
"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Pernikahan itu bukan untuk main-main Manda"
"Aku tidak habis pikir dengan dirimu. Bagaimana bisa ide konyol itu keluar dari mulutmu," ucap Ella tak percaya.
Ia tidak menyangka Amanda melalukan hal aneh itu. Dia akan menikah? Tidak, ini benar-benar di luar nalar manusia normal. Setelah hubungan Amanda dan Def berakhir, wanita itu benar-benar berubah. Setiap tindakannya kadang di luar logika. Hidupnya sedikit kacau, setelah kejadian itu.
"Ini benar-benar aneh, kau akan menikah. Tunggu dulu, kamu menikahi laki-laki secara paksa Manda. Ya Tuhan, kalau saja kau bukan sahabatku, aku akan menertawai perbuatan konyolmu ini," ucap Ella tersenyum meledek
"Tutup mulutmu Ella. Kau bilang kau akan selalu mendukungku kan? Mana janjimu itu, benar-benar tidak bisa dipegang kata-katamu," ucap Amanda sinis
"Bukan begitu Manda. Sudahlah lupakan tentang Def. Dia sudah bahagia dengan wanita pilihannya. Kau juga harus bahagia, tanpa bayang-bayang lelaki itu"
"Ini sudah tiga tahun berlalu, dan kau masih belum bisa melupakannya? Ayolah, buka matamu. Apapun yang akan kamu lakukan, ia tidak akan pernah kembali padamu. Untuk apa juga kau masih mengharapkannya," ucap Ella tiada henti
"Banyak sekali bicaramu, aku muak mendengarnya. Aku hanya ingin membalas dendamku Ella. Aku ingin melampiaskan sakit hatiku selama ini"
"Dengan begitu aku akan lega, aku akan bahagia. Aku ingin menunjukan pada siapapun, bahwa bukan hanya laki-laki yang bisa menyakiti wanita, wanita juga bisa."
Amanda menerawang jauh ke luar ruang kerjanya, membayangkan permainan yang sudah ia rencanakan. Ia pasti akan tertawa bahagia setelah ini. Ia cukup yakin dengan itu.
"Apa kau cukup yakin dengan itu Manda. Apa kau yakin kau yang akan menyakitinya, bukan sebaliknya? Lupakanlah Def Manda, jangan hidup dengan dendam dan bayangan masa lalu. Kau bisa menemukan laki-laki yang baik di luar sana. Kau tidak perlu melakukan hal bodoh ini," ucap Ella lagi
"Cukup Ella, jangan bicara lagi. Keluar dari ruanganku dan lanjutkan pekerjaanmu. Cepat keluar!" perintah Amanda
"Ck, kau memang keras kepala." Ella berlalu pergi meninggalkan Amanda.
__ADS_1
"Aaaaaaarrrrrrkkkkkkhhhhhhh!!" teriak Amanda frustasi.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bertekuk lutut, kau atau aku."
***
Ardi Sebastian tampak sedang berpikir keras, bagaimana caranya untuk membujuk anak lelakinya untuk segera menikah. Terlebih pernikahan ini berupa bentuk balas budi kepada pemilik perusahaan Oportunity Group, Amanda Manuwella. Dan yang lebih membingungkan bagi Ardi, ia harus menyembunyikan status wanita itu kepada putranya Sebastian Fernando.
Ia bingung, apa sebenarnya rencana aneh dari wanita itu. Ia tidak punya pilihan, kondisi perusahaannya sudah membaik, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Jika ia membatalkan untuk menikahkan putranya dengan wanita itu, ia tidak bisa membayangkan kehancuran segera menghantui hidupnya dan keluarganya. Ia meyakinkan dirinya, bahwa semua pasti baik-baik saja. Ya Amanda adalah orang baik, ia wanita yang baik. Demikian ia berpikir positif untuk menenangkan pikirannya.
"Bastian, Ayah mau bicara sama kamu. Ini tentang masa depan kamu nak. Ayah dan Ibumu sudah tua. Kami sudah tidak muda lagi. Dan kamu juga sudah cukup umur untuk menikah. Ayah ingin sekali menimang cucu nak. Menikahlah, Ayah ingin melihatmu bahagia," ucapnya lirih setengah memohon.
