
Bastian sedang duduk di sofa ruang tamu, sambil memainkan ponselnya. Tampak Amanda dari dalam kamarnya mengenakan setelan kantorannya. Ia terlihat begitu rapi dan cantik. Ia tidak peduli dengan tatapan suaminya yang sedari tadi memperhatikan dirinya
"Mau kemana kamu. Pergi seenaknya tanpa pamit. Ingat ya aku ini suami kamu!" teriak Bastian
"Hah suami? Kau baik-baik saja kan. Kau sedang tidak sakit kan? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing" ucap Amanda menyeringai
"Tapi aku ini suami kamu, kamu tanggung jawab aku sepenuhnya. Lihat penampilan kamu, kamu mau menggoda laki-laki di luar sana? Benar-benar murahan," Bastian benar-benar emosi. Ia menatap istrinya tajam
"Bukan urusanmu, saya mau menggoda siapupun itu bukan urusanmu. Kau jangan melebihi batas. Ingat kita tidak saling kenal, kita orang asing," timpal Amanda tidak mau kalah. Ia kemudian meninggalkan suaminya.
"Sekali kau keluar dari rumah ini, jangan harap kau bisa kembali. Berani kau beranjak dari situ.....," belum selesai Bastian berteriak, Amanda sudah berlalu pergi dari apartemen mereka.
Berani sekali dia. Tidak ada takut-takutnya sama sekali. Pergi kemana dia? Arrrkkkhhh kenapa juga aku peduli pada wanita itu. Tidak tidak, ia bukan siapa-siapamu Bas. Dia hanya perempuan bayaran, yang rela menikahimu demi uang, ucap Bastian meyakinkan dirinya
***
Di depan ruang kerja pemilik Oportunity Group, tampak seorang pria tampan mengenakan setelah jas berwarna hitam sedang menunggu seseorang. Billy Praharja adalah pemilik perusahaan Senada Group, yang akan bekerja sama dengan Oportunity Group dalam rangka pembangunan apartemen elit di kota X.
Entah apa gerangan laki-laki itu datang tanpa di undang ke perusahaan milik Amanda itu, dengan alasan membahas kerjasama yang tertunda bulan lalu. Saat ia melihat Amanda dari jauh, ia langsung berdiri menunduk memberi hormat. Dengan tatapan dingin, Amanda sama sekali tidak peduli dengan pria itu. Ia terus melangkah menuju ruang kerjanya, dengan di ikuti Ella dan Billy Praharja.
__ADS_1
Hening, tidak ada yang mau memulai berbicara. Amanda tidak pernah memuli pembicaraan setiap kali bertemu dengan orang. Ia bahkan tidak pernah peduli, jika ia harus menghabiskan waktu dengan diam lalu pergi meninggalkan orang yang ia temui tanpa bicara.
Kondisi yang terjadi antara dirinya dengan Billy tidak membuatnya terganggu. Ia bahkan membuka laptopnya, dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum di selesaikan Ella.
Menyadari keberadaan dirinya, Billy perlahan memulai pembicaraan.
"Maafkan saya Nona Amanda, telah mengganggu waktu anda dengan kedatangan saya yang secara tiba-tiba," ucap Billy memulai pembicaraan.
Amanda masih tidak menanggapi, ia terus fokus dengan laptopnya.
"Saya datang kesini, membahas kerjasama perusahaan kita. Saya bermasuk ingin mempercepat pembangunan itu. Lebih cepat lebih baik, bukan?"
Ia memperhatikan Amanda, yang sedari tadi tidak memperdulikan dirinya. Ia menghembuskan napasnya kasar, hendak berbicara lagi
"Baiklah, jika itu yang kau mau, maka lakukanlah Tuan Billy, saya mempercayakan semuanya pada anda," timpal Amanda
"Terimakasih Nona atas kepercayaan anda. Saya akan melakukannya sebaik mungkin. Kalau begitu satu minggu lagi pembangunannya akan di mulai," Ucap Billy tersenyum
"Hm, lakukanlah yang terbaik, semampu yang kau bisa," ucap Amanda lagi
__ADS_1
Sudah tidak ada lagi yang hendak mereka bicarakan, namun Billy belum berniat meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya Billy tertarik pada Amanda, ia jatuh hati pada pesona gadis itu, ketika mereka secara tidak sengaja bertemu di sebuah acara perusahaan. Namun Amanda tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang pernah ia temui. Selain untuk urusan pekerjaan, Billy sengaja mendatangi kantor Amanda, supaya ia bisa lebih dekat dengan wanita itu.
Namun tampaknya Amanda sulit untuk dijangkau oleh Billy. Wanita itu terlalu menjaga jarak dengan orang di sekitarnya. Yang Billy bisa lakukan adalah mendekatkan diri secara perlahan. Menjadi teman sepertinya tidak terlalu buruk.
"Eem, Amanda bisakah kita bicara non formal saja? Umur kita tidak terlalu jauh. Jadi sepertinya lebih menyenangkan jika kita berbicara seperti teman," ucap Billy ragu
Amanda memandangi Billy lekat, mencerna apa yang barusan lelaki itu katakan. Berbicara secara nonformal? Berbicara seperti teman? Baiklah sepertinya itu tidak terlalu buruk. Billy tampak seumuran dengannya, berteman dengan Billy bukan suatu masalah
"Baiklah Billy, kau temanku, juga rekan bisnisku," ucap Amanda sedikit tersenyum.
" Terimakasih Amanda. Emm bagaimana kalau kita makan siang bersama. Sebagai ucapan terimakasih juga sebagai perayaan pertemanan kita," tawar Billy penuh harap.
Semoga Amanda mengiyakan tawarannya
"Maaf Billy, sepertinya kali ini aku tidak bisa. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lain kali saja bagaimana," ucap Amanda tidak enak
"Aaah, baiklah. Tidak masalah, sebagai temanmu itu bukanlah masalah besar," imbuh Billy, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Amanda.
"Kalau begitu, Amanda aku pergi. Terimakasih atas waktunya," ucap Billy lalu pergi meninggalkan ruangan itu
__ADS_1