SKAKMAT

SKAKMAT
Pertengkaran


__ADS_3

Pagi hari ini seperti biasa sebelum Amanda berangkat ke kantor, ia selalu menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Tidak peduli dengan suaminya, mau dia sakit mau dia sehat Amanda berjanji untuk tidak mau peduli dengan laki-laki itu. Percuma saja ia berbuat baik, manusia satu itu sepertinya tidak tau berterimakasih. Saat ia hendak menyantap sarapannya, suaminya muncul di meja makan. Tanpa rasa bersalah Bastian menyapanya


"Selamat pagi Manda," ucapnya tanpa dosa


"Sarapan buat aku mana? Kamu tidak menyiapkan aku sarapan? Aku ini suami kamu, kamu harus melayani aku. Menyiapkan sarapan misalnya. Kamu lupa ya pesan Ibu kemarin? Istri itu harus menghormati, menghargai dan melayani suami," ucap Bastian panjang lebar


Tampaknya lelaki itu sedang menabuh genderang perang antara ia dan dirinya, begitu kira-kira Amanda menyimpulkan. Hampir saja satu sendok nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya, namun dengan terpaksa, ia urungankan. Mendengar ocehan dari mulut suaminya telinganya menjadi panas.


Yang ia lakukan adalah meletakan piring nasi goreng itu di hadapan suaminya. Mengalah lebih baik menurutnya. Ia tidak ingin berdebat dengan pria itu. Biarlah dia yang makan, Amanda akan sarapan di kantor saja. Ia meninggalkan meja makan, namun suaminya menahannya


"Hei mau kemana? Apa maksudmu memberi aku sisa makananmu?" tanya Bastian


Amanda menarik napas dalam. Pagi-pagi ia sudah di beri ujian hidup.


"Heh Tuan Bastian, apa anda sudah lupa isi perjanjian kita. Kita adalah orang asing, kita tidak saling mengenal. Saya minta anda jangan melewati batas,"

__ADS_1


"Nona Amanda, saya Bastian Fernando adalah suamimu. Kita sudah berjanji di hadapan Tuhan di saksikan oleh manusia. Apa kau lupa? Aku ini suamimu, yang harus kau hormati!"


"Kamu bilang suami? Heh, suami mana yang membuat surat perjanjian pernikahan kepada istri sahnya. Bukankah mulutmu itu yang mengatakannya?" Amanda mulai emosi.


Wajahnya merah padam.


"Dan sekarang dengan percaya dirinya, kamu datang berbicara mengenai tanggung jawab. Asal kamu tahu, jika kamu ingin di hargai, hargai dulu orang lain," ucapnya lagi


Bastian terdiam, ia membenarkan semua perkataan istrinya. Semua ini adalah kesalahannya. Jika saja ia tidak menawarkan istrinya untuk membuat perjanjian, mungkin saja hubungan mereka sedikit lebih baik. Aah dia benar-benar pecundang, kali ini ia mati kutu. Ia tidak bisa menanggapi perkataan istrinya.


"Harusnya kata-kata dari mulut kotormu itu, kau simpan untuk dirimu sendiri."


Kali ini Amanda sangat marah, ia menatap tajam suaminya. Kalau saja ia bisa berbuat lebih, mungkin pria di hadapannya ini sudah babak belur di buatnya.


"Maaf Manda, aku sadar aku yang salah. Tolong maafkan aku, mari kita memulai pernikahan ini dengan benar,"

__ADS_1


"Manda......."


Amanda tidak peduli dengan omongan suaminya, ia meninggalkan apartemen itu. Ia masih sangat marah. Ia langsung menghubungi supir pribadinya untuk menjemputnya dan pergi ke perusahaannya. Mungkin menyibukkan diri dengan pekerjaan bisa membuatnya melupakan kerumitan pernikahannya.


***


Hallo readers....


Jangan pernah bosan dengan alur ceritanya ya. Kalau masih ada kekurangan disana sini, mohon di maklumi ya. Aku masih penulis pemula, yang masih harus belajar dan terus belajar agar menjadi penulis yang baik.


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca ceritaku ya. Semoga kita semua terus berada dalam perlindungan Tuhan


Salam hangat,


Nit💕

__ADS_1


__ADS_2