
"Saat ini kau selamat karena Amanda, brengsek. Sekali lagi kau berani mengajak Amanda pergi, kau akan menerima akibatnya. Aku tidak main-main," ucap Bastian menatap tajam ke arah Billy
"Memangnya kau siapa, hah! Amanda berhak pergi kemanapun dan bersama siapapun," ujar Billy masih tidak mau kalah.
"Ayo Manda, kita pergi dari sini. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Billy lagi sambil menarik tangan Amanda
"Sudah berapa kali ku peringatkan, jangan pernah kau menyentuhnya," teriak Bastian
Billy sudah tidak bisa lagi menahan marahnya, dan di detik berikutnya, satu pukulan ia layangkan mengenai wajah Bastian.
"Aku peringatkan kau kali ini Bastian, meskipun kau sepupunya, kau tidak punya hak mengatur hidupnya. Kau harusnya tahu posisimu," ujar Billy. Tangannya masih memegang kerah baju Bastian
"Kau berani padaku, brengsek!" satu pukulan Bastian berhasil membuat Billy tersungkur jatuh di lantai restoran.
Amanda benar-benar panik kali ini. Melihat raut wajah kedua pria itu, tampak jelas kemarahan yang begitu membuncah.
"Hentikan Bastian, aku mohon!" teriak Amanda frustasi. Entah apa yang ada dipikirannya, ia memeluk tubuh suaminya lagi, berharap itu bisa membuat lelaki itu luluh
"Aku mohon, jangan permalukan dirimu. Ayo Bastian kita pulang," ujarnya lagi, sambil menggenggam tangan suaminya, menuntutun pria itu, meninggalkan restoran
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai, brengsek!" teriak sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu. Bastian masih menyimpan amarah pada Billy
***
Keramaian malam ibu kota saat ini, sama sekali tidak mempengaruhi kedua suami istri itu. Memilih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Amanda menatap keluar jendela mobil, sedangkan Bastian memilih fokus menyetir, tanpa peduli pada Amanda. Amarahnya sudah sedikit mereda, namun ia masih menyimpan rasa kecewa pada gadis itu. Lihat saja gadis itu, bukannya meminta maaf, malah tidak mempedulikan suaminya.
Berbeda dengan Amanda, ia sedang memikirkan apa yang harus ia katakan pada suaminya. Ia memang salah, tapi menurutnya yang lebih salah ada Bastian. Bagaimana bisa lelaki itu mempermalukan dirinya di depan umum seperti tadi. Astaga, seumur hidupnya Amanda tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti itu.
Mereka masih saja diam, hingga mobil mereka menuju basemant apartemen.
"Kita perlu bicara Bastian," ujar Amanda.
"Aku sedang tidak ingin bicara sekarang," imbuh Bastian
"Kau harusnya tidak memukul Billy, Bas. Dia tidak salah apa-apa," ujar Amanda lagi
"Lalu semuanya salah siapa, terus saja kau membela lelaki itu," ucap Billy setengah berteriak
"Bukan begitu, Bas"
__ADS_1
"Cukup Manda, aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Bisakah kamu menghargai aku sebagai suamimu?"
"Bastian, dengarkan penjelasanku dulu,"
"Aku benar-benar kecewa Manda," ucap Bastian. Ia turun dari mobil, meninggalkan Amanda yang masih mematung menatap kepergiaannya
"Bastian tunggu dulu. Kita harus membicarakan ini baik-baik." Amanda setengah berlari mengejar suaminya
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan Amanda. Semuanya sudah jelas, kamu tidak pernah menghargaiku. Kamu saja tidak meminta maaf padaku,"
"Ini aku mau minta maaf Bas. Bagaimana bisa aku menjelaskan semuanya, jika kau tidak ingin mendengarkanku,"
"Oke, aku minta maaf, telah pergi tanpa meminta izin padamu. Semua adalah kesalahanku Bas,"
"Apa kau yakin itu kesalahanmu?"
"Maksud kamu, astaga Bastian, aku dan Billy tidak memiliki hubungan apa-apa. Percayalah padaku Bastian, kami cuma sebatas teman kantor. Itu saja tidak lebih,"
"Sudah cukup kau bicaranya?"
__ADS_1
"Bastian,-"
"Pikirkan baik-baik apa kesalahanmu," ujar Bastian lalu pergi meninggalkan istrinya, menuju apartemen miliknya