Ia berdoa dalam hati, semoga anaknya mau menikah. Ia memang sudah lama ingin memiliki cucu dari anak satu-satunya itu.
Walaupun ia main dengan banyak perempuan, tapi tak satupun yang ia inginkan untuk dijadikannya istri. Pikirannya masih soal kebebasan, Ia tidak ingin terikat pada satu perempuan mana pun.
"Tapi Bas kamu sudah berumur. Teman-temanmu yang lain banyak yang sudah menikah, bahkan sudah punya anak. Apa kamu tidak mau seperti mereka"
"Kamu jangan begini terus, bermain dengan bangak perempuan. Itu tidak baik nak, wanita itu bukan untuk alat kesenangan semata," ucap ibunya
"Ibu Bas tahu. Tapi Bas hanya belum siap, Bas belum berkeinginan untuk berumah tangga. Sudahlah biarkan Bas yang akan memilih jalan Bas sendiri," ucap Sebastian berharap pembicaraan ini segera berakhir
"Tidak Bas, kamu harus menikah. Ayah sudah menyiapkan calon istri yang baik buat kamu. Dia anak teman Ayah. Keluarga kita berhutang budi pada keluarganya. Dulu saat perusahaan kita diambang kehancuran, keluarganyalah yang menolong,"
"Sekarang orang tuanya sudah meninggal Bas. Menikahkanmu dengan wanita itu, adalah pilihan terbaik sebagai bentuk balas budi. Dia wanita yang baik Bas, cocok untuk dijadikan istri," ucap Ardi meyakinkan putranya
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku tidak setuju. Aku tidak mencintai wanita itu, bagaimana bisa kami membangun rumah tangga tanpa cinta didalamnya, " bantah Sebastian
"Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu nak. Banyak di luar sana yang seperti itu. Dan pernikahan mereka bahagia,"
"Lagi pula wanita itu adalah wanita baik-baik. Tidak seperti wanita-wanita yang pernah kamu temui Bas," imbuh ibunya berusaha meyakinkan
"Aku tidak mau. Apapun yang akan kalian katakan, aku tidak akan pernah setuju. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita itu."
"Seberapa baikpun dia, aku tetap tidak mau. Kalian tidak berhak mengatur hidup Bas, apalagi soal pernikahan," ucapnya marah
" Bastian, jangan kurangajar kamu. Hargai kami sebagai orang tuamu. Hargai Ibumu yang telah melahirkanmu. Berani sekali kamu membentak kami," Ardi juga tidak kalah emosi. Anaknya ini memang keras kepala
"Ayah tidak mau mendengar penolakan. Ayah tidak suka dibantah Bas. Pokoknya kamu harus menikah. Dua minggu lagi pernikahanmu akan dilaksanakan," ucapnya lagi dengan emosi meluap-luap
"Aku tetap tidak mau Ayah. Kalau Ayah terus memaksa Bas, Bas akan kabur dari rumah, Bas akan pergi jauh,"
"Selangkah kamu keluar dari rumah ini, jangan harap kamu bisa kembali lagi Bas. Kamu harus menikah dengan wanita pilihan Ayah, suka tidak suka, mau tidak mau, itu harus. Berani kamu menolak, seluruh aset yang sudah Ayah beri akan Ayah sita dari kamu,"
***
Bastian sudah memasuki kamarnya, emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam menahan marah.
"Kurangajar sekali wanita itu. Benar-benar wanita iblis, dia pasti sudah meracuni otak orang tuaku. Dasar wanita sialan, lihat saja nanti, akukan membuatmu menderita. Aku akan membuat hidupmu akan seperti di nereka. Kau tidak akan pernah bahagia," ucap Bastian pernuh emosi.
Dia tidak pernah menyangka akan seperti ini. Ia benar-benar membenci wanita itu. Wanita yang telah berani mengambil kebebasannya.
__ADS_1