
Setelah perdebatan sengit antara suaminya dan Regina berakhir, Amanda kembali masuk ke kamarnya. Rasa haus yang tadi menggerigoti tenggorokannya seakan menguap begitu saja. Pikirannya melayang jauh, pada kisah kelabu yang pernah menyelimutinya tiga tahun yang lalu.
Seolah sebuah rahasia secara tidak langsung tersingkapkan malam itu. Kini ia mengerti alasan takdir membuatnya terluka, membuat hatinya patah. Yaitu agar ia tidak menyerahkan hatinya untuk orang yang salah.
Walaupun ia tidak yakin, Bastian adalah orang yang tepat untuknya, namun Amanda kini telah memastikan hatinya. Ia sudah siap untuk membuka hati pada lelaki yang telah menjadi suaminya. Ia juga berhak bahagia, dan ia berjanji akan berjuang untuk kebahagiaan itu.
Lelah dengan pikirannya, akhirnya ia terlelap. Tenggelam dalam mimpi indah yang tidak ia mengerti.
***
Keesokan harinya seperti biasa, Amanda memasak dan menyiapkan sarapan untuknya dan Bastian. Ia sama sekali tidak melihat Regina disana.
Saat Amanda tengah menata makanan di meja makan, Bastian tampak keluar dari pintu, menuju ke arahnya.
"Bastian, kemarilah aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ujar Amanda sambil tersenyum
"Terimakasih Manda," ujarnya
__ADS_1
"Kau tahu aku sangat meridukan masakanmu. Kau pergi terlalu lama," jawab Bastian dengan wajah cemberut
Walaupun Amanda dibuat gemas dengan tingkah suaminya, namun ia memilih untuk tidak menanggapi lelaki itu. Ia memilih untuk fokus pada sarapannya saja.
"Oh iya Bas, Regina dimana ya. Dari tadi tidak kelihatan, apa dia masih tidur ya?" tanya Amanda pura-pura tidak tahu
"Aku sudah mengusirnya," jawab Bastian singkat. Tampak sekali jika lelaki itu, tidak ingin membahas perihal Regina.
Amanda menatap mata suaminya, seolah meminta penjelasan. Hal itu tentu di sadari oleh Bastian. Dengan berat hati, ia menceritakan semuanya. Menceritakan bagaimana perdebatan ia dan Regina tadi malam, yang sebenarnya telah di ketahui oleh istrinya.
"Walaupun sebelumnya aku mengenalnya, tetapi sekarang semua telah berbeda. Kita sudah menikah, aku tidak ingin ada orang lain yang mengacaukan rumah tangga kita," ujarnya lagi
Amanda masih diam, tidak ingin mengatakan apa-apa. Ia membiarkan suaminya, menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Amanda, sepertinya kita masih harus terus menyembunyikan status pernikahan kita. Aku takut Regina akan melakukan sesuatu yang buruk padamu jika ia tahu kamulah istriku,"
"Aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalahku, apa lagi jika itu sampai membuatmu terluka,"
__ADS_1
"Kemanapun kamu pergi, selalu kabari aku," ucap Bastian
Tampak jelas rasa khawatir, tergambar di wajah lelaki itu. Memikirkan keselamatan istrinya, dan rumah tangganya.
"Atau, lebih baik kamu tidak usah bekerja lagi. Aku sanggup menafkahimu Amanda. Kamu berdiam diri di sini saja, tidak usah kemana-mana,"
"Astaga Bas kamu terlalu berlebihan. Tenang saja, aku bisa menjaga diriku. Selama Regina tidak mengetahui semuanya, maka hal buruk itu, tidak akan terjadi Bas,"
Amanda sangat yakin, Regina tidak akan bisa menyakiti dirinya. Jangan lupa, Amanda adalah orang yang cukup berpengaruh di negeri ini. Dengan orang-orang kompeten yang ia miliki, itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga dirinya, dari orang-orang jahat.
Regina hanyalah masalah kecil, yang akan dengan mudah ia selesaikan. Namun selama wanita itu tidak mengusiknya, maka selama itu, ia tidak akan pernah berurusan dengan wanita itu.
"Tapi Manda,----"
"Bas, percaya sama aku. Apapun yang akan terjadi, kita akan melewatinya bersama-sama,"
"Sekuat apapun kekuatan dari luar untuk menghancurkan kita, jika kita bekerja sama dan saling percaya. Maka tidak ada satupun yang bisa menghancurkan kita," ujar Amanda mencoba meyakinkan suaminya
__ADS_1