
"Bas, kulkas kita sudah mulai kosong," ujar Amanda disela-sela sarapan yang kesiangan mereka.
Setelah perjuangan panjangnya, akhirnya Amanda berhasil membangunkan lelaki itu. Mengajaknya untuk sarapan, karena jujur Amanda sudah sangat kelaparan.
Bastian mengarahkan pandangannya ke arah kulkas, lalu kemudian menatap istrinya bingung
"Maksud kamu?" tanya Bastian kemudian
"Ia, kulkas kita kosong. Sudah tidak ada bahan makanan lagi. Kalau bahan makanan habis, jatah sarapan dan makan siangmu tidak ada," jelas Amanda
"Eh, bisa begitu? Kalau aku kelaparan lalu aku meninggal bagaimana?" ujar Bastian menanggapi
Amanda menatap suaminya kesal, sementara yang ditatap menanggapi dengan santai sambil tersenyum. Amanda memutar bola matanya jengah.
Awas saja nanti kalau minta di buatkan makanan, aku tidak akan melakukannya. Biar saja dia kelaparan.
"Dasar suami tidak peka," gumam Amanda pada diri sendiri, namun cukup terdengar jelas di telinga Bastian
"Aku yang tidak peka atau kamu yang tidak ingin berterus terang?" tanya Bastian diiringi tawa yang terdengar meledek
Bastian bukannya tidak mengerti apa yang istrinya maksud. Namun, dengan pura-pura tidak peduli, tampaknya akan menjadi lebih seru. Lihat saja, setelah Bastian mengatakan itu, wajah Amanda sungguh sangat tidak bersahabat. Ini sangat menggemaskan.
"Nanti, jangan tanyakan makan siang ataupun makan malam ya. Begitu juga besok dan seterusnya," ucap Amanda judes. Ia kemudian meninggalkan meja makan, menuju wastafel untuk membersihkan piring kotor bekas sarapan
"Hei, jangan marah, aku hanya bercanda Amanda. Lagi pula, kamu bicaranya tidak langsung ke intinya saja tadi," ujar Bastian, sambil melangkah menuju wastefel, menyerahkan piring bekas sarapannya, untuk di bersihkan oleh Amanda
"Memangnya kamu tahu maksud aku apa?" tanya Amanda, masih fokus dengan kegiatannya
__ADS_1
"Kamu mau aku temani berbelanja kan? Mengatakan itu saja, susahnya bukan main. Dasar perempuan," jawab Bastian
Tidak ada respon dari gadis itu
"Ia aku temani kamu belanjanya. Mana mungkin aku biarkan istri aku, membawa barang belanjaan sendiri. Membuat harga diriku sebagai laki-laki jatuh saja," ujarnya lagi
"Tidak jadi lagi. Keinginan berbelanjaku sudah menguap. Siap-siap saja kamu kelaparan mulai nanti siang dan selama-lamanya," jawab Amanda, kemudian pergi meninggalkan suaminya yang menatap heran ke arahnya
"Eh, mana boleh begitu. Aku tidak mau tahu, pokoknya aku akan mengajakmu berbelanja hari ini. Aku tidak ingin kelaparan,"
"Memangnya kamu sudah siap jadi janda, jika aku meninggal karena kelaparan?" ancam Bastian
***
Setelah perdebatan tidak karuan mereka, akhirnya keduanya sudah bersiap untuk pergi berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Di dalam mobil keduanya kembali memperdebatkan, kemana mereka harus berbelanja. Amanda ingin berbelanja di Supermarket A dengan dengan alasan supermarket itu, setiap akhir pekan selalu mengadakan diskon besar-besaran.
Bastian tidak boleh membiarkan itu terjadi. Ia tahu sekali bagaimana sifat perempuan jika pergi berbelanja. Walaupun istrinya itu sederhana, tetapi tetap saja, Amanda adalah perempuan. Sifat keperempuanan pasti meletak padanya.
"Kita ke Supermarket B saja ya. Di sana setiap akhir pekan tidak terlalu ramai pengunjung. Lagi pula perbedaan harga barangnya, tidak terlalu jauh," ujar Bastian menyarankan.
"Kalau di Supermarket A karena banyak diskon pasti ramai pengunjung dan antrian pasti sangat panjang," jelasnya lagi
Akhirnya setelah melewati beberapa pertimbangan keduanya sepakat untuk berbelanja di Supermarket C saja. Disana tidak ada promo diskon, tidak terlalu ramai pengunjung, dan harga barangnya lumayan terjangkau
"Ada yang perlu kita beli lagi, tidak?" tanya Bastian memastikan.
__ADS_1
Kereta belanja mereka tampak sudah dipenuhi oleh berbagai kebutuhan-kebutuhan rumah tangga, yang digunakan keduanya secara bersama-sama. Ada juga barang-barang tertentu, yang menjadi kebutuhan pribadi masing-masing
Amanda memperhatikan kembali catatan yang ada di tangannya. Memastikan semuanya sudah terbeli, dan tidak ada yang terlupa
"Sudah semua, tidak ada lagi. Atau masih ada yang ingin kamu belanjakan?" jawab Amanda, yang diikuti oleh gelengan kepala dari Bastian.
Mereka kemudian menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Benar sekali, di Supermarket C pengunjungannya tidak terlalu banyak. Sehingga mereka tidak perlu menunggu antrian yang cukup panjang.
"Total belanjanya, satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah ya, kak," ujar karyawan itu sopan sambil tersenyum.
Tidak langsung membayar, Amanda menatap Bastian yang ada di belakangnya
"Bas, bayar. Itu jumlahnya yang sudah di sebutkan oleh mbanya," ucap Amanda
"Kita patungankan, kamu bayar setengah aku setengah," balas Bastian
"Eh, dari mana peraturan itu. Uang suami ya uang istri juga. Jadi kamu yang bayar semuanya,"
"Lalu uang istri uang siapa?"
"Uang istri ya uang istrilah Bas, mana mungkin itu uang suami,"
"Itu mbanya sudah menunggu dari tadi Bastian,"
"Maaf ya mba, sudah menunggu lama. Suami saya memang begitu orangnya suka lupa," sambil menyerahkan kartu debit milik Bastian.
Karyawan itu hanya tersenyum, setelah menyaksikan perdebatan tidak berfaedah kedua pasangan suami istri itu.
__ADS_1