SKAKMAT

SKAKMAT
Hari-hari Bahagia


__ADS_3

Satu bulan setelah kedatangan Regina, kini wanita itu tidak pernah datang lagi ke apartemen milik Bastian. Ia bagai menghilang di telan bumi, tidak ada kabar keberadaannya. Lagi pula, tidak pernah terbesit keinginan Bastian untuk mencari mantan kekasihnya itu.


Mungkin saja wanita itu sedang menyusun rencana, untuk bisa kembali kepada Bastian. Atau mungkin ia sedang mencari siapa sosok wanita, yang telah berhasil membuat Bastian, berpaling darinya. Tidak juga tertutup kemungkinan wanita itu pergi mencari laki-laki lain, sebagai pengganti Bastian dalam hidupnya. Tidak ada yang tahu, hanya Tuhan saja, begitulah pikir Bastian.


Ia dan Amanda kini telah memantapkan hati mereka, untuk terus belajar memperbaiki diri. Belajar agar keduanya mampu melakukan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai suami dan istri. Dalam segala hal kita harus belajar, termasuk dalam urusan rumah tangga. Belajar untuk sabar, dan juga saling percaya. Semakin sering berinteraksi, bisa saja akan muncul benih-benih cinta diantara keduanya. Seperti yang tengah mereka alami sekarang.


Seperti pagi ini, Amanda membersihkan apartemen mereka. Mulai dari menyapu, mengepel dan beberapa pekerjaan lainnya. Jangan heran, Amanda sudah biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan ini.


Setelah kegiatan bersih-bersihnya selesai, ia kemudian bergegas untuk mandi. Ia masih memiliki pekerjaan lain setelah ini, menyiapkan sarapan pagi, untuk ia dan suaminya.


Belum ada tanda-tanda, bahwa lelaki itu akan bangun. Bastian masih terlelap, terbuai akan keindahan-keindahan yang di tawarkan oleh mimpi untuknya. Sudah sejak tadi, Amanda memanggil namanya, dari balik pintu kamarnya.


"Bastian, bangun! Buka pintunya, ini sudah siang," teriak Amanda sekencang-kencangnya. Bagaimana tidak, ini sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan lelaki itu masih belum juga bangun.

__ADS_1


"Bastian bangun, apa kau tidak ingin sarapan," teriak Amanda lagi, ia tampaknya belum menyerah.


Mungkin berteriak saja tidak cukup, Amanda harus bertindak lebih. Amanda memeriksa pintu kamar suaminya, tidak terkunci. Dengan segera Amanda membuka pintu itu, ia masuk. Dan ternyata lelaki itu tampak masih tertidur begitu lelap.


Amanda setengah kasihan memandangi wajah suaminya. Bastian tampak begitu lelah. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini pekerjaan di kantor, begitu banyak hingga menguras waktu dan energi lelaki itu. Mungkin karena ini adalah akhir pekan lelaki itu, ingin beristirahat sepenuhnya.


Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Bastian memperhatikan istrinya. Ia mengira ini adalah mimpi, bagaimana mungkin gadis itu, bisa berada di dalam kamarnya. Ia mengucek matanya berkali-kali untuk meyakinkan dirinya. Hingga akhirnya ia tersadar, ketika kedua tangan Amanda menepuk-nepuk wajahnya. Amanda di buat gemas oleh suaminya. Laki-laki itu menatapnya intens, seolah ia adalah hantu saja


"Bagaimana bisa kamu berada di kamarku?" tanya Bastian bingung. Ia menggenggam tangan istrinya, untuk menghentikan gadis itu yang terus saja menepuk wajahnya.


"Tidak biasanya kamu bangun sampai jam segini. Aku sudah selesai membersihkan rumah, hingga memasak, kamu belum juga bangun," ucap Amanda tiada henti


Lelaki itu diam seribu bahasa, dengan ekspresi cemberut yang di buat-buat. Seolah meminta Amanda untuk berhenti memarahinya. Tentu itu membuat Amanda menjadi gemas sekali, sejak kapan suaminya seimut ini. Benar dugaannya, lelaki itu, adalah macan bila sedang marah, dan akan berubah menjadi anak kucing, jika perasaannya sedang baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku sangat lelah Amanda, akhir-akhir ini pekerjaan di kantor banyak sekali. Kamu tahukan, aku sering pulang terlambat," jelasnya


"Ah, aku ingin tidur lagi," ucapnya kemudia sambil berniat merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


"Eh, jangan tidur lagi Bastian. Ayo kita sarapan dulu, setelah itu, kamu mau tidur lagi tidak apa-apa," imbuh Amanda, memaksa lelaki si anak kucing itu untuk bangun


"Kalau kamu tidak mau bangun, aku tidak akan menyiapkan sarapan lagi untukmu," ancamnya lagi


"Ah jangan, Amanda. Nanti aku kalau kelaparan, lalu aku sakit dan meninggal bagaimana? Kamu mau jadi janda muda," guraunya. Lalu di detik-detik berikutnya, beberapa pukulan mendarat di wajah, di bahu bahkan di perutnya.


"Masih mau bicara lagi, aku tidak akan memasak lagi untuku,"


"Ah, jangan,"

__ADS_1


egitulah keduanya melewati pagi yang indah itu, dengan menghabiskan waktu berdua. Merasa ini adalah kesempatan keduanya, untuk semakin dekat dan saling mengenal satu sana lain.


__ADS_2