SKAKMAT

SKAKMAT
Kisah Lain Part I


__ADS_3

"Total belanja saya semuanya jadi berapa, mba?" tanya Regini pada kasir salah satu supermarket


"Semuanya jadi lima ratus enam puluh ribu, kak," jawab kasir itu dengan ramah


Regina meraih dompet yang ia letakan di dalam tas selempangnya. Berharap ia mempunyai uang yang cukup untuk membayar belanjaannya. Cukup lama ia membolak balik dompet tersebut. Ternyata ia tidak mempunyai banyak uang, bahkan untuk membayar belanjaannya saja kurang.


"Eem maaf mba, ternyata uang saya tidak cukup untuk membayar semuanya. Saya cancel saja beberapa barang ini," ujar Regina kemudian


"Oh iya tidak apa-apa. Mau cancel barang yang mana saja?"


Sebenarnya Regina sangat membutuhkan barang-barang itu. Keperluan untuk dirinya dan juga anaknya. Namun apa daya, karena saat ini ia sedang kekurangan uang, ia harus mengesampingankan kebutuhannya. Anak lebih penting dari apapun. Karena hanya itulah satu-satunya yang ia punya.


"Tunggu, mba! Barang-barang itu tidak usah di-cancel, biar saya saja nanti yang membayar sisanya," cegah seorang laki-laki yang dari tadi berdiri di belakang Regina. Lelaki itu tampak sedang menunggu antrian juga.


"Oh astaga, aku sampai tidak menyadari jika banyak yang sedang mengantri di belakangku,"

__ADS_1


"Terimakasih atas kebaikan hati Anda. Tetapi saya tidak ingin merepotkan Anda. Lagi pula, saya tidak terlalu membutuhkannya," ujar Regina menatap lelaki di belakangnya.


"Saya minta maaf, karena telah membuat Anda menunggu terlalu lama," lanjutnya lagi.


Namun lelaki itu sepertinya tidak peduli dengan penolakan Regina. Bahkan sekarang ia sudah berada tepat di dekat kasir. Membayar barang belanjaannya, dan juga seluruh belanjaan Regina tadi.


"Oh yaampun, saya benar-benar minta maaf karena telah merepotkan anda,"


"Terimakasih atas semua kebaikain ini. Saya sungguh berhutang budi pada anda, Tuan," ucap Regina


"Tidak apa-apa, sudah sewajarkan kita sesama manusia saling tolong menolong," ujar lelaki itu


Regina tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, bibirnya terasa kelu dan kaku. Ribuan terimakasih ia lantunkan di dalam hatinya. Berdoa semoga kebaikan selalu menyertai lelaki tadi.


Bila terkaannya tidak salah, lelaki itu sepertinya berumur sekitar lima puluhan tahun. Sudah tidak mudah lagi, terlihat dari kulitnya yang perlahan mulai keriput. Maka dari itu, ia juga memanjatkan doa, agar orang tua itu, diberi umur panjang oleh Tuhan.

__ADS_1


.


.


.


Regina meninggalkan supermarket tadi sambil menenteng barang belanjaannya. Melangkah cepat-cepat, agar ia tidak sampai ketinggalan angkutan umum yang nanti akan mengantarkannya menuju tempat tinggalnya. Namun tanpa ia sadari, sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


Tidak peduli dengan sekitarnya, Regina terus berjalan, hingga ia menemukan bus kota yang sedang menunggu penumpang. Lelaki tadi juga turut naik ke dalam bus tersebut, tak lama setelah Regina naik. Mengambil posisi tidak jauh dari tempat Regina duduk.Mungkin tujuannya agar ia tidak sampai kehilangan jejak targetnya.


Setelah beberapa saat, Reginipun turun dari bus tersebut. Berjalan lagi, menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakan kecil tempat ia dan anaknya tinggal.


Ketika ia hendak membuka pintu rumahnya, tampak suara seseorang mengagetkannya. Suara itu terdengar tidak asing di telinganya. Iapun berbalik menatap ke sumber suara.


"Def,----------"

__ADS_1


"Hallo Regina, apa kabar? Apa kau merindukanku?"


^^^


__ADS_2