
Malam ini Amanda bersiap untuk menemui Def di apartemennya. Ia bermaksud memberi kejutan pada kekasihnya itu. Amanda ini terlalu polos memang. Ia selalu berpikir, Def tidak menghubunginya karena Def mau memberi kejutan padanya. Karena itu, dia juga akan memberi kejutan pada Def, dengan kedatangnnya secara tiba-tiba. Dia juga sudah menyiapkan hadiah untuk Def, sebagai ucapan selamat datang.
Dia melajukan mobilnya, membelah jalanan ibu kota malam itu. Dengan hati yang gembira ia mengemudikan mobilnya, tak lupa ia memperhatikan jalan di depannya. Rindu yang ada di hatinya selama ini, akan ia luapkan saat bertemu Def. Mungkin saja banyaknya memenuhi apartemen lelaki itu. Ia rindu, benar-benar rindu.
Dengan penuh percaya diri, Amanda berjalan memasuki lorong apartemen milik Def. Dengan penuh semangat ia memencet bel apartemen itu, menunggu dengan sabar. Ia berharap, Def akan terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba kali ini. Sekali lagi ia menekan bel
"Hallo, selamat malam Nona," ucap perempuan itu lembut.
Perempuan itu cukup cantik, menggunakan baju rumahan selayaknya seorang ibu rumah tangga. Tampak jelas perutnya yang membuncit, menandakan bahwa ia bukan seorang gadis, tapi seorang perempuan yang akan menjadi calon ibu. Amanda bingung. Ia bertanya pada dirinya sendiri, siapa gerangan wanita di hadapannya.
"Aah, ia selamat malam. Maaf mengganggu waktu mu. Saya Amanda, apa benar ini apartemen milik Def Sebastian?" ucap Amanda gugup.
Ia berdoa dalam hati, semoga kali ini ia salah alamat. Semoga apa yang ia takutkan selama ini adalah kebohongan belaka.
"Saya Regina, saya istrinya Def sebastian. Ada perlu apa ya dengan suami saya?" ucap perempuan itu lagi
"Aaah, bukan apa-apa Nona, saya hanya karyawannya Pak Def. Saya datang kesini untuk menyampaikan laporan perusahaan selama Bapak di luar negeri," ucap Amanda panjang lebar, untuk menutupi rasa terkejutnya.
Saat ini, tubuhnya mungkin sudah ambruk jatuh di lantai apartemen itu. Namun ia berusaha menguasai dirinya. Ia harus benar-benar memastikan, apakah Def yang dimaksud perempuan itu suaminya, adalah Def kekasihnya. Benar, ia harus memastikan, melihat dengan mata kepalanya sendiri
"Panggil saja aku Regina, Amanda. Tak perlu sungkan padaku, tampaknya kita seumuran. Aah ia, aku hampir lupa mengajakmu masuk. Mari masuklah, Def sedang di kamar mandi," ucap perempuan itu dengan tersenyum.
Ia mengajak Amanda duduk di ruang tamu mereka. Wanita itu cukup ramah, tampak jika ia adalah wanita yang baik. Amanda pusing dengan pikirannya sendiri, ia setengah bimbang, bagaimana jika benar, Def kekasihnya ternyata sudah menikah, dan akan menjadi seorang ayah. Ia bukan wanita perebut suami orang. Apalagi wanita itu, sedang hamil seperti ini.
"Tunggu sebentar ya Amanda, saya panggil dia dulu," ucap Regina, berlalu meninggalkan Amanda sendiri, menuju ke kamar mereka, memanggil Def suaminya
__ADS_1
Ya Tuhan, bagaimana jika itu Def. Aaah aku takut sekali. Semoga kali ini aku salah. Batin Amanda
"Amanda, sebentar lagi ya. Suami saya lagi siap-siap," Ucapan Regina, membuyarkan lamunan Amanda. Amanda tampak pucat, menahan jantungnya yang berdetak keras. Tidak, ia tidak boleh kalah sebelum berperang. Ia harus kuat setidaknya sampai ia tahu kebenarannya.
"Siapa sayang?" terdengan suara laki-laki sedang berjalan perlahan menuju ruang tamu. Ia menghampiri istrinya, tanpa memandang orang lain di ruangan itu.
"Sayang ini Amanda karyawan kamu. Dia mau membicarakan soal perusahaan selama kamu di luar negeri sayang," ucapnya terlalu jujur. Perempuan itu polos sekali tampaknya.
Def mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya pada perempuan lain di ruangan itu. Sontak saja pandangan mereka bertemu. Sama-sama terkejut dengan kenyataan yang terjadi. Def sama sekali belum siap dengan kenyataan ini. Jantungnya bergerak cukup keras.
