
Jam menunjukan pukul delapan malam saat Amanda meninggalkan ruang kerjanya, untuk pulang ke rumah. Beberapa jam terakhir ponselnya telah ia silent. Beberapa proyek perusahaan harus ia tangani, membuatnya tidak ingin di ganggu oleh siapapu. Ia mengambil ponselnya di dalam tas, tampak banyak sekali panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari suaminya. Amanda menghela napas panjang, betapa kurang kerjaannya suaminya itu. Ia memilih untuk membaca pesan terakhir suaminya
Manda, ini sudah malam, kau dimana, kenapa belum pulang~Bastian
Amanda sedikit tersenyum membaca pesan itu. Ada rasa hangat memenuhi hatinya. Beginikah rasanya memiliki keluarga, ada yang mengkhawatirkanmu saat kau pulang terlambat, ada yang menanyakan keberadaanmu. Jujur Amanda benar-benar tidak pernah merasakan itu. Apakah ia terlalu jahat jika akan mempermaikan suaminya. Hal itu terus berputar-putar di kepalanya.
"Bu saya akan antarkan kemana?" tanya supir pribadi Amanda, membuyarkan lamuyan gadis itu
"Ke alamat tadi pagi saja, Pak," ujarnya.
Tanpa bertanya lagi Bapak Supir itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang terang benderang oleh cahaya lampu. Amanda mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil, menikmati keindahan kota malam ini.
Tanpa sengaja, ia mengingat saat dimana ia dan Def menikmati keindahan malam, ketika mereka masih bersama. Tanpa permisi cairan bening itu jatuh di pelupuk matanya, membasahi pipinya. Andai saja Def tidak menghianatinya, mungkin sekarang mereka sudah bahagia. Ia tidak mungkin terjebak dalam masalah yang cukup rumit ini. Cukup lama ia melamun, hingga tanpa sadar ia sudah tiba di parkiran apartemen suaminya
"Bu, Ibu kita sudah sampai," ujar Pak Supir mengingatkan Amanda
"Aaah ia Pak, maaf saya melamun. Terimakasih Pak, berhati-hatilah dalam perjalanan," ujar Amanda menunduk memberi hormat.
Hal ini sudah biasa ia lakukan. Amanda selalu menghargai orang yang lebih tua darinya, membuatnya selalu di segani dan di hargai oleh siapapun yang sudah mengenalnya.
__ADS_1
***
Di sofa ruang tamu tampak Bastian sedang menunggu istrinya. Melihat pintu apartemen itu terbuka seutas senyum ia lemparkan pada istrinya. Senyuman yang begitu tulus, Amanda bisa merasakannya. Sejenak Amanda terdiam kaku, apa yang harus ia lakukan. Ia pun tersenyum kikuk membalas suaminya.
"Maaf aku pulang terlambat, ada sedikit pekerjaan yang membuatku pulang sedikit lebih lama," ujarnya ragu-ragu
"Tidak apa-apa Manda, lain kali kabari aku ya, agar aku tidak berpikir macam-macam" ucap Bastian tersenyum
"I-iya, kalau begitu aku ke dalam dulu ya,"
"Nanti kita makan malam bersama ya, aku sudah menyiapkan makan malam untuk mu," ucap Bastian masih dengan senyum di bibirnya
***
"Bi-biar aku saja Bas," ujar Amanda kaku
Amanda meletakan piring berisi makanan di depan Bastian. Mereka kembali terdiam, menikmati makan malam dalam keheningan.
"Bagaimana masakanku, enak? Maaf ya bila tidak seenak masakan restoran. Tadi aku ingin mengajakmu makan di luar, tapi karena kamu belum pulang, aku memilih untuk memasak di rumah saja" ucap Bastian memulai berbicara
__ADS_1
"Eem iya enak, masakan kamu lumayan enak. Terimakasih untuk makan malamnya," ujar Amanda.
Ia masih terlihat canggung. Ia tidak tahu jika suaminya akan bertindak seperti ini
"Oiya, tadi siang kamu kenapa kabur dari aku. Kamu mau makan siang di restoran itu, atau apa?" tanya Bastian kemudian
Seketika Amanda terdiam, ia berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat kepada suaminya
"Eeeemmm maaf aku bukan bermaksud kabur dari kamu. Hanya saja,---"
"Hanya apa?"
"Hanya saja aku malu sama kamu. Aku ke restoran itu mau mengambil pesanan bos di kantor aku, maaf," ujar Amanda.
Minta maaf sajalah sebanyak-banyak, agar suaminya tidak curiga.
Bastian tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, walau ia masih sedikit penasaran namun ia memilih untuk memahami perasaan istrinya. Bahkan ia sedikit merasa bersalah, karena selama ini ia selalu menuduh istrinya yang tidak-tidak
"Maafkan aku Manda, jika selama ini, aku berbicara kasar sama kamu. Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Bastian tulus
__ADS_1
"Ia tidak apa-apa Bas," ucap Amanda menunduk, ia tidak ingin melihat wajah suaminya. Semoga saja Bastian mempercayai perkataannya.