
Setelah mengatakan demikian Ella beranjak dari tempat duduknya, hendak pergi meninggalkan restoran itu. Namun Def menahannya, membuat Ella sangat geram dengan sikap Def itu.
"Apa lagi, Def. Urusan kita sudah selesai, aku ingin pulang," kata Ella
"Urusan diantara kita belum selesai Ella. Pertemuan kita belum selesai. Kita baru saja menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit,"
"Dan penjelasanmu tidak membuatku puas. Kamu ingin aku menjauh dari hidup Amandakan?" jawab Def
"Apa lagi yang ingin kau ketahui," balas Ella mulai kesal.
"Katakan Ella, bahwa mereka tidak saling mencintaikan?"
"Aku bisa menebak dari pertemuan pertama kami. Tampaknya ada hal yang sedang Amanda tutupi dari suaminya,"
"Apakah perasaanku benar Ella?" pancing Def
"Tanya sajalah sendiri sana pada mereka berdua. Itu bukan urusanku,"
"Memangnya pekerjaanku mengurus rumah tangga orang?"
"Baik mereka saling mencintai atau tidak, itu bukan urusan kamu. Jangan jadi pengacau rumah tangga orang Def. Jangan permalukan diri kamu sendiri!"
.
__ADS_1
.
.
Dengan wajah yang masih menggambarkan kekesalan, Ella berlalu meninggalkan Def, tanpa memberi kesempatan lelaki itu, untuk berbicara. Karena kesalnya, Ella tidak memperhatikan jalannya. Hingga tanpa ia sadari ia menabrak seseorang.
"Aduh! Astaga maaf, maafkan aku, tidak memperhatikan jalanku," ujar Ella meminta maaf, sembari membenarkan rambutnya yang tampak sedikit berantakan.
Seseorang yang barusan ia tabrak tersebut tampak menerka-nerka siapa gerangan wanita di depannya. Lalu tak lama kemudian mata mereka bertemu.
"Billy....?"
"Ella....?"
"Aku baik-baik saja, Ella. Bagaimana denganmu?" tanya Billy kemudian.
"Aku juga baik, Bill," jawab Ella
"Senang bertemu denganmu Bil. Silahkan dilanjutkan urusannya. Sekali lagi aku minta maaf, karena tidak sengaja menabrakmu," ucap Ella tulus, yang kemudian ditanggapi oleh senyum tulus juga dari Billy
"Tidak apa-apa, Ella!"
"Ah, dari tadi kita hanya berdiri saja. Bagaimana jika kita duduk dan mengobrol di sana saja, sambil menikmati beberapa cemilan ringan?" tawar Billy
__ADS_1
"Eeem maaf Billy, hari sudah malam. Aku harus segera pulang. Bagaimana jika lain kali saja?" tolaknya
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu kembali Ella. Hati-hati di jalan,"
Ellapun segera meninggalkan restoran itu, bergegas dengan langkah-langkah lebar menuju parkiran. Entah mengapa sedari tadi, jantungnya terus saja berdetak kencang. Terlebih, ketika ia berpapasan dengan Billy.
Tanpa membuang waktu banyak, ia kemudian mengemudikan mobilnya membelah jalan raya, yang cukup ramai lancar. Hari sudah mulai malam, tampak cahaya matahari, sudah berganti dengan cahaya lampu yang menghiasi jalanan.
.
.
.
Di tempat yang berbeda, tampak Amanda dan Bastian sedang bersiap-siap. Malam ini, mereka hendak pergi ke rumah orang tuanya. Sudah sangat lama, mereka tidak pernah berkunjung ke sana. Terakhir kali, Bastian bertemu dengan orang tuanya, saat ia dan Amanda bertengkar. Itupun tanpa membawa serta istrinya.
Ibunya sudah berkali-kali meminta mereka untuk berkunjung. Sekedar melepas rindu dengan anak dan menantunya.
Kalian sudah cukup lama tidak pernah berkunjung ke rumah, nak. Ayolah, luangkan waktu kalian sedikit saja. Ibu dan Ayah merindukan kalian, Ibu rindu menantu ibu.
Begitulah perkataan Ibu Bastian ketika setiap kali, ia menelepon putra satu-satunya itu. Bastian dan Amanda, bukan tidak mau bertemu mereka. Namun, ada begitu banyak kesibukan yang terus saja membelenggu keduanya.
Maka hari ini, tampak merupakan waktu yang tempat. Ketika pekerjaan kantor keduanya, sedang tidak terlalu banyak. Mengambil keputusan dengan cepat, akhirnya mereka malam ini akan berkunjung ke rumah besar. Menghabiskan waktu bersama dengan orang tua mereka.
__ADS_1