Tubuhnya mematung, ia bingung harus bagaimana. Ia tidak mungkin berbohong kalau wanita yang sedang hamil itu, adalah istrinya.
Selama ini ia membohongi Amanda. Ia telah menikah saat ia ke luar negeri. Atas dasar 'kecelakaan'
Ya Tuhan, apa ini. Ia harus bagaimana. Ia hampir kehilangan keseimbangan. Kepalanya pusing, hatinya sakit sekali. Ia bahkan sampai kehabisan napas. Ingin sekali ia pingsan, dan berharap saat ia siuman nanti ini semua hanya mimpi. Tidak, ia tidak boleh lemah. Sekali lagi Amanda harus kuat, ia harus kuat setidaknya ia harus mendengar penjelasan dari lelaki itu
"Amanda, ayo kita bicarakan di luar saja," imbuh Def berusaha mengalihkan situasi. Ia tidak mau menyakiti istrinya yang sekarang sedang hamil.
"Sayang, sebentar ya. Aku mau membicarakan urusan bisnis dengannya di luar saja. Kamu istirahatlah, sudah malam. Tidak baik untuk calon anak kita."
'Anak kita' kalimat itu seakan seperti belati yang menghujani jantung Amanda. Benar, Def menghianatinya, Def selingkuh darinya. Ia ingin sekali menampar laki-laki brengsek itu, menghujaninya dengan makian. Menghujani laki-laki itu dengan puluhan pukulan, untuk menunjukan rasa sakitnya. Ini benar-benar kejutan yang paling luar biasa. Bukan hanya mendapati kebenaran kekasihnya berselingkuh, tapi lebih dari itu, ia sudah menikah, bahkan istrinya tengah mengandung.
***
"Def, kau brengsek! Kau telah menghianati aku. Apa salahku padamu. Kau pernah berjanji menjaga hatimu untukku Def. Tapi apa nyata. Kau berselingkuh dengan perempuan itu."
__ADS_1
"Perempuan itu tidak ada apa-apanya dibanding aku. Aku lebih baik dari dia Def. Kenapa, kenapa kau melakukan ini padaku," ucap Amanda berteriak dengan penuh emosi. Air mata membasahi wajahnya yang cantik.
"Maafkan aku Amanda. Aku tidak bermaksud menghianatimu. Ia aku memang lelaki brengsek. Silahkan kau maki aku sepuasmu. Kalau perlu pukul aku."
"Pukul aku Amanda sesuka yang kau mau, asal itu bisa membuatmu lebih baik. Maafkan aku Amanda, aku tahu aku salah. Aku tak bisa hidup tanpa cinta Amanda, maaf," ucap Def sambil memandang ke arah lain. Ia tidak berani menatam mata wanita itu.
"Aku tidak mungkin meninggalkannya Amanda, dia sedang hamil. Hamil anakku, aku tidak mau anakku dibesarkan tanpa orang tua. Aku juga tidak mau istriku menderita tanpa aku disisinya. Aku mencintainya Amanda, tolong maafkan aku," katanya lagi
"Pergi kau laki-laki brengsek, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku. Lihat saja Def, aku akan menghancurkan hidupmu. Menghancurkan semua yang kau punya. Kau tidak lupakan, seberapa berkuasanya aku," ucap Amanda dengan tatapan menghina
Def tidak menghiraukan ucapan Amanda. Ia meninggalkan wanita itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan. Ia memang brengsek, ia jahat. Tapi ia akan lebih jahat, jika meninggalkan istrinya
Amanda terus menangis, meratapi kebodohannya. Ia benar-benar terluka. Def cinta pertamanya, lelaki yang ia puja, ternyata seorang penghianat. Ia tidak bisa menerima itu. Ia benar-benar mencintai Def. Tapi ia juga sadar, wanita itu, istri kekasihnya sedang hamil. Ia tidak mau menghancurkan kebahagiaan orang lain, demi kebahagiaannya. Ia bukan perempuan seperti itu. Ia bukan perempuan jahat. Bagaimanapun ia harus bersyukur, Tuhan menunjukan siapa Def sebenarnya, sebelum mereka benar-benar menuju tahap yang lebih serius. Dia benar-benar harus bersyukur untuk itu.
Malam semakin larut, langit tampak suram malam ini. Seperti hati Amanda yang remuk, rembulan tampak merunduk, rembulan juga berduka. Sepertinya, ini adalah hari yang cukup berat untuk Amanda
------------------------------------------
Hallo readers, ini adalah sepenggal kisah masa lalu Amanda. Kisah cintanya yang menyedihkan. Yang mengubah hidupnya.
Semoga kalian suka ya. Mohon maaf bisa ada kesalahan dalam penulisan dan apapun itu. Silahkan beri saran dan kritik yang membangun ya semuanya
Salam rindu selalu
Nit
__ADS_1