SKAKMAT

SKAKMAT
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Maafkan aku, Bas. Sampai sekarang aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu," ucap Amanda tertunduk lesu.


"Maaf, karena tidak bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai istri," ucapnya lagi


Mendengar perkataan istrinya, membuat Bastian merasa tidak tega. Dengan cepat ia meraih tubuh tinggi dan besar istrinya, membawanya ke dalam pelukannya.


"Hei, jangan bicara seperti itu. Ini bukan salah kamu, Manda. Tidak ada yang pantas untuk dipersalahkan," ujarnya menghibur


"Tujuan pernikahan memang untuk memperoleh keturunan. Tetapi bukan berarti kita melakukannya secara tergesa-gesa. Ini bukanlah sebuah perlombaan, tidak ada batasan waktu untuk memperolehnya,"


Tidak ada jawaban dari Amanda. Hanyalah isakan kecil yang perlahan mulai terdengar dengan jelas. Wanita itu menangis, terlihat jelas dengan pundaknya yang mulai bergetar. Membuat Bastian mengeratkan pelukannya, dan mengelus punggung istrinya, mencoba mengalirkan kekuatan.


"Kamu tenang ya, jangan menyalahkan diri kamu. Aku juga minta maaf, tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu," ujarnya lagi.


Bastian teringat pada malam pertama pernikahan mereka. Tepat di dalam kamar yang sedang mereka tempati saat ini. Bagaimana ia memberi kesan buruk pada wanita yang sekarang menjadi istrinya. Ketika belum ada cinta untuk perempuan itu.


"Amanda lihat aku," imbuhnya, lalu meletakan kedua tangannya di wajah istrinya. Menuntun agar perempuan itu, menatap ke arahnya

__ADS_1


"Aku mencintaimu, sungguh! Entah sejak kapan rasa itu ada, aku tidak tahu. Yang aku tahu sekarang adalah aku nyaman berada di dekatmu,"


"Aku tidak ingin melihat wanita yang aku cintai, setelah ibuku menangis! Jangan bersedih lagi, kita lewati semua ini bersama-sama," jelasnya


Meskipun tampak terburu dan tanpa persiapan, namun kini Bastian merasa lega. Karena telah berhasil menyatakan perasaannya pada wanita yang saat ini begitu ia cintai.


"Maaf ya, aku tidak bisa merangkai kalimat-kalimat yang manis untukmu," katanya lagi sambil mengusap pipi Amanda, menghapus cairan bening yang mengalir di wajahnya


Mendengar setiap kata yang diucap Bastian, mampu menghangatkan hati Amanda. Ia tidak pernah menyangka, Bastian akan menyatakan perasaannya padanya. Inilah yang ia tunggu, kepastian untuk hatinya.


Segera Amanda berhambur kembali dalam pelukan suaminya. Ia menangis, namun kali ini, menangis karena terlalu bahagia. Beban yang sempat hinggap di kepalanya, kini lenyaplah sudah. Tergantikan oleh bahagia, yang tiada tara.


"Aku juga mencintaimu, Bastian!" lanjutnya


Kedua orang itu larut dalam suasana bahagia. Menemukan orang yang kita cintai juga mencintai kita adalah hal yang begitu membahagiakan. Tidak ada hal yang lebih indah selain dicintai dan mencintai. Maka malam itu, menjadi malam yang penuh cinta untuk keduanya, setelah sekian lama bersama dalam hubungan tanpa kepastian. Kini tidak ada lagi keraguan di hati masing-masing.


"Aku mencintaimu, Manda,"

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Bastian"


Akhirnya malam ini mereka menghabiskan waktu dengan saling memuja, mendamba, dan menyatakan cinta yang selama ini terpendam. Esok pasti akan lebih baik, karena kini hati tidak lagi sendiri.


.


.


.


"Wah, ada apa ini. Tampaknya aku melewatkan sesuatu," ucap Ella ketika sampai di ruang kerja Amanda.


Kali ini Amanda tampak tidak seperti biasanya. Wajahnya tampak berseri seperti hatinya, yang sedang bahagia. Bukan hanya Ella, seluruh karyawan Oportunity Group yang bertemu dengannya juga terheran-heran dengan perubahan atasan mereka.


"Hei, ada apa? Ceritakan padaku, jangan ada rahasia diantara kita,"


Amanda tidak menjawab, hanya menanggapinya sambil tersenyum, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Dunia tidak perlu tahu, betapa kau mencintainya. Cukup kamu dan dia saja


__ADS_2