
"Sejak kapan uang aku jadi uang kamu?" tanya Bastian ketika mereka sudah berada di dalam mobil, meninggalkan supermarket tempat mereka berbelanja.
Ternyata diam dan mengalahnya Bastian, bukan berarti perkara sudah selesai. Ia tidak akan berhenti berbicara, selama ia belum mendapatkan alasan yang bisa membuat ia terdiam. Lucu memang, namun begitulah dirinya. Jangan tanya mengapa ia berubah menjadi seperti itu. Semua ini karena Amanda istrinya. Perempuan itu, senang sekali mengaja suaminya untuk berdebat.
"Memangnya kenapa, ada yang salah?" ucap Amanda balik bertanya
"Iyalah, jelas itu sebuah kesalahan. Kita berdua sama-sama sudah bekerja, dan punya penghasilan sendiri. Lagi pula, bukankah waktu itu, kamu pernah berkata, aku tidak usah menafkahimu," jelasnya
Flashback ke masa lalu dia ternyata. Masa dimana mereka baru saja menikah, lalu membuat sebuah perjanjian yang bersifat kekanak-kanakan. Perjanjian itu sama sekali tidak tertulis, yang tentunya tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali.
"Kamu lupa ya, aku setiap hari menyiapkan makanan untuk kamu. Baik sarapan, menyiapkan makan siang kamu, dan juga makan malam,"
"Dan lagi, yang selalu membersihkan rumah kan aku. Jadi tidak ada yang salah jika kamu yang membayar semuanya,"
Pembicaraan kini sudah mulai kemana-mana. Bukan lagi mengenai perjanjian, tetapi mengenai tanggung jawab mereka di dalam rumah, yang seharusnya tidak penting untuk dipertanyakan
__ADS_1
"Itukan memang tugas istri. Memasak, membersihkan rumah, dan melayani suami adalah tanggung jawab perempuan setelah menikah," jawab Bastian tidak mau kalah
"Nah, itu kamu tahu jika semua itu adalah tanggunggung jawab aku. Lalu tanggung jawab kamu sebagai suami apa. Tentu tidak lain dan tidak bukan adalah menafkahi istri," balas Amanda
"Itulah mengapa uang suami adalah uang istri. Harusnya semua pendapatan kamu, aku yang mengelolanya," ucap Amanda
Bastian tersenyum senang mendengar perkataan istrinya. Tampaknya hubungan mereka, mengalami begitu banyak kemajuan. Tidak ada lagi keheningan yang menguasai mereka, kala sedang berdua. Baik saat sedang makan bersama, maupun saat sedang bepergian seperti ini. Tidak masalah jika mereka selalu membahas hal yang tidak penting. Bukankah dengan begitu, mereka bisa saling mengenal dan memahami karakter masing-masing.
"Jadi, sekarang aku sudah boleh bertanggung jawab menafkahi kamu. Perjanjian kita waktu itu bagaimana?" ujar Bastian yang tampaknya ia masih belum berniat menyudahi perdebatan itu
"Kitakan sudah berjanji untuk memulai semuanya dengan benar. Melakukan tanggung jawab kita masing-masing dengan baik. Dan kamu sendiri juga yang mengusulkan ide itu," balas Amanda
Bastian menatap istrinya sebentar lalu kemudian kembali fokus pada jalan raya. Jika Amanda sudah mulai menyalahkannya, lebih baik ia diam. Kata orang wanita akan selalu benar, jadi tidak akan ada alasan yang tepat untuknya membela diri.
"Kenapa kamu diam, aku salah bicara ya?" tanya Amanda, setelah beberapa menit terdiam, menunggu tanggapan Bastian.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya kehabisan kata-kata saja," ucap Bastian
"Manda, bagaimana jika kamu tidak usah bekerja lagi," ujarnya kemudian
"Maksud kamu?"
"Iya, kamu jadi ibu rumah tangga saja. Mengurus rumah, menguruh aku dan mungkin nanti mengurus anak-anak kita. Aku siap menafkahi kamu lahir dan batin. Lagi pula perempuan yang sudah menikah, tidak diharuskan untuk bekerja," jelas Bastian
"Itu tidak mungkin Bastian, aku harus terus bekerja. Karena bekerja adalah separuh hidup aku," ujar Amanda
"Lalu aku sebagai suami kamu, separuh apa? Lagi pula untuk apa kamu bekerja lagi,"
Amanda tidak tahu harus seperti apa ia menanggapi perkataan suaminya. Ia paham betul bahwa jika sudah menikah, ia sudah memiliki tanggungjawab lain, selain dirinya sendiri. Wanita yang sudah menikah, akan menjadi tanggungjawab suaminya.
Namun cerita hidupnya berbeda. Ia tidak bisa melepas Oportunity Group yang sudah ia bangun dengan susah payah. Lagi pula, siapa yang mengelola perusahaan itu jika bukan dirinya. Sangat tidak masuk akal, jika seorang pemimpin, dan pemilik perusahaan ternama itu mengundurkan diri, dan menyerahkannya pada orang lain.
__ADS_1
"Maafkan aku, tetapi sungguh aku belum siap untuk melakukan itu Bastian. Mungkin tidak untuk saat ini," jawab Amanda
"Bukan masalah kamu siap atau tidaknya Amanda, tetapi kamu mau atau tidak. Jika kamu tidak mau, maka selamanya kamu tidak akan pernah siap,"