerja di perusahaan mereka, sebagai asistennya.
"Eeem, biasalah Nyonya Besar di rumah. Kemarin aku sempat sakit, jadi tahu sendirilah bagaimana dia kalau khawatir," ucap Bastian berbohong.
Nyonya besar yang ia maksud adalah Ibunya.
"Tom, agenda aku hari ini apa saja ya? tanya Bastian kemudian
__ADS_1
"Hari ini sedang tidak ada pertemuan Bas, tapi ada beberapa berkas-berkas yang harus kamu periksa dan di tanda tangani," ujar Tomi menjelaskan
***
Di tempat lain Amanda sedang mengikuti pertemuan penting dengan beberapa perusahaan, untuk membahas berbagai proyek yang akan di kerjakan beberapa bulan kedepan. Hal ini tentu menyita banyak waktu, tenaga dan juga pikirannya. Namun bagi Amanda yang gila kerja, bukanlah masalah.
Amanda adalah gadis pekerja kerja, bertanggung jawab dan juga cerdas. Membuatnya tidak bisa di pandang sebelah mata oleh perusahaan lain. Dengan kecerdasannya perusahaan yang ia bangun itu, kini menjadi perusahaan terbesar yang berkembang pesat. Semua perusahaan lain berbondong-bondong ingin bekerja sama dengannya, bahkan ada yang berharap bisa menjadi suami atau menjadikannya sebagai menantu.
Seluruh peserta rapat, juga Amanda bersalam-salaman dengan peserta rapat yang lain
Hari sudah menjelang pukul 19.30 saat rapat yang cukup melelahkan itu berakhir. Sudah malam ternyata, waktunya untuk pulang, menghabiskan waktu untuk orang-orang yg terkasih di rumah. Amanda baru sadar, jika seharian ini ponselnya sudah ia nonaktifkan agar tidak ada gangguan pada rapat penting yg ia ikuti. Ia kemudian mengaktifkan ponsel itu.
Beberapa saat kemudian beberapa panggilan tidak terjawab dan juga pesan bermunculan. Pesan itu tidak lain selain dari suaminya Bastian. Suaminya itu pasti sudah menunggunya di rumah, tanpa sadar ia tersenyum. Ia lalu mencoba untuk menghubungi pria itu
__ADS_1
"Hallo Bas," ucapnya saat panggilan itu tersambung
"Hallo Manda, kenapa kau menonaktifkan ponselmu. Kau dimana, kenapa belum pulang. Ini sudah malam, kau akan pulang naik apa. Biar aku jemput ya," tawar Bastian dengan nada khawatir
"Ada sedikit masalah di kantor Bas, jadi aku pulang agak lama. Maaf ponselku sengaja aku nonaktifkan karena ada rapat penting di kantor, yang di ikuti oleh seluruh karyawan. Maaf jika membuatmu khawatir,"
"Ya sudah, kau dimana sekarang, biar aku jemput,"
"Aaah tidak usah Bas, aku sudah akan pulang, sebentar lagi bus akan sampai,"
"Manda ini sudah malam, bahaya jika kau naik bus. Lagi pula kamu mau sampai rumah jam berapa. Jarak bus dan apartemen kita jauh. Sudah, jangan menolak lagi, aku akan menjemputmu, kirimkan aku alamat kau menunggu bus,"
"I-iya Bas," ucap Amanda. Ia tidak bisa mengelak lagi, ia kehabisan ide untuk menolak tawaran suaminya.
__ADS_1