SKAKMAT

SKAKMAT
Harapan Orang Tua


__ADS_3

"Amanda, Bastian, kalian kan sudah lama menikah, sudah hampir setahun. Ibu ingin sekali mendapatkan cucu dari kalian," kata Ibu ketika mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Ibu dan Ayah sudah tidak muda lagi. Mungkin menghabiskan waktu dengan anak kecil, dengan cucu-cucu Ibu adalah hal yang paling menyenangkan, diusia kami yang mulai menua ini," lanjutnya.


Kali ini, wanita paru baya itu berbicara begitu serius kepada anak dan menantunya. Tidak biasanya beliau berbicara secara frontal dan terang-terangan seperti sekarang ini. Bahkan jauh sebelumnya, Ibu tidak pernah membahas tentang masalah satu ini.


Ibu Bastian memang tampak sudah tidak muda lagi. Terlihat jelas dari kulit wajah dan tangannya yang sudah mulai keriput. Ditambah dengan beberapa rambut putih yang kini menghiasi kepalanya.


Merupakan hal yang wajar diusianya seperti sekarang berbicara seperti itu. Anak dan menantunya sudah menikah cukup lama, dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda jika mereka akan segera memiliki momongan.


"Ibu jangan berbicara seperti itu, tidak baik!" sanggah Ayah Ardy


"Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada Bastian dan Amanda. Mungkin belum waktunya untuk Tuhan menitipkan keturanan untuk mereka," lanjutnya.


Sebenarnya kalau boleh jujur, Ayah Ardy juga sudah lama mengharapkan cucu dari putra satu-satunya itu. Namun mengingat hubungan Amanda dan Bastian yang masih abu-abu, dengan terpaksa ia mengubur jauh-jauh harapan itu.

__ADS_1


"Tetapi mau sampai kapan, Ayah,"


Dua manusia yang sedang dibicarakan itu masih bungkam. Keduanya tidak ada yang menanggapi ucapan Ibu. Masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing.


Selama mereka menikah, tidak pernah terbesit di pikiran keduanya untuk memiliki anak. Jangankan anak, keduanya saja belum pernah mengutarakan perasaan masing-masing. Entah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau karena hal lainnya.


"Bas, mengapa kalian diam saja?" tanya Ibu, yang sontak membuyarkan lamunan keduanya


"Eeeemm, i-iya, Bu! Ini aku dan Amanda juga sedang berusaha," jawab Bastian sedapatnya.


"Mungkin masih belum rezeki, Bu. Tetapi Ibu dan Ayah tenang saja, kami sekarang sedang mencoba program kehamilan. Ia kan Manda," lanjutnya sambil melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, agar lebih meyakinkan.


Mendengar penuturan dari anak dan menantunya tersebut, Ibu tampak begitu senang. Terlihat dari sorot matanya yang berbinar bahagia.


"Oh yaampun! Ibu senang sekali mendengarnya, nak," ucapnya

__ADS_1


"Bastian jaga istrimu ya, jangan sampai terjadi apa-apa padanya,"


"Amanda juga, jangan sampai kelelahan. Kalau perlu tidak usah bekerja di luar rumah lagi. Agar kalian bisa secepatnya dapat momongan," tutur Ibu lagi memberi nasihat kepada keduanya


.


.


.


Malam sudah semakin larut, jam kini sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun sepertinya kedua suami istri itu, belum juga terlelap.


"Bas, bagaimana menurutmu dengan yang Ibu bicarakan tadi?" ucap Amanda akhirnya, setelah lelah dengan pikirannya sendiri


"Hm, aku juga bingung, Manda. Semuanya terasa begitu cepat, dan memang sudah waktunya untuk Ibu berkata demikian," jawabnya

__ADS_1


"Tetapi, aku juga tidak bisa memaksakan semuanya padamu," sambungnya


Amanda mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya. Ia sadar betul, bahwa setiap pernikahan yang sudah dibentuk, tujuannya adalah untuk memiliki keturunan. Namun, jangan lupakan satu hal, apapun itu tidak mungkin terjadi tanpa cinta di dalamnya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Bastian padanya. Dan mungkin begitu sebaliknya.


__ADS_2