SKAKMAT

SKAKMAT
Wajahmu Mengalihkan Duniaku


__ADS_3

Hari sudah larut malam saat Bastian tersadar dari tidurnya. Setelah pertengkarannya dengan istrinya siang tadi, ia lalu merebahkan dirinya di kasur miliknya. Seperti istrinya,ia juga butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Bastian sadar, pernikahan yang di lakukan secara terpaksa, tidak mungkin berakhir dengan baik.


Seperti pernikahannya, tidak ada cinta sepersenpun yang melandasi pernikahan itu. Hidupnya benar-benar menyedihkan. Apa yang sudah keluarga Amanda lakukan pada keluarga mereka, sehingga ia harus membayar semuanya dengan cara ini. Lelah dengan pikiran yang tak berujung itu, Bastian melangkah ke kamar mandi. Berendam dengan air hangat mungkin adalah pilihan terbaik.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit ia berendam, ia merasa sangat lapar. Ia sadar ia telah melewatkan waktu makan siang. Sesaat kemudian, Bastian sudah berada di dapur. Ia akan memasak makan malamnya sendiri. Namun, tampak ada yang berbeda sekarang.


Setelah sekian lama, sejak ia menikah, Amandalah yang selalu ia lihat berada di dapur itu. Ia masih ingat betul bagaimana cetakannya gadis itu menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Bagaimana merdunya suara istrinya, mengingatkannya untuk sarapan ataupun makan malam. Baru beberapa jam istrinya itu pergi, ia sudah merasakan hidupnya terasa begitu kosong. Seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Apakah ini yang namanya kehilangan tulang rusuk?


Beberapa menit kemudian dering telepon membuyarkan lamunannya. Tertera nama kontak 'Ayah' di layar ponselnya. Sebelum ia mengangkat panggilan itu, Bastian menarik napasnya dalam-dalam. Ia harus siap merangkai kalimat-kalimat kebohongan, agar ayahnya tidak curiga dengan keadaannya.


"Hallo Ayah, ada apa?"


"Hallo Bastian, bagaimana kabarmu dan istrimu nak?"


"Kami baik-baik saja Ayah. Ibu dan Ayah apa kabar?"

__ADS_1


"Kami berdua baik-baik saja nak. Kapan kamu dan istrimu berkunjung ke rumah Ayah, nak. Ibumu sudah sangat rindu dengan Amanda,"


"Aaah maafkan Bastian Ayah, tapi kami berdua sedang sibuk-sibuknya. Nanti akan kami usahan untuk berkunjung. Eem Ayah apa aku boleh datang ke rumah Ayah sekarang,"


"Bolehlah Bas, inikan rumahmu juga. Sejak kapan kamu harus minta izin kalau ke rumah. Bersama Amanda?" ujar Ayahnya bersemangat


"A-aku sendiri Ayah, Amanda sedang pergi bersama teman kerjanya. Biasalah Ayah urusan perempuan," ucap Bastian, berusaha baik-baik saja, agar Ayahnya tidak curiga


***


Bastian mengemudikan mobilnya menuju rumah Ayahnya. Malam ini jalanan ibu kota tidak begitu ramai oleh kendaraan. Dalam perjalanan, wajah istrinya terus saja terbayang-bayang di pikirannya, Amanda seperti hantu saja.


Berperang dengan pikirannya sendiri, tanpa Bastian sadari, ia akan segera tiba pada tujuannya. Ia memarkin mobilnya di bagasi rumahnya, dan bergegas masuk menuju rumah Ayahnya.


"Hallo Ayah Ibu," ucap Bastian, sambil memeluk kedua orang tuanya itu. Mereka tampak bahagia melihat kedatangannya.

__ADS_1


"Ibu sangat merindukanmu Nak, dimana istrimu?" tanya ibunya. Yang langsung membuat Bastian panik.


"Aaah Amanda sedang pergi bersama teman kerjanya Bu. Ia cukup sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia memilih berlibur menghabiskan akhir pekannya," jawab Bastian berbohong


"Kenapa kau tidak menemaninya Bas, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Apa kamu tidak takut Bas, membiarkan dia pergi sendiri?"


"Aduh Ibu, Amanda bukan anak kecil lagi Bu. Apa yang Bastian harus takuti. Dia juga pergi bersama teman-teman kerjanya,"


"Astaga Bastian, kamu ini laki-laki macam apa? Apa kamu tidak memperhatikannya dengan baik"


"Dia itu sangat cantik Bas, kamu tidak takut jika dia di goda oleh lelaki lain di luar sana?"


Sontak saja bola mata Bastian membesar karena kaget. Ibunya tadi bicara apa? Istrinya cantik, istrinya di goda lelaki lain. Jantungnya seolah ingin lepas dari sarangnya. Bayangan istrinya kembali lagi menari di kepalanya. Benar, istrinya itu sangat cantik. Pasti banyak lelaki di luar sana yang menggodanya. Bagaimana jika Amanda pergi menemui Billy, bagaimana ini. Sumpah Bastian tidak tenang, harus ia akui ia cemburu kali ini. Lebih tepatnya cemburu buta😁


"Ada apa Nak, kamu melamunkan apa? Kamu sakit, wajah kamu pucat sekali?" ujar Ibunya panik

__ADS_1


"Aah tidak Ibu, sepertinya Bastian butuh istrahat. Bastian ke kamar dulu Bu. Bastian lelah tadi jalanan sangat ramai, jadi macet. Aaaah Bastian pergi Bu, selamat malam," ujar Bastian pamit, sambil mencium pipi ibunya.


Ia bicara sekenanya saja, otaknya sedang tidak bisa diajak berpikir normal kali ini. Tidak ingin berlama-lama, ia bergegas menuju kamar lamanya. Pura-pura tidak mendengar teriakan Ibunya yang masih tampak bingung, melihat tingkah putranya


__ADS_2