SKAKMAT

SKAKMAT
Putus Asa


__ADS_3

Dengan hati yang hancur dan kacau balau, Regina pun meninggalkan apartemen Bastian. Tidak peduli dengan beberapa orang di luaran sana yang memperhatikannya dengan tatapan heran dan bingung.


Wanita itu berjalan tampak tergesa dan terburu, sambil sesekali mengusap air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya yang cantik.


Semakin ia mempercepat langkahnya. Bahkan kini, Regini tengah berlari menuju jalan raya. Tidak peduli dengan ribuan kendaraan yang sedang berlalu lalang. Terdengar bunyi klakson kendaraan, yang mengarah ke arahnya. Ada yang berteriak, bahkan mengumpati dirinya.


Regina tidak peduli, sungguh ia tidak peduli dengan apapun yang mungkin akan terjadi. Jika hidup tidak memberinya kebahagiaan, lantas untuk apa dia hidup? Apakah ia diciptakan untuk menjadi penonton atas kebahagiaan orang lain?


Wanita itu terus saja melangkah tanpa tahu ke arah mana ia hendak pergi. Hingga sebuah mobil berwarna hitam bergerak ke arahnya dengan kecepatan sedang. Seolah baru sadar dari mimpi, Regina kini merasakan takut yang begitu hebat. Apakah hari ini adalah akhir hidupnya?


Regina refleks berhenti dengan kedua tangan nya menetupi telinganya, kiri dan kanan. Mobil berwarna hitam itu, membunyikan klakson tanpa henti berharap manusia di depan jalan itu berpindah posisi. Beberapa kendaraan lain juga melakukan hal yang sama.


Hening....


Sekeliling Regini seolah berhenti bergerak. Tidak terdengar lagi teriakan orang atau bunyi klakson dari pengendara yang sebelumnya terdengar. Wanita itu kini tampak seperti sebuah patung yang berdiri menunduk di tengah jalan raya.

__ADS_1


Menerka-nerka apa yang mungkin saja telah terjadi padanya. Tangannya masih terpaut di kedua telinganya. Matanya masih tertutup rapat. Ia tidak ingin membuka matanya, takut-takut hal buruk mungkin tengah menimpanya.


Hingga terasa sebuah tepukan mengenai pundaknya, membuat Regina reflek berteriak, dan memohon ketakutan.


"Tuhan, ku mohon ampuni aku. Ampuni dosa-dosaku selama aku hidup," racaunya gemetar. Masih setia dengan posisinya yang mematung.


Tidak ada suara, tidak ada pula jawaban atas perkataannya barusan.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Regina akhirnya mencoba untuk membuka matanya, secara perlahan.


Setengah percaya, setengah tidak wanita itu. Mendapati kenyataan, bahwa ia masih hidup. Buktinya ia masih berada di posisi yang sama seperti sebelumnya. Bereaksi seperti apakah dia? Ia tidak tahu.


"Apakah kau tidak menyayangi hidupmu? Seberat apakah masalah hidupmu, sehingga kau memilih jalan keluar seperti ini?" ucap orang tua itu, tiba-tiba.


Ia tampak begitu marah, sekaligus merasa kasihan pada wanita yang tengah berdiri mematung di hadapannya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak..!" ucap Regina menunduk. Entah mengapa, ia tidak punya keberanian untuk menatap orang tua itu.


"Hidup saya kacau balau, Pak! Saya sudah tidak punya harapan apapun lagi di dunia ini. Tidak ada yang mau menerima saya, bahkan orang yang saya cintai sekalipun," keluh Regina dengan suara parau, menahan tangis.


"Jika kenyataannya seperti itu, lantas untuk apakah saya masih hidup?" ucapnya lagi.


Lelaki tua itu, sama sekali tidak mengendurkan pandangannya ke arah Regina. Ini kali kedua ia bertemu dengan wanita itu. Kondisinya masih sama, begitu memprihatinkan.


"Setiap manusia sudah diberi porsi kebahagiaannya masing-masing oleh Tuhan, Nak! Masalahnya, manusia tidak pernah mensyukuri itu," ucapnya terdengar begitu tulus. Seperti seorang ayah yang sedang menasehati putrinya.


"Ketika di luaran sana banyak orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup, mengapa kita yang masih sehat, ingin mengakhiri hidup?" ucap orang tua itu lagi


"Masalah ada untuk membuat kita menjadi dewasa. Juga untuk membuat kita sadar, bahwa hidup ini berjalan bukan atas kendali kita. Tetapi atas kendali Tuhan,"


Hati Regina menghangat, bahkan ia merasa seperti mendapatkan semangatnya kembali. Masih dengan posisi menunduk, ia mengucapkan maaf dan terimakasih kepada orang tua itu.

__ADS_1


__ADS_2