SKAKMAT

SKAKMAT
Curiga


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Amanda memilih diam tanpa berniat berucap satu katapun. Begitu pula Bastian, lelaki juga diam dan memilih fokus dengan kegiatan mengemudinya. Hingga mereka berdua tiba di apartemen mereka.


Amanda mencoba mengalihkan suasana, saat ia tiba di apartemen. Sesegara mungkin, ia meninggalkan Bastian dan menuju kamarnya. Namun niatnya itu sepertinya diketahui oleh Bastian.


"Mau kemana kamu?" ucap Bastian. Kalimat itu sontak membuat langkah Amanda terhenti.


"Kamu jangan coba-coba menghindar ya. Duduk!" ujarnya lagi


Amanda menganggukan kepala pasrah, kemudian mendudukan tubuhnya di sofa yang terletak di ruangan itu.


Bastian menatap lekat-lekat istrinya, mencari tahu apa yang sedang disembunyikan oleh gadis itu darinya.


"Berikan aku benda itu?" ucap Bastian sambil menunjuk benda berbentuk pipih berwarna hitam, yang sedang digenggam oleh Amanda.

__ADS_1


"Buat apa Bas?"


"Tidak usah banyak tanya, berikan padaku ponselmu itu sekarang, atau aku akan mengambilnya dengan paksa," ujar Bastian mengancam.


Tidak ada pilihan lain bagi Amanda selain mengalah. Dengan takut-takut ia memberikan ponsel yang sedari tadi ia genggam kepada Bastian. Mencoba menerka-nerka ada apa gerangan suaminya memeriksa ponsel pribadinya. Serta harap-harap cemas, semoga tidak ada pesan yang aneh-aneh di dalamnya.


Dengan seksama Bastian memeriksa ponsel istrinya. Bastian ingin memastikan sesuatu, tentang siapa sebenarnya yang sedang ditemui istrinya tadi. Namun, ia sama sekali tidak menemukan apapun yang mencurigakan di dalam ponsel itu. Bastian bahkan sampai kaget mendapati hanya ada tiga nama yang tersimpan di dalam ponsel itu. Dirinya, Billy, dan Ella selain itu tidak ada lagi. Bahkan pesan masukpun, hanya dari ketiga nomor tersebut.


Apa ini, aku tidak salah lihat kan? Amanda hanya menyimpan tiga nomor ponsel saja? Apakah di perusahaan tempat ia bekerja, ia tidak memiliki rekan kerja? Mengapa semuanya tampak begitu aneh dan tidak masuk akal.


Bastian menyerah, berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu mengembalikan ponsel itu kepada istrinya.


"Pekerjaan kamu di perusahaan Oportunity Group itu, sebenarnya apa Manda?" tanya Bastian terdengar menginterogasi

__ADS_1


Amanda cukup kaget mendapati pertanyaan yang terdengar spontan dari Bastian kali. Ini cukup tiba-tiba, dan jujur Amanda belum memikirkan ini sebelumnya.


"Em, aku juga tidak terlalu paham Bas. Intinya, ya aku bantu-bantu saja di sana. Kadang disuruh mengantarkan berkas, diminta menemui client. Pokoknya apa saja, aku kerjakan Bas," jawabnya berusaha meyakinkan Bastian


"Kamu pikir aku percaya dengan semua ucapan kamu? Orang kantoran mana yang pekerjaannya seperti itu. Apa lagi itu sekelas Oportunity Group," sanggah Bastian


"Ya, lalu aku harus menjelaskan apa lagi sama kamu. Memang pekerjaanku nyatanya seperti itu Bas. Bisa diterima sebagai karyawan saja, sudah bersyukur aku," jawab Amanda memelas. Berharap dengan itu, Bastian mengurungkan niatnya untuk mencari tahu tentang dirinya yang sebenarnya.


Mereka hening sebentar, Bastian tidak lagi bertanya apapun pada istrinya. Sepertinya perkataan Amanda barusan mampu membuat lelaki itu terdiam. Bastian ingat perkataan Ayahnya kala itu, jika Amanda adalah anak yatim piatu.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," ujar Bastian kemudian. Ia sedikit merasa bersalah, karena telah mencurigai istrinya yang tidak-tidak.


"Aku hanya sedikit penasaran saja, tentang pekerjaanmu di sana. Lagi pula, sudah berkali-kali aku katakan, berhenti saja dari pekerjaan itu," imbuhnya lagi

__ADS_1


"Maafkan aku Bas. Aku butuh waktu untuk mengambil keputusan," jawabnya.


Amanda butuh waktu untuk membereskan semua kekacauan yang ia buat. Menjelaskan siapa dirinya pada suaminya. Dan mungkin setelah itu, ia baru bisa berhenti bekerja dan menyerahkan perusahaannya untuk dikelola oleh suaminya. Semuanya butuh waktu, tidak untuk saat ini.


__ADS_2