SKAKMAT

SKAKMAT
Kekhawatiran Bastian Part II


__ADS_3

Ella sedang membersihkan kamar pribadinya saat ponselnya berdering. Membuatnya terpaksa berhenti sejenak dari kegiatan bersih-bersihnya menuju nakas tempat ia meletakan benda pipih itu. Tanpa banyak berpikir, ia langsung mengangkat saja panggilan itu


"Hallo, ini dengan siapa ya?" ucap Ella


"Hallo Nona, apa benar ini Ella temannya Amanda Manuwella?" ucap pria di seberang, tanpa basa basi


"I-iya benar. Maaf kalau boleh tahu anda siapa?" tanya Ella hati-hati


"Saya Bastian Fernando, suaminya Amanda. Maaf jika mengganggu Nona. Saya hanya ingin meminta nomor teleponnya,.."


Belum sempat Bastian melanjutkan bicaranya, Ella langsung menyela pembicaraannya. Ia tidak sembarang memberikan nomor ponsel Amanda. Dan lagi pria itu mengaku jika ia suaminya, bagaimana mungkin mereka tidak bertukar nomor telepon, padahal mereka sudah menikah.


"Maaf, saya tidak bisa sembarang memberikan nomor telepon Amanda pada siapapun. Apa lagi dengan orang asing, yang mengaku sebagai suaminya. Sudah terlalu banyak saya temukan orang yang seperti itu," ucap Ella. "Teleponnya saya tutup, selamat sore,"


"Tunggu dulu Nona. Saya tidak berbohong, saya suaminya Amanda. Kemarin ia tidak pulang kerumah, saya khawatir dengan keadaannya,"


"Sungguh, saya tidak sedang mengada-ngada. Silahkan anda bisa menanyakan langsung padanya tentang ini. Tolong percayalah," ucap Bastian berusaha meyakinkan Ella


Sejenak Ella berpikir, berusaha mencerna perkataan lelaki itu. Benar, semalam ia mengantar Amanda, ke apartemen gadis itu. Amanda sudah menikah, harusnya ia kembali ke rumah suaminya. Akhirnya Ella memberikan nomor ponsel Amanda pada Bastian.


***


"Angkat saja Manda, siapa tahu penting," ucap Billy


Tampaknya pria itu sedikit terganggu, karena ponsel Amanda terus berdering. Andai saja ia bisa berbuat lebih, mungkin ia sudah mengambil alih panggilan itu, dan memarahi orang yang berani mengganggu waktunya.


Amanda mulai jengah, ia ingin sekali meneriaki orang yang sudah berkali-kali menelepon dirinya. Namun, ketika ia meraih ponselnya, tampaklah nama Ella di layar. Ia pun meminta izin pada Billy untuk mengangkat panggilan itu

__ADS_1


"Hallo Ella, ada apa?"


"Manda kau sedang dimana?"


"Aku sedang di taman kota dengan Billy, Ella,"


"Apa Bastian menelponmu. Ia meminta nomormu padaku. Kemarin kenapa kau tidak menyuruhku mengantarmu ke rumah suamimu saja. Sepertinya ia sangat mengkhawatirkan dirimu"


".........."


Amanda diam sejenak. Mana mungkin laki-laki itu mengkhawatirkannya. Bukankah ia tidak mau peduli dengan kehidupan Amanda.


"Amanda sebenarnya ada apa antara kau dan suamimu. Kenapa kau tidak menceritakannya padaku," ucap Ella


"Ceritanya panjang Ella," perlahan Amanda melangkah menjauhi Billy


"Astaga Manda, kalian itu sudah menikah. Pernikahan itu bukan untuk main-main Manda. Dia itu suami kamu, kamu sudah menjadi tanggung jawabnya," ucap Ella menanggapi


"Tapi Ella aku...." ucapan Amanda segera di potong oleh Ella


"Tidak bisa Manda, kau harus pulang. Bicarakan semuanya baik-baik dengan suamimu. Kau tidak boleh seperti ini,"


"Ya sudah, iya aku pulang," imbuh Amanda kemudian


***


"Terimakasih Billy untuk hari ini. Maaf ya aku tidak bisa berlama-lama, aku harus segera masuk," ucap Amanda pada Billy

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa kan Manda, kalau ada masalah hubungi aku," ucap Billy sambil tersenyum ke arah Amanda


"Ia Billy, kau hati-hati di jalan," balas Amanda kemudian.


Ia lalu meninggalkan Billy menuju lift yang menuju apartemen mereka


***


Amanda sudah sampai di depan apartemen milik suaminya, perlahan ia menekan bel, menunggu pintu terbuka. Tampak sosok suaminya dari balik pintu, pria itu tampak begitu berantakan. Penampilannya terlihat kacau dan acak-acakkan. Saat melihat istrinya, ia langsung merangkul tubuh wanita itu. Ia tampak lega, istrinya baik-baik saja


"Maafkan aku Manda. Aku tidak serius dengan kata-kataku kemarin," ucap Bastian sedikit terisak


Amanda sedikit kaget melihat perlakuan suaminya


Ada apa dengan manusia ini. Dia tidak salah minum obatkan, perasaan, aku tidak melakukan apapun padanya. Batinnya


Perlahan Amanda membalas pelukan itu, menepuk punggung suaminya. Namun tiba-tiba, tubuh itu terasa berat, seketika tubuh Bastian ambruk. Hampir saja Amanda ikut jatuh ke lantai, untuklah ia sanggup menahan tubuh suaminya. Dengan sekuat tenaga ia membaringkan di sofa ruang tamu


"Yaampun dia pingsan. Dia tidak matikan kan" Amanda panik.


Ia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh laki-laki itu


"Aduh semoga ia hanya pingsan. Aku tidak mau berurusan dengan polisi. Aku harus bagaimana ini. Aah ia Ella, "


Amanda pun segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Ella


"Ella, ke apartemen Bastian sekarang. Sekalian kau bawakan dokter kesini. Bastian pingsan, aku takut dia meninggal Ella," teriak Amanda ketakutan di telepon

__ADS_1


"Sabar Manda, ia aku akan kesana. Aku akan membawa dokter juga. Jangan lupa kirimkan alamatmu,"


__ADS_2