SKAKMAT

SKAKMAT
Menjemputmu Pulang


__ADS_3

Amanda masih fokus dengan pekerjaannya, ketika ponsel miliknya berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Tidak terlalu peduli dengan itu, ia masih fokus menatap layar laptop miliknya. Pekerjaannya sebentar lagi akan selesai, tanggung sekali jika ia harus menanggapi panggilan itu. Biar saja, nanti juga akan meneleponnya lagi.


Sepuluh menit kemudian, tampaknya pekerjaannya sudah selesai, hari juga sudah menunjukan pukul lima sore, sudah saatnya untuk pulang. Amanda teringat pada telepon tadi, ia mengambil ponselnya, lalu memeriksa siapa yang menghubunginya. Tampak nama Bastian tertera di layar ponselnya.


Sejenak ia tersenyum, seperti dugaannya, lekaki itu akan mencarinya. Tunggu sebentar lagi, dia pasti akan menelepon. Benar saja tak lama kemuadian Bastian menghubunginya.


Kali ini ia tidak lagi tersenyum, melaikan ia tertawa menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Kalau sudah begini, ia tidak perlu bekerja keras untuk membuat lelaki itu jatuh pada pesonanya. Ia akhirnya menganggkat panggilan itu. Ia diam, menunggu orang di seberang sana memulai pembicaraan.


"Hallo Amanda," ucap Bastian memulai pembicaraan


"Eem, kenapa? Aku tidak ada urusan denganmu," ucap Amanda pura-pura tidak peduli


"Apa kau masih marah padaku? Kau sudah meninggalkan rumah selama tiga hari Manda. Apa kau tidak merindukan suamimu, hah?" tanya Bastian menggoda.


"Tidak, aku tidak pernah merindukanmu. Lagi pula atas dasar apa aku merindukanmu," imbuh Amanda


"Aaah benarkah begitu? Huh, padahal aku sangat merindukanmu disini," ucap Bastian sambil tertawa


"Sudah selesai basa basinya. Katakan apa maksudmu meneleponku,"

__ADS_1


"Sudahlah Manda, ayo kita berbaikan. Kalau kita berjauhan begini, bagaimana bisa hubungan diantara kita membaik. Oke aku minta maaf, saat itu aku terbawa emosi,"


"......."


"Hallo, apakah kau masih disana Manda? Ayolah, kamu masih di kantormu kan. Apa kau sudah pulang, aku akan menjemputmu,"


"Aku tidak mau, aku akan pulang sendiri,"


"Ayolah Amanda, anggap saja ini bentuk permintaan maafku,"


"Aku tidak mau,"


"Jangan sampai aku menarik paksa dirimu saat kau keluar nanti Manda. Aku sudah menunggumu,"


"Sudah jangan banyak bicara. Cepat pulang, aku sudah menunggumu di depan perusahaan tempatmu bekerja,"


***


"Hei, masih marah?" tanya Bastian ketika mereka sudah berada di mobil

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak marah," tukas Amanda, menatap keluar jendela mobil, menikmati keindahan malam di sepanjang perjalanan pulang mereka


Melihat reaksi istrinya, Bastian memilih mengemudikan mobilnya, tenggelam dalam keheningan yang mereka ciptakan. Bastian berpikir, mungkin Amanda butuh waktu untuk memulai kembali. Hubungan mereka yang tidak begitu baik, malah semakin memburuk karena kejadian beberapa hari yang lalu.


Melihat Bastian yang ikut terdiam, Amanda merasa tidak enak hati. Apa tindakannya berlebihan? Selama ia pergi apa yang di lakukan lelaki itu. Apa Bastian sakit, seperti waktu itu?


Amanda ingat, ketika mereka bertengkar untuk pertama kalinya. Ia memandang lekat wajah suaminya. Apakah lelaki yang telah menjadi suaminya, tidak akan menyakitinya? Apakah ia bisa menyerahkan hatinya seutuhnya pada lelaki itu? Apakah lelaki di dekatnya ini adalah orang tepat, yang telah di takdirkan untuknya? Bergumul dengan banyak sekali pertanyaan, ia tidak menyadari jika Bastian memperhatikan tingkahnya


"Hei, ada apa. Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau sedang mengagumi betapa tampannya suamimu ini?" tanya Bastian mengagetkan Amanda


"Eeeh apa, tidak. Kau terlalu percaya diri Bastian," ujar Amanda sambil memukul lengan suaminya.


Mengurangi kegugupannya, karena telah tertangkap basah, memperhatikan lelaki itu.


"Hahahah, kalau benar juga tidak masalah Manda. Aku senang kau memperhatikanku. Selama kita bersama, aku tidak pernah melihatmu begitu"


"Aku berharap selamanya tetap seperti itu. Aku ini suamimu, jangan pandang lelaki lain, hanya aku saja," ujarnya sambil tersenyum


"Eeemmm," ujar Amanda salah tingkah.

__ADS_1


Sejak kapan Bastian menjadi seperti ini. Dengan susah payah ia menetralkan detak jantungnya yang berdegup tidak karuan, sejak kalimat itu keluar dari bibir suaminya


Bastian hanya terseyum menyaksikan reaksi istrinya. Wanita itu tampak begitu manis. Di lihat dari sisi sebelah kanan wajahnya saja, terlihat begitu menawan. Bagaimana jika di lihat dari depan, apa lagi dari atas, hihihi


__ADS_2